Hubungan Intensitas Menonton Sinetron Dengan Gaya Hidup Hedonis

Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Sinetron Drama Remaja Dengan Gaya Hidup Hedonis Pada Remaja


Menurut Innis (1951), media mempengaruhi bentuk–bentuk organisasi sosial, setiap media memiliki kecenderungan untuk memihak ruang atau waktu. Teori psikologi yang dapat menjelaskan efek prososial media massa adalah teori belajar dari Bandura. Menurut Bandura, kita belajar bukan saja dari pengalaman langsung, tetapi dari peniruan atau peneladanan (modeling). Perilaku merupakan hasil faktor  kognitif dan lingkungan. Jadi dengan seberapa besar atau seringnya individu melihat tayangan sinetron, akan terjadi proses peniruan atau peneladanan (modeling). Bandura menjelaskan proses belajar sosial dalam empat tahapan proses-proses perhatian, proses pengingatan (retention), proses produksi, dan proses motivasional.
Menurut Bandura, peristiwa yang menarik perhatian berulang–ulang ialah yang tampak menonjol dan sederhana, terjadi berulang-ulang atau menimbulkan perasaan positif pada pengamatnya (artinya memuaskan kebutuhan psikologisnya). Pakaian “haute Coutre” yang disiarkan berulang–ulang kali dalam media, dipakai oleh orang–orang gedean, dan dapat meningkatkan status peniruan ia akan mendapat perhatian yang besar. Pendapat ini sesuai dengan teori peniruan (modelling theories), teori ini memandang  manusia sebagai mahluk yang mengembangkan kemampuan afektifnya. Di sini, individu dipandang secara otomatis cenderung berempati dengan perasaan orang-orang yang diamatinya dan meniru perilakunya. Kita membandingkan perilaku kita dengan orang yang kita amati, yang berfungsi sebagai model.
Komunikasi massa menampilkan berbagai model untuk ditiru khalayaknya. Media cetak mungkin menyajikan pikiran dan gagasan yang lebih jelas dan lebih mudah dimengerti daripada yang dikemukakan oleh orang-orang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Media piktoral seperti televisi , film, komik secara dramtis mempertontonkan perilaku fisik yang mudah ditiru dan dicontoh. Melalui televisi, orang meniru perilaku idola mereka khususnya disini adalah para remaja yang mengidolakan aktris maupun aktor di sinetron (Rakhmat,  2003).
Media massa memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap gaya hidup hedonis remaja. Pendapat ini di perkuat dengan sebuah teori yang menyatakan bahwa tayanagan televisi ibarat peluru. Abrar (1996) dalam tulisannya mengenai “ Tv dan nilai hidup pemirsanya ” menyatakan bahwa dalam ilmu komunukasi dikenakan teori peluru. Teori ini menunjukan bahwa tayangan yang dipancarluaskan  melalui stasiun televisi bagaikan peluru yang ditembakan seakan-akan para audensi terkena dan terkapar. Sehingga mempengaruhi para audiensi baik cara berpikir maupun cara berperilaku. Pendapat ini sesuai dengan social cognitive theorists yang mendemonstrasikan bahwa imitasi dan identifikasi adalah product dari tiga proses. Yang pertama observational learning. Obesver bisa belajar perilaku baru dengan mudah dengan melihat perilaku tersebut ditampilkan. Contohnya banyak dari kita yang tidak pernah menembakan senjata a tapi bisa melakukannya karena kita pernah melihat sebelumnya. Yang kedua Inhibitory effects. Melihat model, karakter film, untuk contoh di media kita melihat orang Samaritan yang baik dituntut karena berusaha untuk menolong orang lain, dan itu mengurangi keinginan kita untuk menolong di situasi yang sama. Perilaku tersebut dihambat dengan apa yang kita lihat. Yang terakhir adalah Disinhibitory effects. Perilaku yang orang tidak akan atau lakukan, perilaku tersebut dihambat, sekarang menjadi seperti umtuk mengobati. Perilaku tersebut dihilangkan untuk sementara waktu. (Stanley. JB, 2004).
Semakin sering intensitas menonton terhadap suatu tayangan maka tayangan tersebut mampu merubah opini seseorang . opini tersebut dapat merubah gaya hidup seseorang khususnya remaja. Jika sesorang melihat suatu tayangan maka seseorang juga mengamati, dalam arti lain seseorang akan mendapat pembelajaran yang akan mempengaruhi perilaku dan gaya hidup nantinya, mengingat gaya hidup merupakan proses pembelajaran sebelumnya (Engel, dkk, 1992). Sinetron drama remaja di televisi sering menampilkan kehidupan remaja yang glamour penuh dengan hura-hura, yang sering jauh dari kenyataan yang ada, yang nantinya mempengaruhi remaja.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: