Kecerdasan Emosi Ibu Berhubungan Dengan Keberfungsian Keluarga

Hubungan Antara Keberfungsian Keluarga Dengan Kecerdasan Emosional Ibu

Tak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah salah satu bagian terpenting sepanjang hidup seseorang, sebab keluarga adalah lingkungan sosial pertama nilai dan norma diinternalisasikan pada diri seseorang (Sarwono, 1994). Nilai dan norma yang diinternalisasi dari hubungan dengan anggota keluarga inilah yang kemudian menjadi landasan sikap individu terhadap kehidupan secara umum (Hurlock, 1993). Berbagai hal yang ditemuinya dalam hidup akan coba dikomparasi, disaring ataupun diserap berdasarkan landasan awal ini.
Menurut pandangan family systems theory, apapun yang terjadi terhadap  seorang anggota keluarga akan mempunyai implikasi pada anggota keluarga yang lainnya. Anggota keluarga saling berhubungan dan berjalan layaknya sebuah kelompok, dimana kelompok tersebut disebut sebagai sistem keluarga (Olson dan DeFrain, 2003). Hal ini mengisyaratkan bahwa ketika terjadi sesuatu di dalam keluarga, maka suka maupun tidak, hal tersebut akan memberikan pengaruh terhadap semua anggota keluarga yang ada di dalamnya.
Berkaitan dengan uraian di atas, maka berfungsi atau tidaknya sebuah keluarga tentu saja akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang. termasuk pada kecerdasan emosi. Keluarga yang berfungsi dengan baik, dimana antar anggota keluarga mampu menjalankan perannya masing-masing, maka hal ini akan mendorong anggota keluarga memiliki kesadaran diri yang tinggi, kemandirian, empati, tanggung jawab sosial, sikap fleksibel dan optimisme.  Sebaliknya keluarga yang tidak berfungsi dengan baik yaitu antara anggota keluarga terjadi perselisihan, tidak ada pembagian tanggung jawab, saling ketergantungan.
Keberfungsian keluarga dapat dijalankan seorang ibu dengan baik apabila fantor-faktor yang mendukung seperti fisik ibu, kondisi lingkungan, dan pengalaman mendukungnya. Lingkungan yang bisa menerima kehadiran individu dan individu mudah diterima pada lingkungan tersebut akan membuat individu mengalami kestabilan dalam emosi. Melalui pengalaman individu bisa mengetahui bagaimana anggapan orang lain tentang berbagai bentuk ungkapan emosi.
Keberfungsian keluarga yang menurut The McMaster Model of Family Functioning diartikan sebagai suatu keadaan dalam keluarga dimana setiap unit dari keluarga mampu menjalankan dengan baik tugas-tugas dasar dalam kehidupan keseharian di keluarga yang berkaitan dengan pemecahan masalah, komunikasi, peran, respon afektif, keterlibatan afektif dan kontrol perilaku (Loutzenhiser, 2001), akan menciptakan iklim yang harmonis dan hubungan yang akrab dalam keluarga, sehingga akan membentuk kecerdasan dalam kehidupan sosial.
Menurut Mappiare (Rifkha, 2004), salah satu faktor yang mendukung ibu rumah tangga memiliki kecerdasan emosi adalah kemampuan ibu dalam menjalankan fungsi keluarga secara baik atau dapat mengekspresikan keluarga secara fungsional.
Ekspresi dari keluarga fungsional ini dapat tersampaikan lewat kasih sayang dan perhatian tulus, keterbukaan, rasa menghargai antar anggota keluarga, kepedulian yang tinggi, pola komunikasi yang sehat serta adanya dukungan emosional dengan kadar yang proposional. Adanya nilai-nilai yang dihasilkan dari kehidupan keluarga yang kondusif inilah yang diterima, diserap untuk kemudian dihayatinya secara mendalam oleh anggota keluarga.
Keluarga yang fungsional menunjukkan bahwa di dalamnya ada keterlibatan semua unit keluarga dalam berbagai aspek kegiatan keluarga, misalnya dalam proses pengambilan keputusan, memecahkan masalah serta pembagian tugas dan tanggungjawab secara proposional.
D. Peran Ibu dalam Keluarga
Peran ibu sebagai istri dan pendidik yang dilaksanakan secara bersamaan adalah tugas yang tidak ringan. Tingkat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat memberi pengaruh terhadap kesempatan yang diberikan pada ibu untuk melaksanakan perannya secara aktual.
Seorang ibu dalam menjalankan perannya mempunyai adil besar terhadap kerberfungsian keluarga dalam rumah tangga. Rifkha (2004) mendefinisikan ibu rumah tangga adalah seorang istri yang kegiatannya hanya melakukan tugas rumah tangga saja. Ibu menurut pandangan psikoanalitik adalah passive, nurturant dan unagresive, sehingga peran ibu adalah mengasuh dan membesarkan anak, memberi dukungan bagi anggota keluarga juga tugas alami sebagai istri.
Berdasarkan surat nikah secara bersama istri/ibu bersama suami mempunyai kewajiban atau peran: menegakkan rumah tangga, harus mempunyai tempat kediaman yang tetap, saling mencintai, menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin. Saling memelihara kepercayaan dan tidak saling membuka rahasia pribadi. Sabar dan rela atas kekurangan dan kelemahan masing-masing. Selalu bermusyawarah untuk kepentingan bersama. Memelihara dan mendidik anak penuh tanggung jawab. Menghromati orang tua dan keluarga kedua belah pihak. Menjaga hubungan baik bertetangga dan bermasyarakat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: