Motif Berafiliasi Melalui Gaya Hidup Metroseksual

Hubungan Antara Motif Berafiliasi Dengan Gaya Hidup Metroseksual
Motif berafiliasi yang berupa kebutuhan untuk memperoleh hubungan timbal balik dengan orang lain merupakan salah satu hal yang cukup mendasar dalam menentukan seseorang untuk bergabung dengan kelompok. Dengan bergabung ke dalam kelompok, seseorang akan lebih banyak berinteraksi dan saling menerima diantara sesamanya.
Organisasi atau kelompok yang dibentuk masyarakat sebagian besar disebabkan adanya kesamaan dalam hal latar belakang, pengalaman, maupun pandangan anggota-anggotanya. Berdasarkan teori pembandingan sosial menekankan bahwa keinginan individu untuk berafiliasi terjadi karena ingin membandingkan perasaan yang dimilikinya dengan kelompok yang diikutinya. Motif afiliasi individu timbul karena adanya kesamaan antara yang dimilikinya dengan orang lain atau kelompok.
Festinger (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa kehadiran orang yang sama akan memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengadakan evaluasi terhadap perasaan, keyakinan dan ketrampilan. Scahcter (dalam Yanto, 1983) mengemukakan bahwa seseorang mungkin bergabung dengan suatu kelompok karena dia mempunyai tujuan pribadi yang hanya dapat dicapai melalui afiliasi dengan orang lain atau kelompok, aktivitas-aktivitas yang dilakukan kelompok akan bisa mempengaruhi anggotanya.
Motif afiliasi yang kuat pada komunitas pria metroseksual yang menjadi subjek penelitian ini terlihat mereka cenderung bergabung dalam kelompok, berhubungan dengan anggota kelompok lainnya, siap menerima anggota kelompok, cenderung mempunyai suasana hati yang lebih baik dalam berinteraksi dengan orang lain, maupun perhatian yang besar terhadap orang lain.
Berdasarkan pengamatan peneliti, kelompok mereka mempunyai hubungan pribadi yang cukup kuat dan dalam, setia terhadap anggota yang lainnya dan hubungan komunikasi yang meluas sifatnya. Adanya sifat hubungan yang meluas menimbulkan berkurangnya kendala yang menghambat pola interaksi yang sudah ada. Situasi yang demikian menimbulkan motif afiliasi yang tinggi bagi anggota-anggota kelompoknya.
Usia dapat mempengaruhi keinginan individu untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya. Orang dewasa mampu mengendalikan perasaan pribadinya dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain, sehingga ia tidak mementingkan dirinya sendiri tapi mementingkan pula perasaan orang lain. Menurut Mappiare (dalam Nur, 1996) pada usia 24-27 tahun kebanyakan pria muda mulai mengambil bagian dalam aktivitas sosial secara luas,sedangkan pada usia 30 tahun (baik pria maupun wanita) telah mencapai penyesuaian terhadap beragai perubahan dan memantapkan diri dalam berbagai aktivitas-aktivitas sosial.
Banyak pria setengah baya yang memiliki banyak uang yang dapat disumbangkan dalam berbagai organisasi sehingga hal ini smakin memperluas kesempatan mereka untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang merupakan wujud minat mereka dan hal itu memungkinkan untuk maksud-maksud tertentu. Misalnya mereka bergabung dengan kelompok sebagai ajang mengobrol, ajang bertukar pendapat, membangun networking dan relasi, menyalurkan hobi dan emosi.
Salah satu ciri pria metroseksual adalah gemar sharing dengan teman-teman komunitasnya. Mereka membicarakan tentang film apa yang layak untuk ditonton di malam minggu, merek baju apa yang pantas dipakai, suplemen apa yang paling efektif untuk membesarkan otot ketika fitness, semua ini dibicarakan pria metroseksual dalam komunitasnya. Dalam suatu komunitas biasanya terbentuk suatu hubungan atau relasi yang sifatnya jangka panjang, akibat dari hal ini adalah anggota komunitas juga biasanya mengenal pribadi satu sama lain secara lebih baik dan lebih dekat. Kalau sudah saling mengenal seperti itu tidak dapat disangkal lagi mereka akan saling percaya. Kepercayaan inilah yang mendasari terbentuknya komunitas metroseksual. Anggota suatu komunitas pada umumnya mempercayai apa yang dikemukakan oleh anggota komunitas lainnya.
Salah satu responden mengungkapkan bahwa selama ini banyak hal yang ia ketahui bedasarkan rekomendasi teman dalam komunitas yang melibatkan dirinya. Ada beberapa perkumpulan yang ia ikuti selain perkumpulan gereja, mulai dari perkumpulan teman-teman seprofesi sampai ke perkumpulan yang mempunyai hobi yang sama. Secara rutin, subjek tetap mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh komunitasnya tersebut. Diantaranya adalah klub memancing, klub itu mengadakan pertemuan setiap bulan, jika sudah bertemu maka obrolannya tidak hanya seputar peralatan pancing tapi berkembang ke tempat-tempat hang out, fesyen, sampai rumah. Subjek percaya pada semua yang direkomendasikan teman-temannya.
Rekomendasi itu ia jadikan refrensi dalam memilih suatu produk atau informasi mengenai tempat-tempat yang mengasikkan. Subjek mencontohkan bahwa salon yang menjadi langganannya sekarang merupakan rekomendasi dari seorang teman di klub profesinya. Temannya mempromosikan bahwa salon tersebut memberikan pelayanan yang nyaman dan ekslusif dengan tenaga profesional, subjek pada awalnya hanya coba-coba saja untuk membuktikan ucapan temannya itu dan ternyata memang betul, sekarang subjek menjadi pelanggan bersama-sama teman yang mempromosikan salon tersebut.
Hal ini sangat berdampak bagi para pemasar. Komunitas dianggap penting untuk memasarkan produk mereka. Berita dari mulut ke mulut di kalangan konsumen umumnya dan pria metroseksual khususnya memang semakin berkembang. Saat ini, begitu banyak tawaran atau produk yang “menggiurkan” kaum metroseksual. Adanya perdagangan bebas juga membuat merk-merk asing semakin menjamur dan pilihan tentu semakin banyak. Hal ini menyebabkan informasi yang kaum metroseksual dengar, lihat, baca, semakin banyak pula. Semakin banyak informasi ini juga terkadang membuat mereka bingung.
Semakin mereka bingung, mereka akan lebih senang mendengarkan, meminta rekomendasi dari teman atau komunitas mereka. Kaum metroseksual akan lebih percaya pada informasi yang diberikan oleh teman atau komunitas mereka. Mereka merasa yakin bahwa teman atau komunitas akan memberikan rekomendasi yang terbaik. Sebagai konsumen suatu produk, mereka sering menerima opini dari orang lain sewaktu memberikan bukti-bukti yang dapat dipercaya dan dibutuhkan mengenai realitas. Suatu contoh yang paling nyata adalah ketika sulit menilai karakter merek atau produk melalui observasi, mereka kemudian akan merasa pemakaian atau rekomendasi dari orang lain adalah hal yang bijaksana dan abstrak (Engel, 1994)
Lebih lanjut, apabila dilihat dari atribut yang melekat pada gaya hidup mereka, pria metroseksual akan memasuki suatu kelompok yang anggotanya memiliki banyak kesamaan, misalnya pada kelompok eksekutif yang didalamnya gaya hidup anggotanya disimbolkan dengan pakaian, sepatu, parfum, aksesori laki-laki dan sebagainya.

Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap

3 Tanggapan

  1. saya minta sofc copy dari bab 1 sampai bab akhir

  2. boleh saya minta soft copynya mas? trimaaksih banyak

  3. Boleh minta softcopy nya.thanks

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: