Tingkat Kepercayaan Diri, Kontrol Diri, Tanggung Jawab Dan Motivasi Berprestasi Remaja Pengguna Napza

Perbedaan Tingkat Kepercayaan Diri, Kontrol Diri, Tanggung Jawab, Dan Motivasi Berprestasi Antara Remaja Pengguna Napza Dan Bukan Pengguna Napza
Berdasarkan hasil analisis statistik yang dilakukan, dapat diketahui bahwa ada perbedaan tingkat kepercayaan diri yang signifikan antara pengguna napza dan bukan pengguna napza, dimana tingkat kepercayaan diri pengguna napza lebih rendah dibanding bukan pengguna napza. Sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diabaikan.
Smart and Smart (1978) menjelaskan bentuk hubungan orang tua-anak mempunyai arti bagi pendirian identitas seseorang. Serta keinginannya untuk mengungguli. Remaja dihadapkan dengan masalah mempercayai dirinya sendiri, kemampuan dan potensinya, dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kemampuannya untuk memainkan peran dalam kehidupan yang ingin dimainkannya. Kepercayaan yang ditunjukkan oleh orang tua memperlihatkan bahwa orang tuanya yakin bahwa remaja tersebut bisa menyelesaikan kewajibannya.
Sehingga diharapkan keluarga khususnya orang tua dapat membangun ikatan yang nyaman kepada anak. Dimana orang tua semakin memberikan kebebasan menentukan sendiri kepada anak dengan tidak menghalangi adanya interaksi kooperatif yang memungkinkan anak untuk mengkomunikasikan permasalahan sehari-hari yang dihadapinya.
Dari hubungan yang nyaman inilah remaja belajar dan berlatih untuk membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak dengan percaya diri serta bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya. Dengan demikian remaja akan melepaskan diri dari ketergantungannya kepada hal-hal diluar dirinya dalam banyak hal termasuk untuk menentukan sendiri hal-hal positif atau negatif yang akan dijalaninya.
Akan tetapi, Walgito (2000) mengemukakan bahwa orang yang mempunyai kepercayaan diri melakukan sesuatu kegiatan tanpa bertanya kepada orang lain apakah yang dikerjakannya itu perlu atau tidak, apakah yang dikerjakannya itu benar atau tidak, ia akan melakukan kegiatan tersebut. Kalau seseorang mempanyai keyakinan bahwa apa yang dikerjakan itu benar sesuai dengan apa yang ada di dalam dirinya, maka hal tersebut akan dikerjakannya tanpa meminta pertimbangan dari orang lain. Orang yang mempunyai kepercayaan diri tidak memerlukan orang lain sebagai standar. Sehingga tidak mengherankan jika pengguna napza dan bukan pengguna napza memiliki tingkat kepercayaan diri yang tidak jauh berbeda dengan bukan pengguna napza.
Berdasarkan hasil analisis statistik yang dilakukan, dapat diketahui bahwa ada perbedaan kontrol diri yang signifikan antara pengguna napza dan bukan pengguna napza, dimana kontrol diri pengguna napza lebih rendah dibanding bukan pengguna napza. Sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.
Remaja mempunyai kebutuhan yang besar untuk dapat diterima oleh lingkungannya. Hal ini menyebabkan remaja seringkali berusaha sekuat tenaga untuk dapat diterima oleh kelompoknya. Apabila kelompok yang dipilih kebetulan adalah kelompok pengguna napza sementara remaja tersebut mempunyai kontrol diri yang lemah untuk menentukan hal-hal yang baik dan tidak baik bagi dirinya, maka remaja tersebut akan mengikuti keadaan ini bila ingin diterima dalam kelompok tersebut.
Disamping itu, dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status kedewasaan, yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan (Hurlock, 2000).
Sementara remaja bukan pengguna napza mempunyai kemampuan untuk berpikir, bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri secara konstruktif dengan norma-norma yang berlaku dilingkungannya.
Berdasarkan hasil analisis statistik yang dilakukan, dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan tanggung jawab antara pengguna napza dan bukan pengguna napza. Sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diabaikan.
Smart and Smart (1978) menjelaskan bahwa pekerjaan yang penting dan banyak menuntut lebih disukai oleh remaja untuk membangkitkan usaha atau karya yang bertanggung jawab dan lebih memuaskan dibandingkan dengan tugas rutin. Upah bekerja diluar rumah cenderung memberikan perasaan tanggung jawab yang lebih baik dibandingkan dengan bekerja untuk keluarganya, walaupun dengan bentuk pekerjaan yang sama.
Jadi dapat disimpulkan bahwa remaja pengguna napza bukan berarti mempunyai tanggung jawab yang rendah. Melainkan tidak menyukai tanggung jawab yang dibebankan kepadanya saat itu misalnya tanggung jawab yang dituntut oleh sekolahnya, teman-teman ataupun komunitas bekerja dan bermain. Ketidaksukaannya itu kemudian dinilai oleh lingkungannya sebagai ketidakmampuan. Hal inilah yang mengakibatkan remaja pengguna napza berusaha mencari kompensasi dengan menggunakan napza.
Lie dan Hum (2004) menyatakan memegang tanggung jawab pada sesuatu atau seseorang berarti dapat mempertanggung jawabkan tindakan. Pengguna napza pada dasarnya mengetahui akibat-akibat yang akan ditimbulkan dari napza yang dikonsumsi oleh mereka dan mempunyai keyakinan bahwa mereka bisa bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada diri mereka.
Berdasarkan hasil analisis statistik yang dilakukan, dapat diketahui bahwa ada perbedaan motivasi berprestasi yang signifikan antara pengguna napza dan bukan pengguna napza, dimana motivasi berprestasi pengguna napza lebih rendah dibanding bukan pengguna napza. Sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.
Menurut Vroom ( Purwanto, 2000 ) motivasi mengacu pada suatu proses mempengaruhi pilihan-pilihan individu terhadap bermacam-macam bentuk kegiatan. Motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang yang menyangkut persoalan mengapa dan apa tujuan seseorang melakukan suatu kegiatan.
Smart and Smart (1978) menjelaskan dua hal yang penting untuk mencapai motivasi berprestasi yang tinggi adalah tuntutan untuk berprestasi dan kesempatan untuk bekerja secara bebas, serta kesempatan untuk membuat keputusan.
  Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap  

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: