[resonansi] Digest Number 1133

There are 2 messages in this issue.

Topics in this digest:

1. Antara Ayam dan Manusia
From: resonansi_2002

2. Mengapa Harus Menunggu?
From: resonansi_2002

Messages
________________________________________________________________________
1. Antara Ayam dan Manusia
Posted by: "resonansi_2002" resonansi_2002@yahoo.co.uk resonansi_2002
Date: Mon Mar 8, 2010 6:09 am ((PST))

Message of Monday â€" Senin, 8 Maret 2010
Antara Ayam dan Manusia
Oleh: Sonny Wibisono *

"Try not to become a man of success but rather to become a man of value."
— Albert Einstein, fisikawan

APA perbedaan ayam dengan manusia? Itulah pertanyaan yang dilontarkan seorang tokoh di negeri ini dalam sebuah acara diskusi. Terkesan main-main memang. Tak heran bila mereka yang hadir di sana punya banyak reaksi.

Ada yang tertawa geli, karena pertanyaan lucu itu. Mungkin mereka tidak percaya ketika pertanyaan itu dilontarkan seorang tokoh. Ada yang diam, mungkin sedang berpikir maksud dibalik pertanyaan tersebut. Di bagian lain, ada juga yang tiba-tiba memegangi perutnya. Bisa jadi dia teringat pada ayam goreng yang baru saja disantapnya.

Ternyata pertanyaan ini lebih dari sekedar serius. Kata bapak itu, setiap harinya ayam melakukan rutinitas yang tak pernah berbeda, selalu sama. Bangun pagi, berkokok, notol-notol mencari makan, buang air, melakukan hubungan seks, walau untuk urusan yang satu ini tak melulu tiap hari, lalu tidur dan bangun pagi lagi. Begitu seterusnya.

Kalaulah ada sedikit variasi: mereka berkelahi ketika saat lawan jenisnya diganggu. Tapi bila keadaannya normal, apalagi bila ayam itu dipelihara di rumah, mereka hidup dalam damai.

Bagaimana dengan manusia? Andai mereka melakukan hal yang juga rutin, bangun pagi, bekerja, pulang, buang air, melakukan hubungan seks, walau lagi-lagi tak harus tiap hari, lalu tidur dan bangun lagi keesokan harinya, dan seterusnya begitu, mohon maaf kata sang bapak itu, lantas apa bedanya dengan ayam.

Albert Einstein, fisikawan ternama pernah berkata, “Try not to become a man of success but rather to become a man of value." Di sini, Einstein lebih menekankan kepada nilai yang dimiliki seseorang, bukan semata kesuksesannya. Nilai dari seseorang manusia terlihat dari seberapa besar manfaat yang dia lakukan untuk orang lain. Manusia semakin bernilai saat banyak memberikan manfaat bagi orang lain.

Tak sulit untuk membuat kita semakin bernilai. Bukan dengan mobil yang mengkilap. Bukan juga dengan pakaian yang licin dan bermerek. Apalagi ditentukan dengan pergaulan yang penuh dengan ingar-bingar.

Lihatlah sekeliling kita. Mang Ipin misalnya. Seorang tukang sampah di sebuah kompleks perumahan daerah Duren Sawit. Bayangkan, bila tidak ada satu pun tukang sampah, seperti Mang Ipin, di suatu kompleks perumahan. Apa yang akan terjadi? Sampah akan menumpuk, bau busuk akan menyebar ke segala arah. Wabah penyakit siap mengerubungi. Penghuni menjadi tidak nyaman. Tak hanya itu, seorang tukang sampah pun mempunyai nilai bagi orang lain. Mang Ipin, sehari-harinya tak hanya melakukan rutinitas, mengambil sampah dari tempat pembuangan sampah para warga untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. Kadang ia mengingatkan penghuni rumah, bila ternyata sang penghuni rumah kelupaan untuk membuang sampah. Bahkan, Mang Ipin pun sering bertanya pada si pemilik rumah, barangkali ada sampah yang belum terbuang.

Seorang dokter pun dapat melakukan hal yang sama misalnya. Selain tugas mulianya membantu orang lain agar sembuh, ia pun dapat melakukan hal lebih, misalnya membantu pasien yang kurang mampu dengan menggratiskan biaya pengobatan atau memberikan obatnya secara cuma-cuma. Atau bisa juga memberikan penyuluhan di lingkungan warga sekitar mengenai kesehatan, kebersihan, atau pertolongan pertama apa yang harus dilakukan saat terkena penyakit tertentu. Suatu kegiatan yang sungguh-sungguh mulia. Intinya, pekerjaan yang mulia sejatinya pekerjaan yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.

Suatu profesi sangat mungkin merupakan suatu pilihan hidup. Tetapi manusia seyogianya dituntut untuk dapat melakukan sesuatu lebih dari sekedar profesi yang digelutinya. Seorang manusia bisa jadi melakukan aktivitasnya secara rutin. Atau dapat dikatakan, monoton. Hal itu bukanlah suatu kesalahan. Karena sekali lagi, hal itu merupakan pilihan hidup. Monoton saja masih lebih baik ketimbang tidak merugikan bagi orang lain. Karena bila merugikan bagi orang lain, jelas, ia lebih hina dari seekor ayam sekalipun.

Tapi manusia bukanlah ayam. Manusia mampu melakukan lebih dari sekedar rutinitas. Manusia mampu melakukan lebih dari itu. Ia dapat memperoleh nilai dari apa yang yang telah diperbuatnya. Semakin banyak yang diperbuat bagi orang lain, itu makin bagus. Tak peduli apapun profesi atau pekerjaan seseorang untuk dapat berbuat lebih dan memberikan nilai-nilai terbaik yang kita miliki. Jangan pernah merasa puas atas apa yang telah diperbuat. Karena seharusnya kita dapat lebih, dan lebih berbuat lagi. Untuk selalu terus berkembang, tumbuh, dan dinamis. Ya, karena manusia tidaklah sama dengan seekor ayam.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. Mengapa Harus Menunggu?
Posted by: "resonansi_2002" resonansi_2002@yahoo.co.uk resonansi_2002
Date: Tue Mar 9, 2010 12:22 am ((PST))

Mengapa Harus Menunggu?
Oleh: Andrie Wongso

Dikisahkan, ada seorang anak berusia 9 tahun. Saat dia sedang membantu ayahnya mengangkut batu bara demi mengumpulkan dana untuk kegiatan amal, terjadilah kecelakaan yang telah merubah seluruh kehidupannya. Dia terjatuh, dan kakinya terlindas kereta api barang sehingga sepasang kaki harus diamputasi. Berbulan-bulan, hari-harinya diwarnai dengan penderitaan panjang, dia harus berjuang dari satu meja operasi ke meja operasi lainnya dan menghabiskan jam-jam yang sangat menyakitkan.

Namun dia tidak pernah patah semangat dan dengan tegar menjalaninya sehingga dokter mengijinkannya keluar dari rumah sakit dengan berkursi roda. Tanpa membuang waktu dia ingin menguji fisiknya dengan belajar berenang. Pertama kali masuk ke air, dia pun langsung tenggelam sampai ke dasar kolam renang. Pelatihnya menggunakan jala untuk mengangkatnya naik ke permukaan. Pelajaran mengapung dan seterusnya dilakukan setiap hari dan 5 bulan kemudian dia mampu berenang sebanyak 52x panjang kolam renang tanpa berhenti! Sungguh luar biasa!

Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang bisa menghalangi keinginannya untuk melakukan kegiatan fisik layaknya orang-orang yang bertubuh normal. Dia belajar menyetir mobil, ikut balapan dan berhasil menjadi atlet gokart yang handal, disegani dan terkenal.

Ketekunannya berlatih fisik di kolam renang dan tempat tinggalnya yang tak jauh dari pantai, menginspirasinya belajar menjadi surf lifeguard, yaitu penjaga pantai yang melindungi dan menyelamatkan para peselancar. Dia satu-satunya manusia di dunia, tanpa kaki yang berprofesi seperti itu. Dia juga belajar Taewondo hingga memperoleh Dan 3. Olahraga lempar cakkram, tolak peluru dan lempar lembing berhasil mengalungkan 35 medali dalam kehidupannya. Pencapaian prestasinya melandasi kepercayaan dirinya membina hubungan dengan seorang wanita yang dicintai. Akhirnya dia menikah dan memperoleh 3 orang anak. Bersama istrinya, mereka bahu membahu menjadi pengusaha sukses. Berkat prestasi dan keinginannya membantu orang lain agar tidak menyerah, akhirnya menghantarkannya menjadi pembicara motivasional kelas dunia. Pemuda hebat itu bernama TONY CHRISTIANSEN.

Saat ditanya apa rahasia suksesnya? Dia menjawab: Mengapa harus menunggu? Jangan menghabiskan waktu dengan duduk dan menunggu tertabrak kereta api sebelum melakukan sesuatu dan mencetak berprestasi. Kecelakaan yang saya alami telah mengasah karakter serta hidup saya dalam beragam cara! Membantu saya dalam menyampaikan pesan kepada semua orang yang mau mendengar, mau belajar serta mau merubah hidup lebih baik! Jadi, mengapa harus menunggu? Segera lakukan! – TAKE ACTION!!"

Pembaca yang luar biasa,

Hidup adalah tindakan! Live is action! Sebuah cita-cita yang indah, jika hanya menunggu tanpa bertindak nyata, maka tinggal hanya mayat cita-cita, sebuah perencanaan yang matang tanpa action! Cuma menyisakan coretan kosong.

Cerita manusia luar biasa Tony Christiansen tadi cukup jelas pelajaran yang bisa kita ambil. Bagaimanapun keadaan fisik kita , atau betapapun jeleknya keadaan di luar kita, semuanya bisa di rubah, nothing is impossible, tiada yang mustahil!

Manusia yang paling penting adalah jangan krisis mental. Dengan kekayaan mental, seseorang akan berani memulai dari apa adanya dia, dan semua perjuangannya diarahkan pada titik target besar yang punya bobot dan bernilai. Dengan cara hidup punya kaya mental seperti itu, kita pasti akan selalu menyambut hari-hari baru penuh dengan syukur, optimis, gembira dan menciptakan sukses yang luar biasa! [AW]

Messages in this topic (1)

+-+-+-+-+-+-+-+-+-+ resonansi@yahoogroups.com +-+-+-+-+-+-+-+-+-+
Kisah Sukses, Kisah Nyata, Kisah Unik, Motivasi dan Inspirasi
–One Day One Posting–
No Attachment, No Spam, No Advertise
+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+ Motivasi & Inspirasi +-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+

————————————————————————
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/resonansi/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/resonansi/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
resonansi-normal@yahoogroups.com
resonansi-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
resonansi-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

————————————————————————

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: