ILMU PSIKOLOGI INDONESIA

h1 a:hover {background-color:#888;color:#fff ! important;} div#emailbody table#itemcontentlist tr td div ul { list-style-type:square; padding-left:1em; } div#emailbody table#itemcontentlist tr td div blockquote { padding-left:6px; border-left: 6px solid #dadada; margin-left:1em; } div#emailbody table#itemcontentlist tr td div li { margin-bottom:1em; margin-left:1em; } table#itemcontentlist tr td a:link, table#itemcontentlist tr td a:visited, table#itemcontentlist tr td a:active, ul#summarylist li a { color:#000099; font-weight:bold; text-decoration:none; } img {border:none;}

ILMU PSIKOLOGI INDONESIA


Ilmuwan Amerika menyalahkan Darwinisme

Posted: 16 Feb 2010 11:55 PM PST

Tiap tanggl 12 Februari selalu diperingati hari  ulang tahun Darwin tetapi sekaligus perayaan kekeliruan teori evolusinya.

Kali ini bukan dari cendekiawan pendukung penciptaan, bukan pula ilmuwan terkemuka pembela perancangan cerdas. Mereka ini tetap teguh meyakini evolusi, dan ilmuan materialis. Namun mereka tidak mau tunduk pada tokoh yang nyaris dituhankan, Charles Darwin, dan menghadiahkan bantahan ilmiah berupa buku yang mendobrak darwinisme di bulan Februari 2010 ini. Mereka adalah para ilmuwan Amerika Serikat (AS), yakni profesor filsafat Jerry Alan Fodor asal Rutgers University dan profesor ilmu kognitif Massimo Piattelli-Palmarini dari the University of Arizona.

darwin-salahDi bulan perayaan ulang tahun sang bapak teori evolusi, Charles Darwin, tepatnya 12 Februari, kedua ilmuwan itu meluncurkan sebuah buku berjudul “What Darwin Got Wrong” (Apa Kekeliruan Darwin). Sang penulis yakin bahwa pola penyesuaian diri atau model adaptasi ala Darwin sama sekali cacat. Dengan kata lain teori yang mengajarkan adanya mutasi genetis acak pada makhluk hidup, yang kemudian tersaring melalui seleksi alamiah, dan menghasilkan sifat-sifat yang menguntungkan dalam hal kemampuan bertahan hidup dalam lingkungan tertentu adalah salah kaprah.

Meski bukan dalam rangka menolak teori evolusi sama sekali, bahkan membenarkannya, karya kedua penulis itu setidaknya termasuk yang jujur mengenai kekeliruan-kekeliruan teori evolusinya Charles Darwin. Hal ini ditegaskan Stuart Newman, profesor sel biologi dan anatomi di New York Medical College, ketika mengulas buku itu:

“Evolusi memerlukan sebuah teori yang meyakinkan jika perjuangannya agar diterima masyarakat hendak dimenangkan. Karya berani Jerry Fodor dan Massimo Piattelli-Palmarini, What Darwin Got Wrong, secara meyakinkan memperlihatkan bahwa seleksi alam bukanlah teori itu. Dengan menggunakan literatur ilmiah yang merambah cakupan molekuler, perilaku dan kognitif, dengan penjelajahan yang piawai memasuki biologi perkembangan-evolusi dan fisika sistem rumit, penulis melakukan pembongkaran filosofis terhadap model baku perubahan evolusi yang cenderung tak dapat dikembalikan lagi. Landasan berpijak mereka yang jelas dalam hal kebenaran fakta evolusi menjadikan karya ini berjasa bagi ilmu pengetahuan dan sebuah kemunduran bagi para penentangnya.”

Itulah sebuah ulasan apa adanya dari kacamata ilmuwan yang terkungkung teori evolusi. Namun jika ditilik dari sisi lain, dari sudut pandang di luar tempurung dogma evolusi, sungguhlah menarik untuk tidak menelan mentah-mentah begitu saja pernyataan Stuart Newman di atas. Sebab bagaimana mungkin “evolusi dinyatakan sebagai fakta kebenaran” tapi di saat yang sama diakui bahwa “evolusi masih belum memiliki teori meyakinkan” untuk menjelaskan proses perubahan pada makhluk hidup, hingga saat ini? Bagaimana mungkin mengamini bahwa “seleksi alam bukanlah teori” yang mendorong terjadinya evolusi, tapi pada saat yang sama menyatakan “itu adalah sebuah kemunduran bagi penentang evolusi”?

Namun hal di atas tidaklah aneh bagi mereka yang mencermati sejarah teori evolusi, yang menelaah bagaimana beragam kekeliruan, pemalsuan, kebohongan dan kecurangan yang dilakukan atas nama teori evolusi, kemudian dibuktikan keliru oleh kalangan evolusionis itu sendiri. Akan tampak bahwa seringkali ilmuwan evolusionis mengakui bahwa teori ini dan itu memang keliru, fosil ini dan itu palsu, serta penjelasan ini dan itu salah. Tapi untuk mengakui bahwa teori evolusi salah sama sekali, sungguh sulit, mengingat teori ini sudah menjadi dogma asas tunggal yang melekat kuat pada diri mereka dan harus dibenarkan terlebih dahulu. Bukti dicari belakangan.

Kalau bukti-bukti itu diketahui salah kaprah di kemudian hari, maka silat lidah alias permainan kata-kata menjadi jurus pamungkasnya demi menjaga tegaknya evolusi: “mata rantainya masih hilang dan belum ketemu”, atau seperti ulasan mengenai buku di atas “Evolusi memerlukan sebuah teori yang meyakinkan jika perjuangannya agar diterima masyarakat hendak dimenangkan…”

Apa artinya?  Jelas bahwa evolusi bahkan bukan lagi sebuah teori, tapi dogma yang kehilangan teori untuk menjelaskannya. Teori seleksi alam ala Darwin sudah diambrukkan oleh evolusionis sendiri. Menariknya lagi, dogma evolusi ini (tanpa embel-embel “teori” lagi) tetap dipertahankan sembari mencari-cari teori penjelasannya dengan tujuan “agar diterima masyarakat”. Ilmiahkah? Teori ilmiah adalah teori yang muncul dan dibenarkan karena mengikuti bukti yang ada. Dengan kata lain arah kebenaran itu ditentukan dan diarahkan oleh ada tidaknya bukti. Buktilah yang mengarahkan kebenaran dan bukannya malah “agar menang dan diterima oleh masyarakat”.

Apa artinya? Artinya teori evolusi adalah teori yang tegak dan kokoh selama masyarakat luas mempercayainya, meskipun tanpa bukti atau bukti palsu dan penuh rekayasa. Kekhawatiran evolusionis akan semakin hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap evolusi menjadi pertanda jelas, betapa evolusi adalah dogma kosong tanpa bukti.

Mengembalikan keimanan masyarakat pada evolusi menjadi kebutuhan pokok evolusionis di satu sisi, namun ketiadaan bukti ilmiah dan ketidakberadaan teori masuk akal menjadi kendala mengenaskan di sisi lain. Untuk memecahkan permasalahan besar ini, tidak mengherankan jika sepanjang sejarah evolusionis mencari jalan keluar dengan cara-cara tercela dan tidak ilmiah. Namun beruntung masih ada pengakuan-pengakuan evolusionis jujur seperti karya Jerry Alan Fodor dan Massimo Piattelli-Palmarini di atas. Kejujuran ini digarisbawahi oleh Gabriel Dover, Profesor Genetika Evolusi, University of Leicester and Cambridge, Inggris, saat mengulas buku itu:

“….Buku ini akan menetapkan agenda di tahun-tahun mendatang. [Buku] ini tidak dapat dikesampingkan jika pengkajian mengenai evolusi hendak jujur dengan dirinya sendiri.”

Demikianlah, ternyata masih ada sisi kejujuran evolusionis, dan ini patut dipuji. Meski mereka tetap berpendirian kuat bahwa evolusi 100% benar walau teori kuat yang menjelaskannya masih belum ditemukan, dan fosil mata rantai tak kunjung datang, mereka patut diacungi jempol dalam hal kejujurannya di sisi lain. Karena berkat kejujuran evolusionis ini pulalah mereka telah mengungkap berlimpah kebohongan dan kecurangan yang dilakukan rekan mereka sesama evolusionis. Di antara yang terkenal adalah kebohongan berusia lebih dari seratus tahun, yakni gambar-gambar embrio Haeckel, yang mungkin hingga kini masih terpampang di buku-buku pelajaran biologi, termasuk di Indonesia (bersambung). (wwn/amazon/evolutionnews.org

CARAMUDAHCEPATKAYA

Manusia Bukan Lanjutan Kera

Posted: 16 Feb 2010 11:45 PM PST

Tim ilmuwan internasional menunjukan temuan baru, manusia tak berevolusi dari kera

Satu tim ilmuwan internasional pekan ini melaporkan bahwa kerangka manusia purba yang hidup 4,4 juta tahun lalu memperlihatkan manusia tak berevolusi dari nenek moyang mirip kera.

Penyelidikan selama 17 tahun tersebut mengenai temuan kerangka yang sangat rapuh, “kera darat” kecil, yang ditemukan di wilayah Afar, Ethiopia, dibeberkan di dalam jurnal “Science” terbitan Jumat (2/10).

Sebagaimana dilaporkan kantor berita China, Xinhua, jurnal itu juga berisi 11 berkas mengenai temuan tersebut.

Fosil itu, yang diberi nama panggilan “Ardi”, adalah kerangka paling tua yang dikenal dari cabang manusia dari pohon keluarga primata. Cabang tersebut meliputi Homosapiens serta spesies yang lebih dekat dengan manusia dibandingkan dengan kera dan bonobo.

Temuan itu memberi pengertian baru mengenai bagaimana “hominid” –keluarga “kera besar” yang terdiri atas manusia, simpanse, gorila dan orang-utan– mungkin telah muncul dari satu nenek moyang monyet.

Sampai ditemukannya “Ardi”, tahap paling awal yang diketahui mengenai evolusi manusia adalah “Australopithecus”, “manusia kera” yang berotak kecil dan sepenuhnya berkaki dua yang hidup antara empat juta dan satu juta tahun lalu.

Fosil “Australopithecus” yang paling terkenal adalah “Lucy”, yang berumur dari 3,2 juta tahun, yang namaya diambil dari lagu Beatles “Lucy in the Sky with Diamonds”. “Lucy” ditemukan pada 1974 di tempat sekitar 45 mil dari tempat “Ardi” belakangan ditemukan.

Kerangka “Ardi” dan kerangka “Ardipithecus ramidus”, yang berkaitan, lebih tua dan lebih primitif dibandingkan dengan “Australopithecus”.

Setelah temuan “Lucy”, ada perkiraan bahwa ketika kerangka “hominid” terdahulu ditemukan, semua itu akan berkumpul jadi anatomi mirip simpanse, berdasarkan kesamaan genetika manusia dan kera. Namun fosil “Ardipithecus ramidus” tidak mendukung dugaan itu.

Kerangka “Ardi” cukup lengkap –tengkorak, gigi, tulang panggul, kaki, paha, lengan dan tangan– untuk memperkirakan tinggi dan berat tubuhnya. “Ardi” berjalan dengan dua kaki di tanah, tapi memanjat pohon dan juga menghabiskan waktu mereka di sana, dan barangkali adalah pemangsa segala.

Sesuatu yang mengejutkan ialah “Ardi” dan temannya tidak memiliki bagian tubuh seperti kera atau gorila, tapi lebih mirip dengan kera yang punah atau bahkan monyet, dan kedua tangannya juga tidak mirip tangan simpanse atau gorila, tapi lebih berkaitan dengan kera yang punah sebelumnya.

Banyak ilmuwan mengatakan, temuan itu menunjukkan bahwa “hominid” dan kera Afrika, masing-masing memiliki jalur evolusi yang berbeda, dan “kita tak lagi dapat menganggap kera sebagai ‘wali’ bagi nenek moyang terakhir bersama kita”.

“Temuan (Charles) Darwin sangat bijaksana mengenai masalah ini,” kata Tim White dari University of California Berkeley, yang membantu memimpin tim penelitian tersebut.

“Darwin mengatakan kita harus benar-benar berhati-hati. Satu-satunya cara kita akan mengetahui seperti apa nenek moyang terakhir bersama ini dan menemukannya. Yah, pada 4,4 juta tahun lalu, kita menemukan sesuatu yang sangat dekat dengan itu. Dan, persis seperti Darwin menghargai evolusi garis kera dan garis manusia, telah berjalan secara terpisah sejak jalur itu terpisah, sejak nenek moyang terakhir bersama yang kita miliki,” kata White.[ant]

CARAMUDAHCEPATKAYA

Indonelangsa: potret Kemisnkinan

Posted: 16 Feb 2010 10:24 PM PST

Jumlah Anak Bermasalah Indonesia Setara Jumlah Penduduk Singapura

Inilah satu fakta mencengangkan lagi di Indonesia. Ternyata, berdasarkan data yang diterima Kompas.com dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial anak (usia 0-18 tahun) di Indonesia per Desember 2009 mencapai 4.656.913 jiwa atau setara dengan jumlah penduduk negari Jiran, Singapura.

Menurut data tersebut, mereka yang disebut penyandang masalah kesejahteraan sosial anak adalah anak balita terlantar, anak terlantar, anak jalanan, dan anak nakal atau anak yang berhadapan dengan hukum. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika berkunjung ke Pusat Pelayanan Kesejahteraan Sosial di Bambu Apus, Jakarta Timur, Rabu (17/2/2010), mengaku menaruh perhatian terkait banyaknya anak bermasalah.

Di hadapan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Agama Salim Assegaf Al-Jufrie, Menteri Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar, Menteri Agama Suryadharma Alie, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, dan lainnya, Presiden meminta agar keadilan dan kesejahteraan mereka diperhatikan.

“Mari kita pastikan ada kebijakan dan program aksi khusus, serta sistem yang dapat memberikan mereka keadilan,” ujar Presiden. Anak-anak yang berhadapan dengan hukum, korban narkotika, serta pasien adalah salah satu subjek utama yang patut mendapat perhatian. Lainnya adalah keluarga miskin, penyandang cacat berat, serta orang lanjut usia.

Menurut SBY, negara harus memberi peluang kepada mereka demi masa depan yang lebih baik. Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan konstitusi dan Pancasila. SBY yakin, jika sumber-sumber penerimaan negara bisa dikelola baik, ekonomi tumbuh, APBN dan APBD makin besar, maka porsi pembiayaan sosial seperti ini semakin besar.

CARAMUDAHCEPATKAYA

Awas: Potensi Bara Revolusi Tanpa Arah!

Posted: 16 Feb 2010 06:44 PM PST

Selasa, 16/02/2010 13:39 WIB Foto: Kompas.com

Aksi jalanan yang merupakan bentuk kekecewaan, yang diikuti puluhan ribu massa dari berbagai elemen gerakan yang menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, yang menandai 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Aksi yang berlangsung bulan kemarin itu, adalah kumpulan massa yang cair dari berbagai arus kepentingan dan dengan latarbelakang ideologi. Mulai dari kelompok kiri (sosialis) hingga aliansi aktifis Islam semua tumpah ruah.

Aksi ini serempak berlangsung di 30 kota-kota di Indonesia, dari ujung barat Indonesia (Aceh) hingga kawasan Timur Indonesia (Ambon, Maluku). Aksi ini adalah kesekian kali dari aksi-aksi sebelumnya yang menyuarakan ketidakpuasaan atas berbagai kasus sosial politik dan hukum yang menilai pemerintahan SBY-Boediono sangat lamban bahkan lemah. Lebih dari itu menempatkan presiden terpilih SBY, sebagai troubel maker (sumber masalah) dari berbagai persoalan kebangsaan yang mengusik nurani dan rasa keadilan rakyat.

Pemerintahan SBY, dianggap begitu banyak memiliki celah yang bisa dimanfaatkan untuk meng-agitasi massa untuk terlibat aksi jalanan dengan meneriakan berbagai tuntutan. Banyak kasus menonjol, dari drama “Cicak-buaya”, ganyang “Markus” yang menampakkan betapa bopengnya wajah hukum dan keadilan dan citra penegak hukum (kejaksaan, kepolisian, pengadilan) yang rusak. Hingga munculnya “Century gate” yang makin memberikan angin bagi elemen yang sudah meradang dan tipis kesabarannya untuk bertekad bukan sekedar menyatakan sikap, tapi sudah dengan target “pemakzulan” melalui aksi jalanan.

DPR bukan menjadi tempat tumpuan harapan, karena DPR yang dipilih rakyat langsung kenyataannya, hanya menjadi sekumpulan orang untuk membela mati-matian dan menyokong kekuasaan yang ada melalui koalisi. DPR tidak memiliki kepekaan atas tuntutan rakyat, bahkan berdiri bersebarangan dengan arus kepentingan rakyat. Ada sebagian yang ‘wait and see’ (melihat dan menunggu) bersikap oposan sambil merumuskan plan A, B, deal-deal politik dengan pelaku lapangan (ekstraparlementer. Mereka berharap dapat meraup keuntungan, jika ada perubahan dilingkaran kekuasaan, akibat tragedi politik yang terus berjalan tanpa kendali.

Pemerintahan SBY-Boediono dinilai gagal dalam berbagai aspek, menjadi pemimpin yang terjebak dengan program 100 hari yang tidak jelas, tidak menggigit, tidak nyata dan hanya penuh retorika.

Dalam pemberanasan korupsi dinilai gagal, bahkan dari 15 program unggulan dalam 100 hari pertama pemerintahan SBY, tidak secara eksplisit menjadikan pemberantasan korupsi sebagai pilihan utama. Pemberantasan korupsi diminimalisasi dalam pemberantasan mafia hukum, bahkan kekeliruan terlihat oleh lambannya respons pemerintah untuk menyelesaikan kasus konflik KPK dan Polri dan masalah bail out Bank Century.

Sosialisasi program 100 hari yang dimulai dengan event National Summit tenggelam ketika Mabes Polri melakukan penahanan Bibit dan Chandra. Tanpa disadari juga yang dilakukan oleh pemerintah adalah penegasian kelembagaan sistem penyelesaian keluhan yang telah ada, ketika Presiden SBY merespons masalah mafia hukum yang mengemuka dengan membentuk PO BOX 9949 dengan kode GM (Ganyang Mafia) untuk menampung keluhan-keluhan korban mafia hukum. Sebenarnya model kuno yang sudah tidak efektif lagi.

Kejadian ini justru mengedepankan problem lama dari pemerintahan SBY yaitu buruknya koordinasi dan sinergi antara kelembagaan pemerintah. Belum lagi ditambah, fasilitas pejabat dengan mobil mewah yang menghamburkan uang negara, membangun pagar istana, dan rencana membeli pesawat khusus kepresidenan yang makin dirasakan rakyat. Penguasa betul-betul tidak peka atas duka dan derita rakyat. Belum lagi harus menghadapi gurita ekonomi Cina dengan melalui CAFTA, makin membuka peluang lebar meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan.

Lemah dan mulai pudarnya pengaruh kekuasaan SBY dianggap menjadi titik kritis dan nyata berdasarkan berbagai krisis dan isu kebangsaan. Sampai-sampai kasus aksi dengan membawa kerbau “Si Bu Ya” mengalir begitu saja. Dan kesan ini pula yang disadari SBY untuk segera melakukan konsolidasi ditingkat lembaga-lembaga tinggi negara, dan secara khusus road show di institusi TNI untuk memastikan semua dalam barisan untuk menyokong Presiden

Tehnik “ancaman” dengan tema reshuffle kabinet, hingga penuntasan para pengemplang pajak juga ditebar untuk menjaga arus isu tetap dalam kendali kekuasaan. Begitu juga dengan nalar demokrasi dibangun untuk mengukur dan membelokkan tuntutan aksi-aksi jalanan yang menghendaki SBY segera menonaktifkan Boediono dan Sri Mulyani dari jabatanya.

Bahkan Presiden Yudjoyono dan Wakil Presiden Boediono harus mundur dari jabatanya.Logikanya adalah, rakyat yang tumpah dijalan dipandang belumlah cukup untuk merepresentasikan dari sekian puluh juta orang yang memilih dia secara langsung. Bahkan dengan retorika, demokrasi membuka ruang lebar untuk menyuarakan aspirasi dan tuntutan itu harus di akomodir melalui mekanisme demokrasi yang disepakati.

Namun SBY membuat blunder (kesalahan), ketika aksi jalanan dengan tuntutan mundurnya SBY, Presiden menegaskan bahasa “pemakzulan” tidak dikenal dalam UU di negeri ini. Jika harus melalui mekanisme DPR, maka ini adalah solusi politik yang penuh intrik tidak banyak bisa diharapkan. Kasus “masuk angin”, “mabuk daratan” dan berbagai macam tuduhan lainya diberikan kepada DPR, jika diharapan bisa membela kepentingan dan tuntutan rakyat.

Perubahan yang kabur

Terasa sangat tajam jika melihat berbagai sepanduk dan jargon yang selalu diusung berbagai komponen gerakan, ketika mereka turun aksi kejalan. Ganti rezim dan ganti sistem, adalah jargon utama bahkan yang kesannya cukup ideologis ketika mengerucut dengan kalimat “Tolak Neoliberalisme”.

Ada GIB (Gerakkan Indonesia Bersih), yang mengklaim lebih 66 elemen yang bergabung, dan GIB sendiri di prakarsai sekitar 20 orang. Dan klaimnya kini telah memperoleh basis dukungan dari berbagai elemen, mahasiswa, buruh dan petani.

Sejak awal telah menyodok dengan statemen, SBY secara moral sudah tidak layak lagi menjabat sebagai Presiden.Dan aksi-aksi yang digerakkan adalah sebagai bentuk kekecewaan atas kegagalan pemerintahan SBY.

Di lapangan sendiri komponen yang terjun sangat beragam, ada dari kelompok sosialis-demokrasi (sosdem), nasionalis, dan dari kelompok aktifis Islam bahkan juga ada elemen tandingan yang menyokong status quo. Uji coba “revolusi” untuk ganti rezim dan ganti sistem tidak berhenti di suarakan pada momentum 100 hari pemerintahan SBY. Tapi ini dianggapnya sudah menjadi bola salju yang terus bergulir makin besar dan akan menggilas status quo ketika menemukan momentum.

Maka ending Century-Gate (rencananya 4 maret) melalui pansus DPR di jadikan pintu masuk kembali untuk menekan, melalui aksi jalanan dengan target turunnya SBY. Usaha-usaha menggalang kekuatan dari berbagai elemenpun di lakukan, oleh para penggerak aksi dan revolusi ini. Diantaranya yang dianggap komponen kunci adalah dari kelompok Islam, ormas-ormas Islam yang memiliki basis massa riil perlu didekati dengan berbagai strategi agar terlibat dalam “pemakzulan” jalanan ini.Seperti elemen yang baru dideklarasikan, Front Umat Islam Bersatu Untuk NKRI” di Gedung Juang 45 jakarta Jumat (12/2).

Tapi lagi-lagi yang sangat miris adalah, ketika obsesi “ganti rezim, ganti sistem” ini tidak pernah terungkap dari para “petualang politik” yang bernafsu menurunkan SBY, secara serius menyiapkan format ideal apa yang akan menjadi alternatif pengganti jika sekiranya rezim dan sistem ini benar-benar runtuh.

Opurtunisme dan pragmatisme dalam ranah gaung “revolusi” menjadi warna yang cukup dominan, seolah tidak pernah belajar dari pengalaman reformasi yang ujungnya adalah mengokohkan sistem bobrok sekuler-liberal. Jangan sampai kata “revolusi” itu meluncur deras seperti dari bibir seorang Ibu Gayatri (Nasabah Century) yang dikibuli.

‘Gerakan revolusi’ sepertinya tidak menyadari wujud pemerintahan dan sistem baru apa yang akan menjadi penggantinya? Dari sini umat Islam harusnya tidak mudah terjebak dan tetap konsisten Islam dan Syariahnya menjadi gaung dan setiap tuntutan perubahan yang niscaya ini.

CARAMUDAHCEPATKAYA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: