Kecerdasan Emosi Itu Berhubungan Dengan Stres Kerja Distributor

Hubungan Antara Kecerdasan Emosi Dengan Stres Kerja Distributor

Kecerdasan emosi bekerja secara sinergi dengan ketrampilan kognitif. Orang-orang yang memiliki prestasi yang tinggi memiliki keduanya. Tanpa kecerdasan emosi orang tidak akan dapat menggunakan kemampuan kognitifnya sesuai dengan potensi yang maksimal. Kecerdasan emosi akan berpengaruh pada perilaku tiap individu dalam mengatasi permasalahan yang terjadi dalam diri orang tersebut, termasuk dalam lingkungan kerjanya. Dengan memiliki kecerdasan emosi, seseorang dapat memotivasi diri, tidak mudah frustasi, dan yang terpenting adalah mampu mengendalikan stres (Goleman, 1999)
Penelitian membuktikan bahwa karyawan yang memiliki kecerdasan emosi tinggi cenderung memiliki tingkat stres kerja yang rendah (Fatimah dalam Wahyono, 2001). Matheny (Diponegoro dan Thalib, 2001) mengungkapkan bahwa upaya mengubah pola perilaku penimbul stress dilakukan dengan cara-cara: (a) Memodifikasi pola perilaku, (b) mengurangi sikap-sikap impulsive atau hiperaktif, (c) mengembangkan sumber-sumber coping termasuk membangun efikasi diri, harga diri, optimisme, religiusitas, dukungan sosial, kontrol diri, dan ketrampilan pengelolaan diri. Sedangkan menurut Goleman (1999) kecerdasan emosi meliputi kemampuan untuk mengendalikan hal-hal negatif seperti kemarahan, keragu-raguan atau rasa kurang percaya diri dan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal positif seperti rasa percaya diri dan keharmonisan dengan orang-orang di sekeliling. Berdasarkan penelitian tersebut dapat diketahui adanya hubungan antara kecerdasan emosi dengan stres kerja.
Aspek-aspek dalam kecerdasan emosi seperti kesadaran diri dan pengaturan diri dapat menjadi satu faktor yang mampu menimbulkan eustress  (stress positif). Seperti yang dikemukakan oleh Selye dalam Munandar (2001) bahwa stress pada titik optimal dapat meningkatkan produktifitas kerja. Hal tersebut dibuktikan dengan bentuk hubungan antara stress dan unjuk kerja yang membentuk kurva U terbalik, sedangkan stres yang berlebihan justru akan mengakibatkan distress (stress yang negatif). Kemampuan seseorang dalam menangani permasalahan di tempat kerja yang dapat menjadi sumber stress kerja seperti lingkungan kerja yang tidak kondusif yang terdiri dari beban kerja yang terlalu berat (overload), deprivational stress (kebosanan, ketidakpuasan dan kurangnya komunikasi sosial), jenis pekerjaan dan konflik peran akan menjadikan kondisi yang negatif ini menjadi sesuatu yang positif dan membuat seseorang mampu bertahan dalam kondisi apapun. Sedangkan aspek lain dalam kecerdasan emosi seperti kemampuan memotivasi diri dan orang lain, kemampuan berempati, dan kemampuan dalam ketrampilan sosial akan membuat seseorang dapat menjalin kerjasama dengan rekan-rekan sekerja, atasan maupun bawahannya. Komunikasi yang efektif dalam suatu organisasi akan mengurangi terjadinya konflik peran, memberi kejelasan pada karyawan tentang sistem pengembangan karier, penilaian prestasi kerja, dan jabatan atau wewenang serta tanggung jawab seseorang  dalam perusahaan.
Mangkunegara (2004) mengemukakan tentang hubungan antara kecerdasan emosi dan stres kerja dalam program pengembangan manajemen stress melalui kecerdasan emosi antara lain (a) mengelola hubungan dengan orang lain, yaitu dengan mengembangkan hubungan-hubungan yang tulus dan cerdas secara emosional dengan rekan kerja (b) mengelola lingkungan, yaitu menggunakan pikiran positif dan mencermati  perubahan yang terjadi pada tingkat stres (c) mengelola gaya hidup, yaitu dengan menghilangkan penyebab-penyebab stres, manajemen waktu secara efektif serta menjaga kesehatan fisik serta mental (d) mengolah sikap dan reaksi, yaitu dengan bersikap positif dan pro terhadap kondisi dan situasi apapun di tempat kerja dan mengendalikan reaksi-reaksi yang memungkinkan untuk menambah stres.
Karyawan yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi akan dapat menghadapi situasi yang merangsang munculnya stres kerja, karyawan tersebut akan mampu menyikapi keadaan tersebut dengan tenang dan dapat lebih memaksimalkan kemampuan kognitif untuk mencari alternatif penyelesaian masalah atau menghadapi situasi yang membuat karyawan tersebut stres sehingga ia tidak akan mudah frustasi. Dalam keadaan yang tenang tersebut karyawan akan dapat memotivasi dirinya maupun orang lain.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: