Hubungan Harga Diri Dengan Prasangka Etnis Dayak-Madura

Hubungan Antara Harga Diri Dengan Prasangka Etnis Pada Etnis Dayak Pasca Konflik Dayak-Madura Di Sampit


Prasangka merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan, yang berlainan dengan golongan orang yang berprasangka itu (Gerungan, 2004).    
Prasangka etnis Dayak pasca konflik Dayak-Madura terbentuk akibat yang ditimbulkan oleh konflik etnis tersebut. Seseorang akan belajar dari pengalaman hidupnya begitu pula yang terjadi pada etnis Dayak setelah mengalami konflik yang cukup berat dalam kehidupan sosialnya. Konflik tersebut mempengaruhi kognitif, sikap dan perilaku etnis Dayak terhadap kelompok etnis lain.
Seseorang yang berprasangka pada suatu kelompok (out-group) cenderung mengevaluasi anggota-anggota kelompok sosial tersebut dia akan mengkritik nilai-nilai dan perilaku yang diterapkan dalam kelompok sosial tersebut karena tidak sesuai dengan nilai yang dianut kelompoknya (in-group). Perasaan in-group sering menimbulkan “in-group bias” yaitu kecenderungan untuk menganggap bahwa kelompoknya lebih baik dari pada kelompok lain (out-group). In-group bias ini pada titik tertentu akan memunculkan pandangan etnosentrisme, etnis yang satu merasa hebat, unggul, berhak daripada etnis lain (Hidayah, 2002).
Keberhasilan dan kesuksesan warga Madura di Sampit dapat dianggap sebagai sesuatu yang mengancam keberlangsungan dan masa depan etnis Dayak. Nagian mengakui bahwa etnis Dayak adalah penduduk asli Kalimantan yang selama ini tersisihkan dari sisi ekonomi, pemerintahan dan politik. Hutan-hutan mereka dihabisi, mereka tidak diberi peran tetapi mereka tidak bereaksi. (Surata & Andrianto, 2001). Meskipun hal itu terjadi selama puluhan tahun, namun ketika warga Madura meneriakkan ingin menjadikan kota Sampit sebagai kota Sampang kedua warga Dayak tidak lagi diam tetapi bereaksi keras dalam menghadapi hal tersebut.
Isu bahwa kota Sampit akan menjadi kota Sampang kedua dipandang warga Dayak sebagai suatu ancaman yang sangat membahayakan habitatnya sehingga harus melakukan ngayau tersebut, menurut Sears dkk (1994) bahwa bila dua kelompok bersaing memperebutkan sumber langka atau rasa aman mereka akan saling mengancam. Hal ini menimbulkan permusuhan diantara mereka dan dengan demikian menciptakan penilaian negatif yang bersifat timbal balik, jadi prasangka merupakan konsekwensi dari konflik nyata yang tidak dapat dielakkan.
Kekerasan dilakukan warga Dayak akibat merasa terancam harga dirinya karena merasa daerahnya akan dikuasai warga Madura. Menurut Baron & Byrne (2004) dianggap sebagai hal yang dapat meningkatkan kembali harga diri warga Dayak yang terancam tersebut. Ketika seseorang dengan prasangka dan harga diri yang terancam melakukan penyerangan pada saat itu harga diri orang tersebut dalam keadaan harga diri yang rendah. Individu akan lebih cemas dan mudah marah sehingga individu menjadi lebih terbuka dalam mengekspresikan kemarahannya.
 Seorang individu yang merasa harga dirinya terancam akan melakukan penyerangan. Hal itu terjadi pada individu yang harga dirinya rendah karena seseorang yang harga dirinya rendah cenderung cemas, mudah berpikir negatif  dan lebih mengekspresikan kemarahannya secara terbuka sehingga penyerangan yang dilakukan disebabkan individu merasa cemas ketika dirinya menghadapi masalah dan berpikir negatif  bahwa orang lain akan menghambat dirinya.
            Sedangkan pada individu yang harga dirinya positif tidak akan mudah mengekspresikan kemarahannya ketika harga dirinya terancam karena individu dengan harga diri yang positif tidak mudah cemas terhadap keselamatan hidupnya dan lebih berani menghadapi resiko sehingga inidividu menjadi lebih obyektif dalam mengahadapi masalah-masalah serta cenderung berpikir positif terhadap orang lain sehingga tidak mudah berprasangka negatif terhadap orang lain.
Menurut Baron & Byrne (2004) hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika self esteem mereka terancam, individu dengan prasangka akan menyerang kelompok yang tidak mereka sukai. Hal ini membantu untuk meningkatkan atau mengembalikan self esteem mereka.
Lebih lanjut Baron & Byrne (2004) menjelaskan bahwa ketika individu dengan pandangan prasangka memandang rendah sebuah kelompok yang dipandangnya negatif, hal ini membuat mereka yakin akan harga diri mereka sendiri untuk merasa superior dengan berbagai cara.
            Fenomena itu dapat dilihat pada saat konflik etnis di Sampit tahun 2001 ketika warga Madura akan menjadikan kota Sampit sebagai kota Sampang kedua. Warga Dayak yang merasa keberadaan dirinya sebagai penduduk asli terancam dan harga dirinya digoyahkan merasa hal tersebut harus segera diselesaikan dengan cara melakukan penyerangan terhadap warga Madura yaitu dengan melakukan ngayau (potong kepala) yang sebenarnya sudah dilarang sejak tahun 1894. Hal tersebut menunjukkan bahwa warga Dayak dengan harga diri rendah menjadi cemas akan keselamatan hidupnya ketika mengetahui daerahnya ingin dikuasai oleh warga Madura dan berpikir negatif (berprasangka negatif) bahwa semua warga Madura menginginkan kota Sampit menjadi  kota Sampang kedua. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: