Prasangka Rasial Dan Perilaku Diskriminatif Pada Kelompok Pribumi Dan Etnis Tionghoa

Sebelum kedatangan orang Belanda, orang Tionghoa di Indonesia hidup damai dengan penduduk setempat. Mereka hidup membaur dengan saling membawa budaya masing-masing. Pada permulaan abad XIX, jumlah penduduk Tionghoa di Batavia lebih dari 100.000 orang sedangkan penduduk pulau Jawa diperkirakan lima juta orang. Mereka hidup menyebar ke seluruh pulau Jawa, ke daerah pedalaman dan di sepanjang pesisir utara. Mereka adalah bangsa yang paling rajin dan berguna di dunia belahan Timur dan pada umumnya mereka adalah orang-orang yang menyukai hidup damai dan menghindari keributan. Tidak ada huru-hara baru sejak pemberontakan 1742 dan pertumpahan darah yang memerlukan penindasan (Setiono, 2002).
Realita multikulturalisme ini tidak menguntungkan bagi penjajah. Interaksi yang baik antara etnis Tionghoa dan penduduk asli dapat mengancam hegemoni Belanda terutama jika kedua etnis ini bersatu. Belanda memakai strategi proyeksi, yaitu strategi yang diciptakan untuk mengalihkan kebencian penduduk asli terhadap Belanda ke etnis Tionghoa, dan ini dilakukan demi kepentingan Belanda (Toer, 1998).

Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan aturan penggolongan masyarakat berdasarkan ras (stratstegeling), penggolongan tersebut dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Eropa (Europeanen), Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) dan Pribumi (Inlander). Penggolongan masyarakat menimbulkan prasangka pribumi terhadap etnis Tionghoa. Sebagai minoritas etnis Tionghoa ditempatkan sebagai golongan kedua dalam masyarakat, sedangkan pribumi menjadi golongan kelas bawah dalam masyarakat. Belanda berhasil memisahkan etnis Tionghoa dan penduduk pribumi melalui aturan tersebut. Selanjutnya pada tahun 1911 masyarakat etnis Tionghoa mulai dikenakan kewarganegaraan ganda, yang mana hal tersebut berlanjut hingga masa awal kemerdekaan Indonesia dan masalah tersebut mulai diselesaikan pada tahun 1962.

Sejarah mencatat berbagai bentuk hubungan masyarakat Tionghoa dengan masyarakat Indonesia, semenjak awal kedatangan masyarakat Tionghoa ke Indonesia sampai dengan masa pergantian pemerintahan Orde Baru dengan pemerintahan Reformasi. Diantaranya terdapat catatan pembunuhan etnis Tionghoa tahun 1740, zaman keemasan pers Melayu Tionghoa, pembunuhan masal etnis Tionghoa (1946-1948), peristiwa rasialis 10 Mei 1963, kampanye dan aksi anti Tionghoa pasca G30S, peristiwa rasialis anti Tionghoa di Solo-Semarang tahun 1980, peristiwa kerusuhan tahun 1998, serta pemberlakuan Keppres No.6 Tahun 2000 yang berisikan pemberian kebebasan dan peluang sebesar-besarnya pada warga Tionghoa untuk berekspresi.

Putaran sejarah bangsa Indonesia khususnya tentang hubungan antara etnis Tionghoa dengan masyarakat pribumi menggambarkan bagaimana prasangka rasial lahir di kalangan kedua kelompok tersebut. Adanya prasangka rasial diantara kedua kelompok melahirkan berbagai macam perilaku salah satunya adalah perilaku diskriminatif. Realitas sejarah ini dapat dipahami dalam kerangka konseptual yaitu, pada mulanya terdapat sekerumunan orang yang terdapat dalam satu wilayah, orang-orang tersebut memiliki keinginan atau tujuan yang sama. 

Agar tujuannya terwujud mereka melakukan hubungan kerja sama, saling berkomunikasi, mengadakan kompetisi dan sebagainya. Maka berlangsunglah hubungan antar individu dengan individu lain, individu dengan kelompok atau kelompok satu dengan kelompok yang lain, dan dalam hal ini hubungan tersebut dapat dimasukkan dalam arti interaksi sosial.

Interaksi yang terjadi antara dua orang atau dua kelompok tidak selamanya berjalan secara positif, kadang terjadi kompetisi-kompetisi untuk memperebutkan suatu hal. Dengan adanya kompetisi antar kelompok, individu dari kelompok tertentu akan memandang individu dari kelompok lain secara negatif. Mereka menganggap individu dari kelompok lain sebagai musuh dan menganggap kelompoknyalah yang benar. Kondisi semacam ini pada akhirnya akan membawa individu dari kelompok yang satu menjadi berprasangka terhadap individu dari kelompok yang lain.

Situasi tersebut dapat dijelaskan dengan ide yang disampaikan oleh Mar’at (Wulandoro, 1997) bahwa ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya prasangka, yaitu : (1) adanya ketegangan situasi yang senantiasa relatif dan bersifat individu atau sentris kelompok, (2) dalam tiap-tiap kelompok akan senantiasa ada minoritas, dan (3) adanya persaingan yang mengakibatkan timbulnya prasangka.

Evaluasi negatif yang dilakukan dari satu kelompok kepada kelompok lain, cenderung menimbulkan anggapan bahwa kelompoknyalah yang paling benar. Anggapan ini disebut sebagai ingroup bias, kondisi tersebut dapat merefleksikan kesukaan terhadap ingroup, atau ketidaksukaan terhadap outgroup, dan atau kombinasi dari keduanya (Soeboer, 1990). Jika yang terjadi adalah kombinasi dari kesukaan terhadap ingroup dan ketidaksukaan terhadap outgroup, implikasinya adalah loyalitas kepada kelompoknya akan diikuti dengan penilaian rendah terhadap kelompok lain. 

Anggota kelompok tersebut akan selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling benar. Segala usaha tetap mereka lakukan walaupun tindakan tersebut negatif dan bersifat apriori, sehingga yang pada awalnya hanya memunculkan prasangka tetapi kali ini diikuti pula dengan perilaku diskriminasi.

Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan yang dijelaskan oleh Gerungan (1991), prasangka yang pada mulanya hanya merupakan sikap-sikap perasaan negatif itu, lambat-laun menyatakan dirinya dalam tindakan yang diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk dalam golongan yang diprasangkainya itu, tanpa terdapat alasan yang objektif pada pribadi orang yang dikenakan tindakan diskriminatif.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Warner dan De Fleur (Azwar, 2003) mengenai postulat konsistensi (postulate of consistency), bahwa sikap verbal merupakan petunjuk yang cukup akurat untuk memprediksikan apa yang akan dilakukan seseorang bila ia dihadapkan pada suatu obyek sikap. Jadi postulat ini mengasumsikan adanya hubungan langsung antara sikap dan perilaku. Bukti yang mendukung postulat konsistensi dapat terlihat pada pola perilaku individu yang memiliki sikap ekstrim. Misalnya, apabila ada subyek yang berprasangka terhadap individu atau kelompok etnis lain maka dia juga melakukan perilaku diskriminatif terhadap target prasangkanya.

Prasangka rasial dalam pandangan Soeboer (1990) dapat dibedakan menjadi empat tipe. Pertama, dominative, Individu mengekspresikan prasangkanya secara terbuka terhadap kelompok yang diprasangkainya. Kedua, ambivalen. Individu mengekspresikan perasaan tidak suka terhadap target prasangka tetapi pada saat yang sama bersimpati terhadap keadaan mereka. Ketiga, aversive. Individu memandang dirinya sebagai liberal, tidak berprasangka, dan menunjukkan sikap yang positif terhadap program-program yang dirancang untuk membantu anggota kelompok yang diprasangkai. Ia akan bersikap ramah, sopan, dalam mengadakan kontak dengan target prasangka. Keempat, nonprasangka, individu benar-benar tidak berprasangka, mengikuti norma-norma sosial secara rasional, menjunjung keadilan, dan kemanusiaan. Tentunya, masing-masing tipe akan melahirkan perilaku diskriminatif yang berbeda. Mengingat masing-masing tipe memiliki karakteristik maupun ciri yang berbeda sehingga dalam memunculkan tipe-tipe perilaku diskriminatifnya pun akan berbeda.

Perilaku diskriminatif sendiri memiliki tipe-tipe yang berbeda, sebagaimana diungkapkan oleh Baron dan Byrne (1994) pertama, diskriminasi secara nyata. Kedua, keengganan untuk menolong. Ketiga, tokenisme dan keempat, reverse discrimination. Soeboer (1990) mengungkapkan orang yang memiliki prasangka rasial bertipe aversive–dimana individu bertipe tersebut memandang dirinya liberal, tidak berprasangka dan menunjukkan sikap positif terhadap kelompok lain—menunjukkan tipe perilaku diskriminasinya dalam bentuk tokenisme—menunjukkan sikap positif namun dibalik itu mencoba untuk berperilaku tidak adil terhadap target prasangka. Individu yang memiliki prasangka rasial bertipe dominative—mengekspresikan prasangka secara terbuka—menunjukkan tipe diskriminasi secara nyata misalnya dengan memasukkan anaknya pada sekolah khusus yang tidak bercampur dengan target prasangka.
Berdasarkan dari pembacaan realitas yang terjadi, dapat diduga bahwa ada hubungan antara prasangka rasial dengan perilaku diskriminatif. Di mana prasangka rasial mempengaruhi munculnya perilaku diskriminatif pada individu atau kelompok lain yang diprasangkainya. Di samping itu, tipe-tipe prasangka diduga berhubungan dengan tipe-tipe perilaku diskriminatif yang dilakukan oleh indvidu terhadap target prasangka.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: