Persepsi Bawahan Terhadap Kepemimpinan Laki-laki Dan Perempuan Di Perusahaan

Perhatian terhadap peranan perempuan didalam kekuatan kerja telah meningkat beberapa waktu yang lalu. Stereotipe tentang peran jenis kelamin yang lebih cenderung pada sifat perempuan telah dihubungkan dengan efektifitas kepemimpinan (Schein ; dalam Johanne, dkk, 1985). Salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas kepemimpinan adalah karakteristik kepribadian pemimpin. Karakteristik kepribadian antara pemimpin laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Laki-laki diasumsikan mempunyai sifat-sifat seperti tegas, agresif, ambisi, memiliki pola pikir logis sedangkan perempuan digambarkan pasif, submitif, emosional dan tidak tegas (Deux & Lewis, dalam Baron & Byrne, 1991).
Penelitian yang dilakukan oleh Rosenkrantz dkk (Sears dkk,1985) memberi nilai lebih tinggi pada laki-laki untuk sifat-sifat yang berhubungan dengan kecakapan seperti kepemimpinan, objektivitas, dan kemandirian. Sebagai bandingnya kebanyakan orang memberi nilai lebih tinggi pada perempuan untuk sifat-sifat yang berhubungan dengan kehangatan dan kemampuan mengungkapkan perasaan, seperti kelembutan dan kepekaan terhadap perasaan orang lain.
Howard dan Bray (Bass, 1990) menemukan bahwa pengukuran terhadap perempuan adalah bahwa perempuan dianggap lebih sensitif dan secara sosial perempuan lebih obyektif. Selain itu, perempuan terbukti lebih unggul dalam melakukan pengkodean isyarat nonverbal (Hall & Hallberstadt ; dalam Bass, 1990). Deux (Bass, 1990) menyimpulkan dari sudut pandang studi bahwa karena lebih sensitif terhadap isyarat nonverbal, perempuan berusaha meminimalkan jarak sosial sementara laki-laki menggunakan perilaku nonverbal untuk mempertahankan jarak sosial dan untuk menegaskan status.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tetap ada terutama dalam hal identifikasi, keyakinan diri, nilai moral, kepedulian interpersonal dan penggunaan kekuasaan. Perbedaan yang muncul diantaranya adalah sikap terhadap kekuasaan, kecenderungan untuk bekerjasama, orientasi peran gender dan sikap terhadap diri sendiri. Perbedaan-perbedaan ini mungkin merupakan perbedaan yang ada terus diantara kedua jenis kelamin tersebut yang dapat mempengaruhi kepemimpinan. (Bass, 1990).
Berdasarkan uraian diatas, jelaslah bahwa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang mana perbedaan ini akan menyebabkan perbedaan gaya kepemimpinan laki-laki dan perempuan dan menimbulkan persepsi yang berbeda bagi bawahan terhadap kepemimpinan laki-laki dan kepemimpinan perempuan pada suatu perusahaan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: