Hubungan Kepercayaan Diri Dan Dukungan Suami Dengan Kecemasan Ibu Melahirkan

Hubungan Kepercayaan Diri Dan Dukungan Suami Dengan Kecemasan Menghadapi Kelahiran Bayi Pada Wanita Hamil

Kehadiran seorang bayi dalam sebuah keluarga menumbuhkan perasaan yang menyenangkan, menggembirakan dan membahagiakan, apalagi bila anak itu sangat dikehendaki atau direncanakan sebelumnya oleh pasangan suami istri. Meskipun merasa gembira, senang dan bahagia tetapi menghadapi kelahiran bayi bagi seorang wanita hamil merupakan  situasi yang mengancam keberadaan dirinya.
Kecemasan menghadapi kelahiran bayi yang terjadi terus menerus akan mempengaruhi kehidupan janin dalam kandungan maupun keselamatan calon ibu yang mengandungnya (Zanden, 1985 dalam Prawirohardjo dkk, 1987). Kepercayaan diri dan dukungan sosial akan mengurangi kondisi emosi-stres sehingga menjadi kondisi emosi yang stabil, tenang, aman, tidak cemas, tidak takut dan tentram. Kondisi emosi yang stabil tersebut mempengaruhi syaraf para-sympathetis untuk menghambat kerja syaraf symphathetis.
Tinggi rendahnya tingkat kepercayaan diri dan dukungan suami erat kaitannya dengan tinggi rendahnya tingkat kecemasan menghadapi kelahiran bayi pada wanita hamil. Tingkat kepercayaan diri dan dukungan suami yang tinggi ditandai dengan perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri, tenang, berani, tidak takut, tidak cemas, tidak khawatir, tidak gelisah, tidak ragu-ragu, mandiri dan optimis dalam menghadapi kelahiran bayinya dengan baik.
Melahirkan bayi bukan merupakan ancaman atau beban bagi dirinya, tetapi merupakan kewajiban sebagai seorang calon ibu. Bagi wanita hamil yang mempunyai tingkat kepercayaan diri dan dukungan suami yang tinggi tidak akan merasa cemas, khawatir, takut tetapi akan merasa senang, optimis, yakin akan kemampuan diri sendiri untuk dapat menghadapi kelahiran bayinya. Sebaliknya wanita hamil yang mempunyai tingkat kepercayaan diri dan dukungan suami rendah akan merasa kurang yakin terhadap kemampuan diri sendiri, tidak tenang, tidak tentram, stress, cemas, gelisah, ragu-ragu, khawatir, takut dan pesimis dalam menghadapi kelahiran bayinya menghadapi kelahiran bayi bagi wanita hamil pertama yang mempunyai tingkat kepercayaan diri dan dukungan suami rendah akan dirasakan sebagai beban dan tekanan yang mengancam keberadaan dirinya, sehingga ia semakin merasa cemas dalam menghadapi kelahiran bayinya.
Kecemasan pada wanita hamil dalam menghadapi kelahiran bayi  akan semakin tinggi apabila suami selalu memberikan dukungan. Karena adanya beberapa fase yang menunjukkan ciri khusus masa kehamilan.
            Si istri sering meminta dan menuntut macam-macam kepada suaminya, ia  kadang-kadang tenggelam dalam perasaan yang mendalam dan sering menangis.
Gambaran umum pada fase ini yakni sikap istri menjadi cepat tersinggung dan suka marah-marah. Tetapi perilaku macam itu merupakan sesuatu yang alamiah, dan ini tidak selalu berakibat negatif. Ada wanita yang merasa senang dan tidak mengalami depresi pada fase ini. Ada juga kelompok ibu yang berada antara perasaan senang dan rasa tertekan yang silih berganti.
Kondisi seorang suami selama istrinya hamil tidak hanya mengalami perubahan fisik seperti sakit punggung. Pada masa ini kaum laki-laki cenderung memberi reaksi positif terhadap istrinya.
Masa kehamilan itu sendiri sesungguhnya bukanlah suatu peristiwa yang benar-benar menyenangkan. Periode ini sering membawa situasi emosional pada keluarga. Dukungan moral seorang suami pada istrinya adalah hal yang memang dibutuhkan. Sangat dianjurkan suami mesti memberikan dukungan yang lebih besar kepada istrinya.
Pada fase kedua kehamilan ketika kandungan istri semakin tampak maka berbagai pihak luar seperti sahabat, kenalan, sanak keluarga akan memberi rasa percaya diri dan dorongan. Dorongan ini sangat membahagiakan si calon ibu. Pada periode ini dukungan dan kepercayaan diri adalah kesempatan yang baik. Dialog, cerita dan mendengar pengalaman-pengalaman dari ibu yang lain merupakan nilai-nilai berharga untuk menumbuhkan pengharapan dan kekuatan pada diri si calon ibu. Pada fase kedua ini peranan orang lain seperti sahabat, keluarga menjadi lebih penting bila dibandingkan pada fase pertama.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa adanya kepercayaan diri dan dukungan suami yang rendah secara tidak langsung berkaitan dengan munculnya kecemasan yang kurang menguntungkan bagi istri yang akan menghadapi kelahiran bayi. Dimana kepercayaan diri dan dukungan suami yang tinggi berpengaruh positif terhadap kecemasan sehingga semakin tinggi kepercayaan diri dan dukungan suami yang diperoleh wanita hamil (istri) dalam menghadapi kelahiran bayi maka tingkat kecemasan yang dialami akan rendah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: