[resonansi] Digest Number 1135

There are 2 messages in this issue.

Topics in this digest:

1. Memperhatikan, Bukan Sekadar Melihat
From: resonansi_2002

2. Bakat vs Usaha
From: resonansi_2002

Messages
________________________________________________________________________
1. Memperhatikan, Bukan Sekadar Melihat
Posted by: "resonansi_2002" resonansi_2002@yahoo.co.uk resonansi_2002
Date: Tue Mar 16, 2010 2:58 am ((PDT))

Message of Monday, Senin, 15 Maret 2010
Memperhatikan, Bukan Sekadar Melihat
Oleh: Sonny Wibisono *

"Perhatikan sekeliling Anda dengan seksama."
— Anonim

ANDA sudah menonton film Bangkok Dangerous? Bintang Nicolas Cage bermain dalam film aksi yang dibuat pada 2008 itu. Film yang merupakan remake dari film Hongkong ini menggali kisah sisi manusiawi seorang pembunuh bayaran. Syahdan Cage memainkan peran sebagai Joe, pembunuh bayaran berdarah dingin. Satu tugasnya membawanya pergi ke Bangkok, Thailand.

Di kota Tuk-tuk, dia menyewa Kong, seorang pencopet jalanan. Tak banyak perintah buat si tukang copet itu. Waspadalah, waspadalah. Begitu ujar si Joe. Persis seperti kata Bang Napi. Dia harus awas. Dan perhatikan keadaan sekitar. Semua benda yang berada disekitarnya dapat dimanfaatkan untuk dijadikan petunjuk. Joe memberi contoh. Dia memberi tahu Kong tentang aksi lelaki berbaju merah yang membuntutinya. Padahal dia mengetahui hal itu hanya dengan melihat spion sebuah sepeda motor yang diparkir tak jauh dari mereka.

Perhatikan. Itulah kata kuncinya. Bukan sekadar melihat. Untuk memperhatikan jelas harus dilakukan dengan melihat. Namun 'memperhatikan' sesungguhnya mengandung makna yang jauh. Yakni melihat dengan cermat atau memperhatikan segala sesuatu dengan tepat. Ditambah penekanan 'dengan seksama', yang berarti memperhatikan dengan serius. Dalam banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, kita memang dituntut untuk memperhatikan keadaan sekitar dengan baik. Apakah itu di lingkungan kantor, rumah, ataupun tempat lainnya.

Ambil contoh misalnya, Anda hapal berapa jumlah tukang tambal ban yang berada di jalan yang Anda lewati tiap harinya dari rumah menuju kantor dan sebaliknya? Baik disisi kanan, maupun disisi kiri. Kalau Anda tidak hapal jumlah dan berada dilokasi mana saja, dapat dimaklumi. Tetapi seandainya Anda mengalami kempes atau bocor ban, apakah Anda dapat mengingat dimana tukang tambal ban terdekat? Hal ini menjadi penting ketika faktor efisiensi waktu, lebih-lebih soal keamanan, menjadi hal yang sangat utama.

Anda yang tinggal di Jakarta, mungkin sudah sering melewati terowongan Jalan Casablanca. Berapa kali di pagi atau malam hari selepas kerja, terlihat beberapa motor dan mobil mengalami kempes atau bocor ban. Seorang kawan mengalami bocor ban motor. Apakah bocornya ban karena ulah penebar ranjau paku atau bukan, tetap saja ban motornya harus diperbaiki. Sebenarnya ia seorang biker, hampir tiap hari melewati jalan tersebut. Aneh sekali bila dia tidak ngeh dimana tukang tambal ban terdekat. Nah, ditambah keengganannya untuk bertanya, membuat ia harus mendorong motornya sejauh kira-kira ratusan meter. Padahal andai saja dia bertanya, tukang tambal ban terdekat berada tak jauh. Bukan hanya tenaga yang banyak terbuang, waktu pun banyak tersita.

Dengan memperhatikan situasi sekitar, kita juga akan mengetahui apa yang harus dilakukan. Anda tentu tidak dituntut untuk mengetahui atau menghapal segala sesuatunya. Tetapi, minimal Anda mengetahui untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan bila situasi dan kondisi mengharuskan hal itu. Apalagi ditambah saat ini dengan kemajuan teknologi. Segala sesuatunya menjadi lebih mudah.

Seorang kawan yang tengah bekerja dikantor mendapat laporan dari pengasuhnya bila anaknya mengalami luka parah di dahinya ketika sedang bermain. Maka tindakan pertama yang dilakukannya adalah menelpon tetangga sebelah untuk meminta tolong membawakan anaknya ke rumah sakit terdekat untuk segera ditangani. Bisa dibayangkan bila ia tak menyimpan nomor telepon tetangganya. Padahal kecepatan waktu disini sangat penting.

Itulah mengapa pentingnya Anda memperhatikan keadaan sekitar. Tak hanya melihat saja. Oh ya, omong-omong, Anda hapal nomor telepon Ketua RT setempat dimana Anda tinggal?

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. Bakat vs Usaha
Posted by: "resonansi_2002" resonansi_2002@yahoo.co.uk resonansi_2002
Date: Tue Mar 16, 2010 9:44 pm ((PDT))

Bakat vs Usaha
Oleh: Agung Praptapa *

"Potensi yang tidak diledakkan akan tetap menjadi potensi saja, tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan."

Saya sering mendapatkan keluhan dari mahasiswa maupun peserta training bahwa mereka merasa tidak berbakat memimpin. Dalam kesempatan lain mereka menyampaikan lagi bahwa mereka tidak berbakat seni, olah raga, menulis, dan sederetan alasan lainnya untuk menjustifikasi bahwa mereka tidak mampu melakukan hal tertentu karena mereka tidak berbakat. Kata "tidak berbakat" nampaknya menjadi kambing hitam yang paling mudah. "Jangan salahkan aku kalau aku tidak mampu melakukan hal tertentu karena aku tidak berbakat" demikian kurang lebih pesan yang terkandung dalam pernyataan mereka.

Namun pada saat saya tanyakan kepada yang merasa "tidak berbakat" mengenai sudah seberapa jauh mereka belajar, berlatih dan mencoba, mereka mulai mencari-cari alasan berikutnya. Mereka katakan bahwa walaupun belum mencobanya tetapi mereka tahu dan bisa merasakan kalau mereka tidak berbakat. "Seperti ejakulasi dini saja, belum apa-apa sudah loyo" demikian saya sering meledek mereka-mereka yang terlampau cepat memvonis dirinya tidak mampu karena tidak berbakat.

Berkaitan dengan masalah bakat, dalam suatu kesempatan pelatihan kepemimpinan saya memulai dengan pertanyaan "Apakah Anda percaya bahwa para pemimpin besar memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin? Atau Anda lebih percaya bahwa para pemimpin besar ditempa dalam perjalanan hidupnya sehingga menjadilah ia seorang pemimpin?" Jawaban yang aman memang ke dua-duanya bisa. Bisa saja kita menjawab dengan enteng bahwa ada seorang pemimpin yang memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin dan ada yang menjadi pemimpin karena dibentuk oleh dirinya sendiri maupun oleh lingkungannya sehingga seseorang menjadi seorang pemimpin. Namun bukan sekedar jawaban tentunya yang kita cari. Kita ingin mendapatkan jawaban yang memiliki landasan pemikiran yang kuat, yang based on evidence, yang berdasarkan bukti! Bisakah kita membuktikan bahwa seseorang memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin? Apa buktinya pemimpin itu ditempa dan dibentuk?

Banyak keturunan pemimpin juga menjadi pemimpin. Kalau kita mendengar nama Kennedy, asosiasi kita langsung ke keluarga Kennedy di Amerika Serikat yang turun menurun menjadi pemimpin. Ada George Bush kemudian munculah George W. Bush. Ada Mahatma Gandhi kemudian muncul Indira Gandhi. Ada Sukarno dan kemudian muncullah Megawati Sukarno Putri. Jadi nampaknya di sini sifat-sifat kepemimpinan bisa diturunkan sehingga seorang pemimpin bisa melahirkan pemimpin berikutnya. Benarkah sifat-sifat kempemimpinan bisa diturunkan secara biologis?

Saya tidak akan memperdebatkan masalah ini dari aspek genetika karena memang hal tersebut bukan dalam bidang keahlian saya. Namun demikian saya yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi sendiri-sendiri. Setiap manusia itu unik. Tidak ada yang sama persis. Meskipun seorang manusia dilahirkan seperti halnya kertas putih bersih yang belum tercoret, mereka dianugrahi potensi yang berbeda antara satu dengan lain. Saya termasuk yang tidak yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi yang sama. Oleh karenanya saya katakan berulang kali bahwa manusia memiliki potensi yang unik antara satu orang dengan lainnya.

Seorang anak yang lahir dari pasangan yang cerdas memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk memiliki potensi kecerdasan seperti halnya orang tuanya. Ini logika yang wajar saja. Buah akan akan jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau bakat dan sifat orang tuanya menurun kepada anaknya itu tentunya sudah sewajarnya. Namun ingat, yang diturunkan kepada anaknya masih bersifat potensi. Potensi itu akan tetap diam tidak akan menjadi realitas kalau tidak diwujudkan dalam tindakan. Seorang anak yang berpotensi menjadi pelari cepat tidak akan menjadi pelari cepat kalau ia tidak mencoba berlari. Seorang anak yang memiliki potensi memimpin tidak akan pernah benar-benar menjadi pemimpin kalau tidak melakukan tindakan sebagai seorang pemimpin. Seorang anak yang memiliki bakat menulis tidak akan pernah menjadi penulis apabila ia tidak menulis. Potensi yang mereka miliki bukan apa-apa apabila tidak diwujudkan dalam suatu tindakan. Sebuah senapan tidak akan meletus apabila tidak ditarik pelatuknya. Kalau demikian, dari pada meributkan seorang pemimpin itu dilahirkan atau tidak lebih baik kita langsung saja mengambil tindakan untuk menjadi seorang pemimpin. Hal ini lebih efektif dari pada kita disibukkan untuk memikirkan apakah kita berbakat untuk menjadi pemimpin atau tidak.

Kalau kita bicara tentang bakat, harus diakui bahwa orang yang memilki bakat tertentu akan belajar lebih cepat dari pada yang kurang berbakat. Seseorang yang memiliki bakat seni musik akan lebih cepat belajar musik dari pada yang tidak atau kurang berbakat dalam hal seni. Namun perlu dicatat di sini bahwa orang yang berbakat seni tetapi tidak mau belajar seni tidak akan memiliki kemampuan seni. Mengapa? Karena bakat itu hanya berupa potensi. Kalau potensi tersebut tidak diledakkan ya akan tetap menjadi potensi saja. Tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan. Dengan kata lain, seorang yang tidak memiliki bakat musik tetap bisa memiliki kemampuan di bidang musik apabila mereka mau belajar. Konotasi belajar di sini tidak berarti belajar dalam arti formal maupun informal, tetapi juga belajar dalam arti mencoba melakukan (experiental learning). Maka jangan pernah memvonis diri sendiri tidak berbakat dalam suatu bidang tertentu sebelum mencobanya. Sampai di sini kita masih memiliki kesimpulan yang sama bahwa seberapa besarpun bakat kita tidak akan menjadi kemampuan yang sebenarnya kalau kita tidak pernah mencobanya. Dengan kata lain, dari pada sibuk memikirkan bakat kita lebih baik kita sibuk melatih diri kita untuk menjadi seperti apa yang kita harapkan.

Saat kita merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan sesuatu, hal tersebut bukan selalu karena bakat. Bahkan beberapa pakar menyatakan bahwa kemampuan yang kita miliki hanya 15% yang berasal dari bakat. Selebihnya, yaitu 85%, berasal dari belajar, latihan, dan mencoba. Dengan demikian, kalau kita belajar dengan benar, melatih diri dengan benar, dan mencoba dengan benar maka kita akan menghasilkan kemampuan yang jauh lebih besar dari pada mengandalkan hanya pada faktor bakat saja.

Mau memiliki kemampuan yang hebat? Keep trying, keep doing! Ledakkan potensi Anda.

*) Agung Praptapa adalah penulis buku "The Art of Controlling People", Gramedia, 2009. Ia seorang dosen, konsultan bisnis, dan trainer di bidang personal and organizational development. Alumni Writer Schoolen dan Trainer Schoolen.

Messages in this topic (1)

+-+-+-+-+-+-+-+-+-+ resonansi@yahoogroups.com +-+-+-+-+-+-+-+-+-+
Kisah Sukses, Kisah Nyata, Kisah Unik, Motivasi dan Inspirasi
–One Day One Posting–
No Attachment, No Spam, No Advertise
+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+ Motivasi & Inspirasi +-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+

————————————————————————
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/resonansi/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/resonansi/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
resonansi-normal@yahoogroups.com
resonansi-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
resonansi-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

————————————————————————

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: