Kecerdasan Emosi Mampu Menanggulangi Kecenderungan Penyalahgunaan Napza

Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kecenderungan Penyalahgunaan Naza

Masa remaja adalah masa kritis dalam perkembangan individu, karena pada masa ini individu banyak mengalami konflik. Rachman (2000) mengungkapkan bahwa kehidupan remaja sekarang ini diwarnai oleh hal negatif, antara lain adalah penyalahgunaan NAZA. Keadaan ini sangat kurang menguntungkan bagi perkembangan remaja, karena apabila remaja sudah terlibat jauh dengan penyalahgunaan NAZA, maka masa depannya akan hancur.
 Menurut Rachman (2000) banyak faktor pemicu yang dapat mendorong remaja untuk ikut-ikutan dalam NAZA, seperti anak yang tidak mempunyai orangtua, hubungan kedua orangtua kurang harmonis, hubungan anak dengan orangtua yang tidak baik, suasana rumah tangga tanpa kehangatan, atau orangtua yang terlalu sibuk kerja. Rasa takut yang timbul karena ketidakmampuan, kegagalan dalam berinteraksi dan bersaing dengan teman kelompok, intimidasi, pengaruh teman sebaya dan rendahnya pemahaman nilai-nilai keagamaan pada remaja, juga merupakan faktor pemicu yang bisa mendorong remaja ikut-ikutan dalam penyalahgunaan NAZA.
Banyak remaja yang mengalami krisis identitas ketika mempunyai masalah maka akan melarikan diri pada NAZA untuk melupakan masalah yang dihadapinya. Tindakan ini membuat remaja seolah-olah telah menyelesaikan masalahnya, tapi justru dengan melepaskan diri dari masalah dengan penyalahgunaan NAZA akan berakibat kecanduan, dan pemecahan masalah yang tidak sehat itu digunakan sepanjang hidup mereka.
Menurut Padmohoedojo (Joewana dkk, 2001) dari hasil pengamatan dan penelitian terungkap bahwa ada tipe kepribadian tertentu dari remaja yang memiliki kemungkinan untuk menyalahgunakan NAZA, salah satunya adalah remaja yang tidak tahu bagaimana mengambil keputusan yang bijaksana dan juga tidak dapat memahami dan mengungkapkan perasaan hatinya pada orang lain. Remaja yang tidak dapat mengambil keputusan dengan bijaksana, akan gagal dalam mengembangkan alternatif pemecahan masalah dan memungkinkan lari dari permasalahan yang dihadapi. Remaja pada akhirnya melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sehat, yang berada diluar jalur penyelesaian masalah. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kemampuan remaja untuk mengatur dan mengelola emosi rendah, atau dengan kata lain kecerdasan emosional yang dimiliki oleh remaja rendah.
Pudjono (Aeniah, 2001) menyatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan remaja menyalahgunakan obat-obatan berbahaya adalah karena remaja lari menghindari persoalan yang menghimpit dada. Reaksi pelarian disebabkan remaja tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI (2000) menambahkan bahwa salah satu ciri yang dapat menyebabkan remaja mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi  penyalahguna NAZA adalah karena melarikan diri dari sesuatu (kebosanan, kegagalan, kekecewaan, ketidakmampuan, kesepian dan kegetiran hidup).
Rosanawati (2002) mengatakan bahwa untuk menyelesaikan masalah perlu menggunakan kecerdasan emosional. Hasil penelitian Rosanawati (2002) menunjukkan bahwa remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah akan memilih Emotional Focused Coping (EFC) daripada Problem Focused Coping (PFC) karena mereka cenderung untuk memilih penyelesaian masalah yang mereka hadapi dengan cara menghindarinya, tanpa mencari penyelesaiannya, sehingga permasalahan yang mereka hadapi akan muncul lagi karena sebelumnya tidak ada pemecahan masalah. Salah satu bentuk perilaku dari Emotional Focused Coping adalah escapism. Remaja dengan kecerdasan emosional yang rendah, saat tidak mampu menyelesaikan masalahnya maka akan melarikan diri pada NAZA.
Rosanawati (2002) mengatakan bahwa individu dengan kecerdasan emosional yang tinggi cenderung memilih strategi coping PFC karena PFC adalah penyelesaian masalah yang menyelesaikan inti dari permasalahan tersebut. Remaja dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan mampu mengendalikan diri, sabar serta tekun sehingga sikap dan tindakannya lebih rasional daripada emosional (Hawari, 2000).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah, akan memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi NAZA yang pada akhirnya terlibat penyalahgunaan NAZA. Hal tersebut disebabkan remaja lebih memilih melarikan diri (escape reaction) saat tidak mampu mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Sebaliknya remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan mengatasi masalahnya dengan cara-cara yang baik, serta sikap dan tindakannya lebih rasional.
Terjadinya penyalahgunaan NAZA disebabkan karena interaksi dari tiga faktor yaitu: faktor individu, faktor lingkungan, dan faktor tersedianya NAZA. Faktor individu meliputi individu yang memiliki gangguan kepribadian (anti sosial), individu yang mudah kecewa, kesulitan dalam bergaul, tidak mampu mengambil keputusan dengan bijaksana, melarikan diri dari sesuatu (kegagalan, kekecewaan, ketidakmampuan, kebosanan, kegetiran hidup). Faktor lingkungan yang menjadi penyebab munculnya penyalahgunaan NAZA adalah lingkungan keluarga dengan kondisi keluarga yang tidak baik (disfungsi keluarga), lingkungan sekolah yang kurang disiplin dan dekat dengan tempat hiburan, pengaruh tekanan teman sebaya, lingkungan masyarakat/sosial yang kurang mendukung dan lemahnya penegakan hukum. Faktor NAZA yang dapat menjadi penyebab terjadinya penyalahgunaan NAZA seperti mudahnya NAZA didapat dimana-mana dengan harga terjangkau, banyaknya iklan minuman beralkohol yang menarik untuk dicoba, dan khasiat farmakologik NAZA.
Terkait dengan faktor individu, karakteristik individu yang memiliki gangguan kepribadian anti sosial dan individu yang tidak mampu mengambil keputusan dengan bijaksana serta individu yang melarikan diri dari sesuatu (kegagalan, kekecewaan, ketidakmampuan, kebosanan, kegetiran hidup) adalah individu yang memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi NAZA yang pada akhirnya akan terlibat pada penyalahgunaan NAZA. Penyalahgunaan NAZA dimaksudkan untuk mengobati dirinya sendiri (self medication) dan untuk melarikan diri dari masalah yang dihadapinya (escape reaction).
Penyelesaian masalah memerlukan adanya kecerdasan emosional, karena kecerdasan emosional merupakan kemampuan dalam diri seseorang untuk menyadari, mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, mengelola dan megontrolnya sehingga dapat merespon dengan tepat setiap situasi dan dapat membawa dampak positif bagi dirinya dan orang lain. Individu yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah, ketika memiliki masalah akan memilih strategi Emotional Focused Coping (EFC) yaitu menghindari penyelesaian masalah/lari dari masalah yang dihadapi dengan cara yang tidak sehat, yaitu di luar jalur penyelesaian masalah sehingga memungkinkan terjadinya penyalahgunaan NAZA. Sebaliknya, individu dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan memilih strategi Problem Focused Coping (PFC) ketika memiliki masalah yaitu menghadapi permasalahan dan mencari jalan keluar dari permasalahan dengan cara yang tepat sehingga tidak memungkinkan untuk terpengaruh pada penyalahgunaan NAZA.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: