Kelekatan Aman Remaja Dengan Kecenderungan Menggunakan Problem Focused Coping

Hubungan Antara Kelekatan Aman Dengan Kecenderungan Menggunakan Problem Focused Coping Pada Remaja Tengah

Compas (dalam Taylor, 1995) mengemukakan PFC dan EFC tidak dibawa sejak lahir, tetapi terbentuk pada masa kanak-kanak. Orangtua mempunyai peranan besar dalam membentuk kemampuan mengatasi masalah yang dihadapi anaknya.
Para ahli mengemukakan bahwa bayi yang normal akan membentuk kelekatan. Anak-anak membangun kelekatan dengan orang yang mengasuh mereka, biasanya figur lekat pertama bagi anak adalah ibu. Kelekatan antara anak dengan ibu mempunyai konsekuensi jangka panjang. Para ahli dengan berpedoman pada teori Freud mengemukakan bahwa interaksi dini antara ibu dengan anak mempunyai sifat khusus yang penting untuk perkembangan anak selanjutnya. Kelekatan mempunyai nilai kelangsungan hidup bagi anak karena memberikan rasa aman dan tentram pada saat anak mempelajari alam kehidupan dan kejadian yang tidak terduga. Kelekatan juga merupakan dasar utama perkembangan emosi, sosial dan kognitif (Mussen, dkk, 1988).
Anak-anak dengan  kelekatan aman diharapkan menjadi makhluk sosial yang mudah menyesuaikan diri dan mempunyai rasa ingin tahu pada lingkungannya, ingin mempelajari dan mengembangkan kemampuannya untuk mengatasi tekanan batin.  Kelekatan aman terbentuk oleh pengasuhan dengan cara yang hangat, konsisten, bertanggung jawab serta lembut, bukan hanya pada fungsi biologis seperti pemberian makan dan kebersihan (Mussen, dkk, 1988).
Erikson (dalam Santrock,1995) yakin bahwa tahun pertama kehidupan adalah kerangka waktu kunci bagi perkembangan kelekatan. Erikson menyebutkan bahwa tahun pertama kehidupan merupakan tahap munculnya kepercayaan dan ketidakpercayaan. Suatu rasa percaya memerlukan perasaan akan adanya kenyamanan fisik dan sejumlah kecil rasa khawatir dan pemahaman akan masa depan. Kepercayaan pada masa bayi merupakan tahap bagi terbentuknya harapan seumur hidup bahwa dunia akan menjadi tempat yang baik dan menyenangkan untuk dihuni.
Erikson (dalam Haditono, dkk, 2002) mengemukakan bahwa tahap awal perkembangan anak merupakan tahap perkembangan yang utama. Anak yang melewati tahap ini dengan berhasil akan melewati tahap perkembangan selanjutnya dengan mudah. Gangguan mungkin muncul pada tahap berikutnya tetapi bagi anak yang berhasil pada tahap utama ini dapat mengatasi gangguan tersebut dengan baik.
            Banyak penelitian telah menemukan bahwa kelekatan berhubungan dengan banyak aspek dari kompetensi anak-anak. Salah satunya, kemampuan mengatasi masalah tampaknya berkaitan dengan pola kelekatan awal. Matas, dkk (dalam Atkinson, dkk, 2001) melakukan penelitian pada anak yang berusia 2 tahun dengan cara memberikan sejumlah masalah yang mengharuskan pemakaian alat. Mereka menemukan bahwa anak yang dinilai memiliki kelekatan aman mendekati masalah dengan antusias dan gigih. Jika mereka menghadapi kesulitan, mereka jarang menangis atau menjadi marah, namun mereka mencari bantuan dari orang dewasa yang ada. Mereka yang sebelumnya dinilai memiliki kelekatan tidak aman berperilaku sangat berbeda. Mereka menjadi mudah marah dan frustasi, jarang meminta bantuan, cenderung mengabaikan atau menolak pengarahan dari orang dewasa dan cepat menyerah dalam mencoba memecahkan masalah.
            Penelitian Matas, dkk (dalam Atkinson, dkk, 2001) yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa anak dengan  kelekatan aman cenderung menggunakan problem focused coping ketika dihadapkan pada masalah. Mereka menghadapi masalah dengan antusias dan gigih, tidak melarikan diri dari masalah, jarang menangis atau menjadi marah, mencari bantuan saat menemukan kesulitan. Anak dengan  kelekatan tidak aman cenderung menggunakan emotion focused coping ketika dihadapkan pada masalah. Mereka menjadi mudah marah dan frustasi, jarang meminta bantuan, cenderung mengabaikan atau menolak pengarahan dari orang dewasa dan cepat menyerah dalam mencoba memecahkan masalah.
Hetherington & Parke (1998) mengemukakan bahwa interaksi sosial anak dengan figur lekat yang dimulai sejak dini dapat membentuk sikap dan perilaku anak, termasuk penghargaan terhadap diri, perkembangan kognitif, dan perkembangan sosial. Dampak dari kelekatan anak dengan orangtua dalam perkembangan kognitif, antara lain, kemampuan melakukan eksplorasi dan mengatasi masalah. 
Wright (dalam Sharp & Cowie, 1998) melakukan penelitian terhadap anak usia 8-12 tahun dengan menggunakan the Separation Anxiety Test. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak dengan  kelekatan aman cenderung mengakui kecemasan karena berpisah dengan orangtua dan menunjukkan strategi coping yang tepat. Berbeda dengan  anak yang memiliki  kelekatan tidak aman, anak ini cenderung menolak kecemasan yang muncul dan menunjukkan strategi coping yang tidak tepat. Weiss (dalam Sharp & Cowie, 1998) menambahkan bahwa kecenderungan tersebut berlangsung secara kontinyu, dari masa anak-anak, remaja hingga dewasa.
Klasifikasi kelekatan telah ditemukan tetap stabil saat diuji ulang dalam Situasi Asing beberapa tahun kemudian, kecuali pada keluarga yang mengalami perubahan besar dalam situasi kehidupan mereka (Thompson, Lamb & Estes, Main & Cassidy dalam Atkinson, 2001). Hal tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan besar kecenderungan menggunakan problem focused coping pada anak yang memiliki  kelekatan aman akan dibawa hingga anak menginjak remaja.
Telah disebutkan oleh Helmi (1999) bahwa pengalaman kelekatan awal akan mempengaruhi model mental remaja. Remaja yang mengembangkan model mental yang positif, baik terhadap diri maupun orang lain, cenderung mempertahankan kelekatan dengan orangtua, meskipun figur lekatnya sudah bertambah. Hal itu disebabkan remaja yang memandang orangtua sebagai orang yang dapat dipercaya, responsif dan penuh kasih sayang sehingga remaja merasa aman apabila melekatkan diri pada orangtua. Model mental ini akan berkembang menjadi karakteristik kepribadian remaja. Remaja yang memiliki karakteristik kepribadian dengan ciri-ciri penuh percaya diri, penuh dorongan dan merasa dirinya berharga cenderung menggunakan PFC saat menghadapi masalah, karena remaja ini mampu mengendalikan diri dari perilaku maladaptif dan menghindari  penyelesaian masalah yang kurang efektif.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa dinamika psikologis antara  kelekatan aman dengan kecenderungan menggunakan problem focused coping sebagai berikut : interaksi anak dengan orangtua yang konsisten sejak bayi  à terbentuk  kelekatan aman à kemampuan kognitif anak berkembang à anak mampu mengatasi masalah à menggunakan strategi Problem Focused Coping (PFC). Kecenderungan menggunakan strategi PFC ini akan terus dibawa hingga anak menginjak masa remaja karena kecenderungan ini berlangsung secara kontinyu dari masa anak-anak, remaja hingga dewasa. 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: