Perilaku Asertif Mahasiswa Suku Jawa Sumatera dab Kalimantan

Perbedaan Tingkat Perilaku Asertif Pada Mahasiswa Yang Bersuku Jawa, Sumatera Dan Kalimantan
Berdasarkan hasil analisis, nilai F=2,848 ; p=0,065 (p>0,05) menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada tingkat perilaku asertif antara mahasiswa yang berbeda suku yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada perbedaan tingkat perilaku asertif antara kelompok mahasiswa yang berbeda suku tersebut ditolak.
Berdasarkan hasil pada ketegori skor perilaku asertif menunjukkan jumlah individu yang memiliki tingkat perilaku asertif tinggi berjumlah 11 orang, tingkat perilaku sedang berjumlah 54 orang, dan yang memiliki tingkat perilaku rendah 6 orang maka dapat disimpulkan bahwa tingkat perilaku asertif cenderung mengarah kepada tingkat tingkat sedang ke tinggi.
Paul de Blot (2002) berpendapat bahwa di beberapa lingkungan kebudayaan, ada larangan bagi kaum lelaki untuk menunjukkan perasaan sedih dan menangis di hadapan umum. Wanita dapat ditabukan oleh adat untuk menunjukkan perasaan kemesraan kepada laki-laki. Ada pula larangan adat bahwa lelaki tidak pantas memuji wanita di hadapan umum. Membudayanya perilaku tersebutlah yang membuat seseorang berperilaku asertif akan merasa tidak enak.
Hardjowirogo (1983) berpendapat ketertutupan serba rapat yang semula terdapat di dalam hubungan sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi keterbukaan yang tidak ingin ditutup-tutupi lebih lama. Pergeseran ini dijumpai di semua kebudayaan tradisional di seluruh dunia. Dimana golongan tua merasa tidak bahagia dengan adanya pergeseran itu dan mengidealkan zaman muda mereka sendiri sewaktu nilai-nilai tradisional masih dihormati dan dijunjung tinggi, golongan muda sebaliknya merasa senang bahwa gaya kehidupan terdapat pergeseran nilai dari hari ke hari sesuai dengan gaya dan selera kehidupan mereka. Bila suatu ketika mereka sudah memiliki keberanian cukup besar untuk tidak menghiraukan apa yang terjadi sekeliling mereka.
Menurut Hardjowirogo (1983) perkembangan kejiwaan di dalam masyarakat Jawa dewasa ini sudah sedemikian majunya sehingga masyarakat Jawa sekarang boleh dikatakan bebas dari rasa takut berbuat di dalam masyarakat oleh karena umumnya sudah bisa sampai pada anggapan, bahwa setiap perbuatan mereaka baik atau buruk selalu menjadi pembicaraan orang. Akhirnya masyarakat pun tidak seberapa takut berlebihan lagi seperti dulu.
Hardjowirogo (1983) berpendapat bahwa di dalam masyarakat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, setiap orang dari suku mana pun seperti juga seorang masyarakat Jawa suatu waktu berdasarkan dasar, pembawaannya dan ajaran, pendidikannya bisa berbuat sesuai denga tata hidup masyarakat dan harus berani mengahadapi pendapat umum dan tidak memperdulikan apa kata orang lain tentang dirinya. Sesuatu yang hingga kini sedikit banyak masih mengukung masyarakat Jawa. Namun masyarakat Jawa kini sudah berubah dari masyarakat yang suka bersemu untuk menjadi masyarakat yang suka berterus terang.
Hardjowirogo (1983) berpendapat bahwa generasi muda Jawa kini lebih berani sudah secara terang-terangan menyampaikan keinginan, bahkan juga melakukan penolakan. Suatu perubahan yang patut dicatat oleh karena menampakkan bahwa masyarakat Jawa dalam bentuk sewajarnya sebagai manusia biasa dengan segala sifat baik serta buruknya. Tidaklah lagi sebagai manusia dengan akhlak bikinan yang diperoleh melalui pengendalian diri agar corak-corak watak yang kurang baik jangan sampai tampil keluar sehingga diketahui masyarakat umum. Sesuatu yang bisa mengurangi citra di mata umum yang begitu gemar menilai manusia dari segi keluharan budinya.
Hardjowirogo (1983) berpendapat bahwa kehidupan tradisional masyarakat Jawa berkembang untuk menjadi modern dengan gaya-gaya berekspresinya secara terang-terangan atau blak-blakan, memaksa masyarakat Jawa untuk menanggalkan selubung semu yang menyelimuti agar bisa menampakkan dirinya dalam citra yang di idealkan masyarakat Jawa. Namun dalam kenyataannya selubung semu itu membuat kehidupan tidak terlalu menyenangkan dikarenakan harus menjaga agar perilaku sewajarnya, dan jangan sampai perilaku buruknya diketahui orang lain.
Pergeseran yang kini berlangsung di dalam kehidupan masyarakat Jawa yang lambat tapi pastinya akan melepaskkan kegemarannya berpenampilan secara semu untuk lebih mengutamakan kebahagian tanpa perlu memikirkan aspek-aspek kehidupan tidak nyata yang begitu dijunjung tinggi serta dihormati di dalam kehidupan tradisional, namun lebih banyak merumitkan.
Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap   
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: