Intensitas Berorganisasi Berhubungan Dengan Kemasakan Sosial Aktivis Mahasiswa

Hubungan Antara Intensitas Berorganisasi Dengan Kemasakan Sosial Pada Mahasiswa Aktivis


Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan kehadiran orang lain dan berinteraksi dengan orang lain. Karena hanya dalam lingkungan sosiallah seseorang akan bisa mengaktualisasikan diri dan potensinya.
Kemasakan sosial seseorang tidak terbentuk begitu saja tapi dibentuk dari berbagai aspek, anrtara lain bagaimana perkembangan interaksinya dan bagaimana kemampuannya dalam menjalin hubungan interpersonal yang berhasil dan mandiri. Doll (Firin dkk, 1994), menyatakan bahwa kemasakan sosial merupakan kinerja yang menunjukkan perkwmbangan kemampuan dalam memelihara diri snidri dan kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas yang mendukung tercapainya kemandirian sebagai seorang deswasa kelak.
Kemasakan sosial merupakan syarat utama bagi penerimaan sosial pada masa kanak-kanak dan remaja. Kemasakan sosial identik dengan kesiapan seseorang berkaitan dengan ketrampilan sosialnya. Penerimaan diri seseorang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan kemapuannya dalam menjalin hubungan interpersonal. Hal ini yang menjunjung keterlibatan seseorang dengan lingkungan sosialnya, adalah dukungan emosi.
Kemasakan sosial didukung oleh usaha seseorang untuk memiliki kesiapan agar dapat terjun dalam kehidupan sosialnya (Doll dalam Firin dkk, 1994). Termasuk di dalamnya memiliki ketrampilan dan mampu mengembangkan diri. Pengembangan diri dalam berinteraksi dengan orang lain dapat dilakukan dengan bersikap terbuka (Self-disclosure). De Vito (Darwati, 2003) mengemukakan bahwa sikap terbuka (Self-disclosure) dapat membantu seseorang untuk memperbaiki efektivitas komunikasinya dengan orang lain.
Kemasakan sosial yang salah satunya ditunjukkan dengan berkembangnya kemampuan untuk memelihara diri sendiri, dapat dikatakan sesuai dengan sikap asertif. Asertif dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempertahankan hak pribadi dan mengungkapkan perasaan dengan jujur dan tegas serta bertindak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan tanpa mengabaikan hak-hak orang lain.
Dari pengalaman-pengalaman mahasiswa dalam mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan dengan orang lain, para mahasiswa mampu menjalin kerja sama, saling percaya dan dapat diterima dalam kelompoknya (Nisfiannoor, 2002).
Dalam mengikuti aktivitas berorganisasi kemahasiswaan, sistem kerja sama secara jelas diatur siapa menjalankan apa, siapa bertanggungjawab atas siapa, arus komunikasi, dan memfokuskan sumber daya pada tujuan (Fattah, 2004).
Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi (Fattah, 2004).
Fisher (Darwati, 2003) mengungkapkan bahwa konflik dapat memberikan pandangan kepada pihak yang berkonflik bahwa, konflik itu sendiri dapat membuat masing-masing melihat kesamaan sekaligus perbedaan yang lebih akurat dan membangun pemahaman yang lebih lengkap.
Mappiare (Darwati, 2003) mengungkapkan bahwa, kebutuhan remaja untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya memerlukan beberapa kesiapan seperti seorang remaja perlu memiliki sikap, perasaan dan ketrampilan dalam berperilaku yang dapat menunjang penerimaan kelompok teman sebayanya, agar tidak terjadi penolakan yang berakibat pada kekecewaan pada diri remaja.
Perubahan kondisi yang dialami remaja disebabkan oleh tekanan sosial dan tuntutan untuk siap dalam menghadapi kondisi baru. Perubahan kondisi tersebut bagi sebagian besar remaja mengakibatkan ketidakstabilan diri dari waktu ke waktu. Dengan demikian seorang remaja perlu meningkatkan kesiapan secara sosialnya agar tidak mengalami tekanan yang berlebihan.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa jika seorang mahasiswa sering terlibat dalam suatu organisasi, maka kemasakan sosialnya akan lebih terasah. Artinya jika seseorang dalam mengikuti satu organisasi walaupun organisasi yang ia ikuti hanya satu macam tetapi sangat aktif di dalam organisasi tersebut, maka ia akan lebih mengasah kemasakan sosialnya daripada seseorang yang mengikuti berbagai macam kegiatan organisasi tetapi ia tidak aktif sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: