Hubungan Kepemimpinan Transformasional Dengan Organizational Citizenship Behavior

Hubungan Antara Kepemimpinan Transformasional Dengan Organizational Citizenship Behavior

Terdapat beberapa penjelasan mengenai keterkaitan antara kepemimpinan transformasioanl dengan OCB. Beberapa literatur menyatakan bahwa pemimpin yang bersifat transformasional dapat membuat bawahannya bekerja lebih keras dan mau untuk bekerja lebih dari apa yang seharusnya mereka kerjakan. Bass (Purvanova,dkk, 2006) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional dapat membuat para bawahan menjadi lebih terlibat dan peduli pada pekerjaannya, lebih banyak mencurahkan perhatian dan waktu untuk pekerjaannya, dan menjadi kurang perhatiannya kepada kepentingan-kepentingan pribadinya. Mereka, begitu pula, dapat membuat bawahanya mau untuk melakukan sesuatu melebihi kewajibannya.
 Lebih jauh, Organ (Sekiguchi, 2006) memberikan penjelasan mengenai keterkaitan antara Kepemimpinan Transformasional dan Organizational Citizenship Behavior. Hal tersebut akan dijabarkan dalam paragraf-paragraf di bawah ini.
Organ (Sekiguchi, 2006) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional dapat mempengaruhi bawahan melalui terciptanya rasa percaya para bawahan kepada pemimpinya.
Penyampaian inspirasi pemimpin kepada para bawahan adalah suatu hal yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi. Penyampaian gambaran-gambaran tentang perusahaan oleh pemimpin kepada bawahan akan menumbuhkan perasaan pada para bawahan bahwa perusahaan sedang mengalami kemajuan. Penyampaian gambaran tersebut juga  memberi gambaran kepada para bawahan tentang posisi perusahaan relatif terhadap tujuan yang hendak dicapai, dan bagaimana cara untuk mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut dapat membuat karyawan lebih mendapatkan kepuasan kerja, sehingga termotivasi untuk bekerja lebih keras guna mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan perusahaan. Hal semacam ini juga dapat menumbuhkan pemahaman
yang lebih jelas tentang peran karyawan dalam pencapaian tujuan tersebut,serta memberikan harapan pada para karyawan akan masa depan yang lebih baik. Pemimpin yang menunjukan perilaku semacam ini lebih disukai dan dipercaya oleh bawahannya. Rasa suka dan kepercayaan para bawahan akan meningkatkan usaha tambahan dari para bawahan, guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
            Pemimpin yang menjadi model bagi bawahannya dapat meningkatkan OCB melalui beberapa cara. Pemimpin yang memberikan contoh untuk melakukan OCB, akan memotivasi bawahannya untuk melakukan hal tersebut (OCB). Pemimpin yang dapat menjadi contoh konsistensi antara perkataan dan perbuatan juga akan disukai oleh bawahannya.  Rasa suka dan kepercayaan para bawahan akan meningkatkan usaha tambahan dari para bawahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Organ (Sekiguchi, 2006) bahwa rasa percaya kepada pemimpin dapat meningkatkan kecenderungan bawahan untuk melakukan OCB..
            Pemimpin yang memotivasi bawahan agar lebih mementingkan pencapaian tujuan perusahaan, akan berusaha menjalin kerjasama dengan para bawahan, dan melibatkan mereka dalam pencapaian-pencapaian tujuan perusahaan tersebut. Perilaku semacam ini akan meningkatkan perasaan satu kesatuan dan satu identitas dari para bawahan, serta meningkatkan pula kecenderungan mereka untuk mengurangi keinginan-keinginan pribadinya, hingga secara sukarela akan melakukan perilaku-perilaku altruistik, demi tercapainya tujuan perusahaan secara umum. Hal itu juga meningkatkan rasa tanggungjawab pekerja terhadap perusahaannya, sehingga akan meningkatkan OCB.
            Dukungan personal kepada para bawahan dapat meningkatkan munculnya OCB oleh mereka. Dukungan personal kepada karyawan dapat meningkatkan kepuasan kerja, khususnya kepuasan terhadap supervisornya, sehingga para bawahan tersebut akan melakukan aksi balas budi melalui OCB. Sebagaimana penelitian oleh Eturk, dkk (2004) yang menunjukan bahwa kepuasan kerja dapat meningkatkan kecenderungan OCB. Podsakoff et al. (1996) menyatakan, menghasilkan kesimpulan bahwa perilaku pemimpin transformasional secara signifikan berhubungan dengan perilaku dan tanggapan para pengikut untuk memerankan perilaku-perilaku OCB. Konseptualisasi yang dilakukan Van Dyne et al. (1994), menghasilkan tiga dimensi konstruk OCB, yaitu loyalitas, kepatuhan dan partisipasi. 
         Secara konseptual, perilaku-perilaku pemimpin transformasional berhubungan erat dengan tingkat loyalitas, kepatuhan dan partisipasi bawahannya. Sebagai contoh, pemimpin yang memberikan perhatian pribadi kepada para pengikut untuk memajukan pengembangan dan prestasi mereka akan cenderung mendorong para bawahan untuk terlibat secara aktif dan bertanggung-jawab dalam proses-proses organisasional. Pemimpin yang memampukan para pengikut agar memikirkan permasalahan-permasalahan lama dengan cara-cara yang baru, akan mendapatkan loyalitas dan kepatuhan bawahan. Demikian pula, pemimpin yang memperagakan model perilaku-perilaku peran bagi para pengikut melalui contoh prestasi-prestasi, karakter, dan atau perilaku pribadi, akan mendorong karyawan untuk patuh dan loyal kepadanya.
            Pengharapan atasan akan performansi maksimal dari bawahan serta stimulasi intelektual dapat meningkatkan terjadinya OCB. Fokus terus menerus terhadap harapan munculnya performansi maksimal dari karyawan akan meningkatkan rasa tanggung jawab dari mereka, dan memotivasi mereka untuk mencapainya. Salah satu cara yang bisa mereka lakukan adalah melalui OCB

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: