[psikologi_transformatif] Digest Number 6020

There are 6 messages in this issue.

Topics in this digest:

1. Menghayati Hidup Dengan Kasih Sayang
From: muhamad agus syafii

2. The study abroad Guide on International Education for Indian Student
From: Nasir S

3. Memahami Jiwa
From: muhamad agus syafii

4. Makna Kearifan dan Kecerdasan
From: muhamad agus syafii

5a. [Private Photo Share] Cali Girl- Has sent you private photos.
From: stelliname

6. Single-Parent – Orang Tua Tunggal
From: MANG UCUP

Messages
________________________________________________________________________
1. Menghayati Hidup Dengan Kasih Sayang
Posted by: "muhamad agus syafii" agussyafii@yahoo.com agussyafii
Date: Sat Mar 20, 2010 8:17 am ((PDT))

Menghayati Hidup Dengan Kasih Sayang

By: agussyafii

Secara psikologis orang yang sehat adalah orang yang mampu mendermakan cinta pada sesamanya. Sedangkan orang yang hatinya dipenuhi rasa permusuhan, dengki, cemburu dan kebencian semuanya merupakan beban mental yang menjurus pada penyakit kejiwaan.

Dalam Islam, penghayatan kasih sayang digunakanlah istilah ridha. Pengertian ridha adalah sikap yang didasari pengetahuan, kesadaran dan keyakinan bahwa kasih sayang Allah meluap memenuhi ruang dan waktu. Sesungguhnya hidup kita dalam lingkup kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sikap ridha akan selalu berpikir positif terhadap hidup karena dibalik fragmen kehidupan terkadang ada adegan-adegan yang pahit dan buram mekipun terkandung hikmah dari pancaran kasih sayang Allah.

Bagi orang yang mencapai derajat ridha akan selalu melihat hikmah dibalik musibah maupun cobaan. Setiap musibah menyimpan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Allah melimpahkan kasih sayangNya.  Dan kemungkinan kedua, karena kelalaian manusia itu sendiri. Dengan demikian ritme hidup kita ditandai dengan dialektika rasa syukur dan sikap sabar. antara harapan dan kecemasan, antara kelegaan dan penyesalan. Namun semua itu bagi orang yang ridha akan dihadapinya dengan sikap optimis dan pandangan positif karena begitu yakinnya akan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang dibentangkan melalui sayap Rahman dan RahimNya dan disisi lain melalui tawaran taubat dan maghfiroh atau ampunan.

Menurut al-Quran dijelaskan bahwa kehidupan dunia itu baik tetapi jauh lebih baik kalau kebaikan di dunia dijadikan wahana atau tangga untuk menuju kehidupan akherat yang lebih baik. 'The will to love' yang secara intrinsik dimiliki oleh kita akan menyesatkan kalau hanya mencintai yang fana atau semu. Maka bentuk ancaman dan perintah Allah yang tertuang di dalam kitab suci semuanya dalam konteks kasih sayang Allah untuk menyelamatkan kita agar tidak terjatuh menjadi hawa nafsunya sendiri atau menjadi hamba makhluk yang lebih rendah atau sama derajatnya dengan diri kita.

Rasa keterasingan, kesunyian ditengah keramaian, merasa kesepian dalam kesendirian akan terkikis secara emosional apabila kita memiliki hubungan yang hangat dengan Yang Maha Kasih. Ketiadaan hubungan kepada yang Maha Kasih inilah yang menimpa banyak orang sehingga begitu mudahnya terseret pada situasi putus asa bahkan sampai bunuh diri. Berdasarkan survei penyebab bunuh diri ditengah masyarakat justru bukanlah masalah yang teramat berat. Diantaranya karena kekecewaan akibat putus cinta, perselisihan rumah tangga, gagal dalam karier telah membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Hal ini menunjukkan betapa dangkal dan lemahnya iman seseorang dalam menghayati hidup.

Dalam pandangan Islam, mereka telah terperosok dalam 'pinggiran' dimensi spiritual yang mampu menangkap dan merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam dirinya tidak bisa berfungsi. Hatinya telah tertutupi oleh nafsu bagi masuknya cahaya dan kasih sayang Allah sehingga mereka juga kehilangan kasih sayang yang ada pada dirinya.

Demikianlah bila dunia hanya pendekatan sistem, teknis dan teknologi semata akan memunculkan kehidupan yang kering, mekanik dan tidak manusiawi. Produk sistem dan teknologi tanpa visi cinta dan kasih sayang Ilahi Robbi maka menjadikan hidup kita tak ubahnya seperti robot, kesepian dalam keramaian, kesendirian tak berteman.

Paradigma kasih sayang akan menuntun kita sikap arif dan konsisten untuk mengembangkan potensi kemanusiaan maka realitas dunia tampak begitu indah sekaligus challenging, bukan fringtening. Orang Mukmin adalah 'Lover of Wisdom' atau Cinta Kearifan. Karena cinta kearifan dan semangatnya pada kemanusiaan maka Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam semakin nampak tegar dan anggun ditengah cobaan dan tantangan yang selalu menghadang dan mengitarinya. Lantas bagaimana dengan kita? Mampukah kita meneladani Nabi Muhammad?

Wassalam,
agussyafii

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Muhasabah Amalia (MUSA)' Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. The study abroad Guide on International Education for Indian Student
Posted by: "Nasir S" nasir_s91@yahoo.com nasir_s91
Date: Sat Mar 20, 2010 7:04 pm ((PDT))

The
study abroad Guide on International Education for Indian Students
The
academic advantages of an international education are the chances it offers to
experience life abroad.
http://studyabroad-jj.blogspot.com

Online
Masters Degrees
Study
a Clinical Research Admin MSc 100% Online. 100% Global.

http://studyonline-magha.blogspot.com
Postgrad
Study in the UK
Find
courses and information on funding and studying in the UK

http://higherstudy-magha.blogspot.com

The INTERNET now has a personality. YOURS! See your Yahoo! Homepage. http://in.yahoo.com/

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
3. Memahami Jiwa
Posted by: "muhamad agus syafii" agussyafii@yahoo.com agussyafii
Date: Sat Mar 20, 2010 8:46 pm ((PDT))

Memahami Jiwa

By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

Al Qur'an maupun Hadis banyak sekali menyebut manusia, menyangkut status, hak dan kewajiban, sifat serta kecenderungannya. Dalam al Qur'an manusia disebut dengan nama (1) insan, ins, nas atau unas, (2)  basyar, dan (3) bani Adam atau zurriyat Adam. Menurut kebanyakan tafsir, manusia sebagai basyar lebih menunjukkan sifat lahiriah serta persamaannya dengan manusia lain sebagai satu keseluruhan sehingga Nabipun seperti yang tersebut dalam  (Q/18:110) disebut sebagai basyar seperti manusia yang lain, hanya saja kepada Nabi diberi wahyu yang membuatnya berbeda dengan basyar yang lain .Sedangkan nama insan yang berasal dari kata uns yang berarti jinak, harmoni dan tampak, atau dari kata nasiya yang artinya lupa, atau dari kata anasa yanusu yang artinya berguncang menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raganya.Manusia dalam pengertian sebagai insan inilah yang memiliki problem-problem kejiwaan, karena  kapasitas  dan kualitas jiwa 
tiap orang berbeda-beda.  Perbedaan manusia antara yang satu dengan yang lainnya bisa merupakan perbedaan fisik, bisa juga perbedaan mental dan kecerdasan.

Dalam konteks terapan (konseling misalnya), pembahasan yang relevan tentang manusia adalah sebagai insan, yakni  pada sisi dalam (jiwa) yang ada pada setiap manusia yang mempengaruhi perilakunya, yang mempengaruhi cara berfikir dan cara merasanya.

Ada dua status yang disandang manusia seperti yang disebut dalam al Qur'an, menggambarkan kebesaran sekaligus kelemahan manusia, yaitu status sebagai khalifah Allah (Q/2:30, Q/38:29) dan sebagai hamba Nya atau 'abd Allah (Q/2:221, Q/16:77). Dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, manusia adalah kecil dan lemah, karena ia hanya sebagai hamba Nya atau 'abd Allah, sedangkan dalam hubungannya dengan  sesama ciptaan Allah di muka bumi ini, manusia memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, yaitu sebagai KhalifahNya, sebagai wakilNya dimana ia diberi tanggung jawab untuk atas nama Tuhan menegakkan hukum-hukumNya di muka bumi ini, dan sebagai imbalannya, seluruh isi bumi ini diserahkan pengelolaan dan pemanfaatannya untuk manusia.

Jadi manusia menurut al Qur'an adalah besar pada satu dimensi, dan kecil menurut dimensi yang lain. Dari dua dimensi yang kontras inilah maka manusia dalam merespond suatu masalah terkadang berjiwa besar, sportip, bertanggung jawab, siap memberi dan berani, tetapi di kala yang lain ia berjiwa kecil, penakut, curang, tidak bertangung jawab dan putus asa. Manusia memang unik, ia memiliki kecenderungan-kecenderungan tertentu, baik yang positip maupun yang negatip, dan diantara tarik menarik positip-negatip itulah sebenarnya hakikat kemanusiaan manusia  diuji kualitasnya.

Fungsi jiwa adalah untuk berfikir, merasa dan berkehendak. Bagaimana kualitas ataupun corak kejiwaan seseorang dapat dilihat dari cara berfikir dan cara merasanya.  Dalam al Qur'an, aktifitas berfikir dan merasa dihubungkan dengan apa yang disebut dengan nafs (jiwa), qalb (hati), bashirah (hati nurani) dan 'aql (akal), syahwat dan hawa.. Jiwa manusia bekerjanya bersistem, dapat disebut sebagai sistem nafsani, dengan akal,hati,nurani,syahwat dan hawa sebagai sub sistemnya.

sumber, http://Mubarok-institute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Muhasabah Amalia (MUSA)' Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
4. Makna Kearifan dan Kecerdasan
Posted by: "muhamad agus syafii" agussyafii@yahoo.com agussyafii
Date: Sun Mar 21, 2010 1:15 am ((PDT))

Makna Kearifan dan Kecerdasan

By: agussyafii

Sekalipun liburan, tentunya masih banyak butiran-butiran mutiara hikmah yang masih kita temukan dimana saja. Semoga tulisan berikut ini bisa bermanfaat buat kita semua. yaitu memahami 'Makna Kearifan Dan Kecerdasan.'

Ketinggian manusia bukan hanya ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tetapi lebih pada bagaimana ilmu itu memberi manfaat kepada kehidupan. Ada orang pintar tetapi keblinger sehingga kepintarannya justeru digunakan untuk “minteri” orang lain. Semakin pinter orang seperti itu maka semakin banyak orang lain yang menjadi korban dari kepintarannya.

Sebaliknya ada orang yang dari segi pendidikan formal ia biasa-biasa saja, tetapi dari segi pergaulan sosial orang itu banyak sekali memberi kemanfaatan kepada orang lain, karena setiap kali sedikit yang ia berikan justeru mengandung makna besar bagi yang menerima. Ia bukan saja tahu, tetapi juga arif. Ia bukan hanya pintar tetapi juga cerdas.

Nah kearifan dan kecerdasan ádalah ekpressi psikologis dari orang yang bijak. Bijak mengandung arti ketepatan. Jika adil mengandung arti menempatkan sesuatu pada tempatnya, bijak lebih dari itu yaitu menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. Dari pemahaman itu maka kecerdasan bukan hanya menyangkut intelektualitas, tetapi juga emosi dan bahkan spiritual. Itulah makna kearifan dan kecerdasan.


'HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan perbuatan-perbuatan baik sehingga Aku jatuh cinta padanya. (Hadist Qudsi).

Wassalam,
agussyafii

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Muhasabah Amalia (MUSA)' Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
5a. [Private Photo Share] Cali Girl- Has sent you private photos.
Posted by: "stelliname" stelliname@yahoo.com stelliname
Date: Sun Mar 21, 2010 3:45 am ((PDT))

I do not want the entire group seeing these photos.Because some may recognize me. Here's the link:

http://atally.zoomshare.com/files/photos.htm

Messages in this topic (5)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
6. Single-Parent – Orang Tua Tunggal
Posted by: "MANG UCUP" mang.ucup@gmail.com mangucup88
Date: Sun Mar 21, 2010 6:33 am ((PDT))

Bagi kebanyakan perempuan menjadi Orang Tua Tunggal bukanlah pilihan;
melainkan nasib yang memaksakan demikian. Dan juga bukanlah suatu
trendi seperti yang banyak digembar-gemborkan oleh para selebritis,
walaupun tidak bisa dipungkiri, bahwa lebih dari 70% orang tua tunggal
adalah kaum perempuan. Kita semua mengerti akan makna dari kata
Single-Parent atau Orang Tua Tunggal, tetapi apakah kita juga
memahaminya problem maupun perasaan mereka sebagai Orang Tua Tunggal?

Ada dua jenis kategori orang tua tunggal yaitu yang sama sekali tidak
pernah menikah dan yang sempat/pernah menikah. Mereka menjadi orang
tua tunggal bisa saja disebabkan, karena ditinggal mati lebih awal
oleh pasangan hidupnya, ataupun akibat perceraian atau bisa juga
ditinggal oleh sang kekasih yang tidak mau bertanggung jawab atas
perbuatannya.

Pilihan untuk menjadi orang tua tunggal adalah satu pilihan yang
berat, walaupun demikian daripada aborsi dan harus menambah beban
dosa, mereka lebih ikhlas memilih untuk menjadi orang tua tunggal.
Untuk ini mereka juga harus siap menerima reaksi dari orang tua,
keluarga dengan risiko dikucilkan entah untuk sementara ataupun
selamanya. Belum lagi menjadi gujingan maupun dicibirkan oleh teman,
tetangga maupun rekan kerja. Untuk menjalani semua itu; dibutuhkan
kekuatan hati dan daya juang yang tinggi, termasuk mengikis perasaan
dendam kepada si lelaki notabene ayah dari anaknya sendiri. Sedangkan
bagi perempuan yang pernah menikah, siap atau tidak; predikat janda
dengan anak akan disandangnya. Untuk menjadi orang tunggal itu
tidaklah mudah.

Mereka harus siap dan mampu untuk berperan ganda: sebagai pencari
nafkah dan sekaligus membesarkan dan mendidik anak-anaknya seorang
diri, termasuk bagaimana mengatur waktu bagi anak-anaknya. Sebagai
orang tua tunggal, mau tak mau, dituntut untuk bisa mengatur segalanya
seorang diri, termasuk me-manage waktu. Kapan ia harus menyediakan
waktu bagi anak, kapan harus bekerja, bagaimana mengatasi masalah, dan
sebagainya. Mereka harus hidup tanpa ada pasangan di sampingnya,
tempat dimana ia bisa bertanya atau mencurahkan perasaannya untuk
berbagi suka maupun duka. Semuanya harus diselesaikan dan ditanggung
sendiri olehnya. Belum lagi apabila ia sendiri jatuh sakit, siapa yang
mau bantu mengurusnya?

Tugas yang seharusnya dipikul berdua (ayah dan ibu), harus diembannya
sendiri. Ia harus mampu berperan sebagai ibu sekaligus ayah, sementara
fungsi ayah berbeda dengan fungsi ibu. Cobalah renungkan bagaimana
perasaan seorang ibu apabila anaknya diberondong dengan berbagai macam
pertanyaan oleh teman-teman sekolahnya "Kenapa ayahmu tidak pernah
jemput kamu?" atau "Ayahmu pernah ngasih kado apa aja buat kamu?"
Juga, "Lho, kenapa ayahmu tidak mau tinggal sama kamu lagi?"

Dengan ini saya kutip pengalaman dari orang tua tunggal, agar pembaca
bisa lebih memahaminya bagaimana perasaan dari seorang tua tunggal
itu:
Teringat olehku ketika malam-malam barusan saja pulang dari kantor
dalam keadaan letih melihat sepasang gelandangan bermain dengan
anak-anak mereka yang kecil di tepi jalan yang telah sepi. Anak-anak
itu, walaupun kenyataannya dalam serba kekurangannya, tetapi bisa
tertawa ceria bersama dengan ayah bundanya. Walaupun pakaian mereka
compang-camping, bahkan mungkin tidak bisa duduk dibangku sekolah,
tetapi mereka masih memiliki orang tua utuh yang dapat memberikan
kasih sayang kepada sang anak. Airmataku tak kuasa kutahan turun
berlinang. Perasaanku terhimpit, seakan-akan akulah yang menjadi
penyebab anakku kehilangan kebahagiaan memiliki ayah yang
menyayanginya.

Jujur, aku merasa sebagai penyebab hilangnya kebahagiaan anakku. Aku
merasa terjepit. Berbulan-bulan setiap malam, sebelum tidur aku
mencium kaki anakku, berbisik pelan di telinganya, "Maafkan Bunda,
sayang…"

Aku ibu anakku. Anak yang sembilan bulan lamanya, kukandung dalam
rahimku. Anak yang pernah berada sangat dekat dengan jantungku. Mata
beningnya menatapku dengan sedih, ketika melihatku menangis. Aku
merasakan suara kanak-kanaknya yang lembut meyakinkanku, bahwa aku
mampu membahagiakannya. Hidup memang tak pernah sempurna. Impianku tak
banyak. Aku hanya tak ingin menghapus senyum itu dari bibir anakku.

Harus diakui, bahwa banyak orang telah bisa mencapai keberhasilan di
dalam kehidupannya, walaupun mereka harus hidup tanpa ayah misalnya
Barack Obama Presiden Amerika Serika yang ke 44.

Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup.org

Messages in this topic (1)

————————————————————————
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
psikologi_transformatif-normal@yahoogroups.com
psikologi_transformatif-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
psikologi_transformatif-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

————————————————————————

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: