Proses Pengambilan Keputusan Itu Yang Berhubungan Dengan Kecerdasan Emosi

Hubungan Antara Kecerdasan Emosi Dengan Proses Pengambilan Keputusan Pada Remaja

       Masa remaja merupakan masa transisi di mana seseorang mengalami perubahan baik fisik, psikis, maupun sosial yang tumbuh menjadi sosok dewasa. Pada masa ini biasanya remaja dalam menghadapi permasalahan ada yang mampu menghadapinya dengan mencari solusi, akan tetapi ada juga remaja yang tidak mampu memenuhi tuntutan yang ada di lingkungannnya yang sangat cepat berubah seiring dengan perkembangan gejolak emosi remaja yang cepat berubah-ubah dan belum matang. Situasi tersebut biasanya menimbulkan tekanan-tekanan bagi remaja yang tidak mampu melakukan penyelesaian masalah dan mengelola emosi mereka secara benar dan terkendali, sehingga muncul berbagai macam bentuk dari reaksi emosional yang cukup berat, seperti mudah marah, mudah terpengaruh, mudah putus asa, sulit mengendalikan dorongan hati, sulit mengambil keputusan dan memotivasi diri sendiri (Goleman, 1999).
          Munculnya sikap remaja yang cenderung tidak stabil, di antaranya disebabkan oleh ketidakmampuan remaja dalam mengelola emosi mereka dengan tepat. Segala permasalahan yang dihadapi remaja diselesaikan dengan emosional.  Hal ini menunjukkan rendahnya kontrol emosi yang ada pada diri remaja, baik dalam pengaturan diri remaja dalam menangani emosi sebelum mengambil suatu tindakan.
          Ketika remaja menghadapi suatu permasalahan, seringkali remaja dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian mereka dalam menyikapi persoalan. Beberapa remaja cenderung memiliki kepribadian yang emosional. Keadaan emosi tersebut sesuai dengan pengertian kecerdasan emosi yaitu kemampuan untuk memahami, merasakan, dan mengenali perasaan sendiri maupun orang lain; kemampuan untuk memotivasi diri sendiri; serta kemampuan untuk mengelola dan mengontrol emosi secara efektif sebagai pemandu pikiran dan tindakan ke arah yang lebih positif dan digunakan secara efektif.  Oleh karena kecerdasan emosi berkaitan erat dengan kepribadian seseorang maka faktor kepribadian adalah karakteristik dari seseorang.      
          Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi remaja dalam melakukan suatu penyelesaian masalah, salah satunya adalah faktor kepribadian yaitu faktor psikologis yaitu kemampuan mengenali emosi diri sendiri, kemampuan dalam mengelola emosi, kemampuan dalam memotivasi diri sendiri, kemampuan mengenali emosi orang lain dan mampu membina hubungan dengan orang lain. Kesadaran akan perasaan diri sendiri dan memiliki pengelolaan emosi diri yang baik sangat berperan dalam memandu pengambilan keputusan dan menangani emosi yang berdampak positif terhadap penyelesaian masalah sehingga memungkinkan untuk berfikir sebelum mengambil tindakan (Goleman, 1999).
          Begitu pula halnya dengan remaja yang memiliki masalah dan menuntut suatu keputusan yang penting dalam hidupnya, memiliki motivasi diri yang tinggi  dapat membantu remaja dalam mencari inisiatif dan bertindak secara efektif serta mampu bertahan dalam menghadapi kegagalan dan frustasi. Marvis (Vibriyanti, 2003) menyatakan bahwa kesuksesan dan kegagalan setiap orang ditentukan oleh keputusan yang mereka buat. Sebagaimana kita tahu dari pengalaman, apabila suatu masalah yang menyangkut pengambilan keputusan dan tindakan, aspek perasaan sama pentingnya dan seringkali lebih penting daripada nalar. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa apabila seseorang memiliki motivasi yang tinggi, dapat membantu seseorang dalam mencari inisiatif dan mampu bertindak secara efektif sehingga segala permasalahan yang dihadapi terselesaikan dengan baik.
          Selain itu apabila remaja memiliki keterampilan sosial yang baik maka akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannnya, akan mudah bergaul dengan teman sebayanya, dan memiliki kontrol emosi yang baik dapat membantu dalam mengatasi permasalahan. Seringkali remaja mengalami kegagalan dalam memelihara keterampilan sosial, sehingga menyebabkan remaja cenderung menyendiri, tidak percaya diri, dan kecenderungan perilaku agresivitas. Hal ini menunjukkan bahwa ketika remaja memiliki masalah cenderung menggunakan manajemen konflik destruktif. Proses penyesuaian diri dapat berjalan dengan baik bila disertai dengan dukungan emosi yang matang dan cerdas. Bandura (Kurniawati, 2003) berpendapat bahwa kemampuan dalam menyelesaikan masalah adalah merupakan ciri perkembangan emosi pada remaja. Remaja yang cerdas emosinya dapat menyelesaikan permasalahannya baik dari diri sendiri maupun dari lingkungannya. Dengan adanya dukungan emosi yang matang dan cerdas akan mempengaruhi proses penyesuaian diri remaja. Kemudian Gothman & De Claire (Hermaya, 1997) mengemukakan bahwa sejak kecil seseorang mempelajari keterampilan sosial dasar maupun emosional tidak hanya dari orang tua tetapi juga dari kaum kerabat, tetangga, teman bermain, lingkungan pembelajaran di sekolah, dan lingkungan sosial lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses penyesuaian diri seseorang dimulai sejak kecil sampai dewasa dengan melalui proses belajar dari lingkungan sekitarnya.
          Salah satu cara yang bisa digunakan remaja untuk mengembangkan sikap mampu mengenal emosi adalah mengembangkan sikap empati yaitu mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan menumbuhkan hubungan saling percaya dengan orang lain. Remaja yang mudah kecewa dan menarik diri dari teman-temannya akan mengalami konflik dalam dirinya dengan orang lain. Remaja tidak mampu dalam membina hubungan dengan orang lain, sehingga remaja tidak mampu untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Penanganan emosi yang baik dalam menghadapi perasaan kekecewaan dan perasaan-perasaan negatif dari orang lain memerlukan penanggulangan secara mendalam dan membutuhkan proses intervensi. Menurut Bar On (Meilianawati, 2001), kemampuan mengatur perasaan dengan baik, mampu memotivasi diri sendiri, berempati, ketika menghadapi gejolak emosi dari diri sendiri maupun dari orang lain. Demikian juga Rachman (2002) menambahkan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi merupakan orang yang dapat mengawal perasaan dan tindakan sendiri, yang mempunyai daya ketahanan untuk mencapai tujuan hidup, yang dapat mengurus perasaan negatif serta mudah menjalin persahabatan dengan orang lain.
          Kecerdasan emosi mempunyai peran penting terhadap diri seseorang dan perlu dikembangkan karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang dalam masyarakat kelak dan sebagai pegangan hidup dalam menghadapi kehidupan, sehingga akan membuat seluruh potensi yang ada pada diri seseorang dapat berkembang lebih optimal. Dengan mempunyai kecerdasan emosi yang baik maka seseorang akan mampu mengendalikan impuls-impuls yang ada dan dapat diarahkan sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: