Motivasi Penggunaan obat Generik Pasien RSU Yogyakarta

Perbedaan Motivasi Penggunaan Obat Generik Ditinjau Dari Status Sosial Ekonomi Pada Pasien Rsu Pku Muhammadiyah Yogyakarta
Hasil analisa data dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pada motivasi penggunaan obat generik yang ditinjau dari status sosial ekonomi. Hal ini berarti bahwa tinggi, sedang dan rendahnya tingkat status sosial ekonomi tidak mempengaruhi motivasi seseorang dalam menggunakan obat generik.
Tidak terbuktinya hipotesis penelitian ini dapat dijelaskan karena berkaitan dengan masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang kwalitas obat generik itu sendiri, sehingga tidak jarang obat generik dianggap sebagai obat murahan. Faktor belajar sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Orang yang sudah terbiasa menggunakan satu merk obat tertentu dan mengerti kandungan yang ada dalam obat, maka orang tersebut akan percaya dan cenderung untuk mengkonsumsi kembali apabila ia sedang sakit.
Pada setiap penelitian tidak lepas dari yang namanya kelemahan dan kelemahan itu akan selalu ada. Kelemahan yang pertama pada penelitian kali ini yaitu karena tempat penelitian adalah rumah sakit swasta yang jelas pula adanya kerjasama untuk menggunakan obat-obat dari produsen swata. Kelemahan kedua yaitu karena subjek adalah pasien rawat inap. Arti dari rawat inap disini yaitu menjalani perawatan kesembuhan dengan menginap dirumah sakit karena sakit yang parah. Untuk penyakit yang parah, pihak keluarga pasien tidak segan-segan untuk mengeluarkan biaya yang besar asalkan dapat segera sembuh sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas adanya motivasi pada pasien untuk menggunakan obat generik.
Agar dapat terlihat tinggi rendahnya motivasi maka peneliti seharusnya menyamakan jenis penyakitnya terlebih dahulu, sehingga dapat terlihat perbedaan motivasinya terhadap obat generik. Biaya untuk berobat pada satu rumah sakit swasta tidak cukup hanya dangan uang yang pas-pasan. Dengan fasilitas yang serba lengkap, pasien diharuskan mengeluarkan biaya yang terkadang jauh melebihi biaya hidup sehari-hari. Biaya yang cukup besar ternyata menyulitkan bagi orang yang tergolong pada tingkat status sosial ekonomi rendah, sehingga mereka cenderung memilih untuk berobat ke puskesmas atau menjalani rawat jalan untuk menghindari pembengkakan biaya.
Tidak adanya perbedaan motivasi ini menunjukkan bahwa status sosial ekonomi tidak mempunyai pengaruh dalam pengambilan keputusan untuk membeli obat generik. Penggunaan obat patent lebih dipilih oleh pasien dan keluarga pasien karena kualitasnya yang telah diketahui baik dan harga obat tidak menjadi masalah dalam proses penyembuhan. Pasien dan keluarga pasien cenderung memilih obat generik untuk penyembuhan penyakit ringan.
Tinggi rendahnya status sosial ekonomi seseorang yang dipengaruhi oleh pendidikan fomal, penghasilan, lingkungan tempat tinggal, keanggotaan, aktifitas ekonomi dan rekreasi sangat berpengaruh dalam hal pengambilan keputusan, terutama tingkat pendidikan formal seseorang. Pengetahuan seseorang disebabkan oleh tingginya tingkat pendidikan dan adanya proses kognitif dan belajar.
Tercapainya atau tidaknya satu tujuan tertentu, manusia perlu belajar dan berfikir agar tujuan (goal) dapat tercapai seperti yang diharapkan. Persepsi merupakan proses awal pemenuhan kebutuhan yang mempengaruhi motivasi sehingga menjadi driving state. Penawaran produk obat generik melalui media massa belum dirasa cukup untuk mensosialisasikan obat generik pada masyarakat sehingga menyebabkan seseorang tersebut harus mencari sendiri informasi tentang obat generik. Setelah orang tersebut mendapatkan informasi dan mengerti, maka akan terbentuk satu persepsi baru tentang obat generik (proses kognitif).
Apabila satu persepsi telah ada dalam ingatan, maka seseorang tersebut akan memiliki kecenderungan untuk mencoba. Disaat orang tersebut puas, akan timbul asosiasi bahwa obat generik mempunyai kwalitas yang sama dengan obat paten sebagai hasil dari proses belajar. Berdasarkan hasil kategorisasi dapat terlihat bahwa ada motivasi dengan tingkatan sedang untuk menggunakan obat generik.
Tingkat pendidikan yang semakin tinggi, membuat seseorang berlaku kritis dan mampu melihat pemakaian obat secara rasional. Menurut WHO, pemakaian obat dikatakan rasional jika memenuhi kriteria: a) Sesuai dengan indikasi penyakit; b) Tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau; c) Diberikan dengan dosis yang tepat; d) Cara pemberian dengan interval waktu yang tepat; e) Lama pemberian yang tepat; f) Obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu yang terjamin, dan aman. Untuk mencapai pengobatan yang rasional, ada beberapa persyaratan harus dipenuhi, antara lain: a) Ketepatan diagnosis; b) Ketepatan indikasi pemakaian obat; c) Ketepatan pemilihan obat; d) Ketepatan dosis, cara dan lama pemberian obat. Aspek lain yang perlu diperhatikan oleh dokter (dan apoteker) adalah ketepatan penilaian terhadap kondisi pasien, ketepatan pemberian informasi, dan ketepatan dalam tindak lanjut.
Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: