Proactive Coping Mahasiswa Dalam Mengerjakan Tugas Akhir Ditinjau Dari Self Efficacy

Mengalami masalah, apalagi yang mengakibatkan stress adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan bagi siapapun. Tugas akhir sebagai salah satu tugas akademik yang wajib dikerjakan mahasiswa, memungkinkan pula terjadinya masalah-masalah yang mengakibatkan stress. Semakin kompleks aktivitas yang berkaitan dengan proses pengerjaan tugas akhir yang dilakukan, semakin tinggi tingkat kesulitan yang dirasakan mahasiswa. Tingkat kesulitan yang tinggi membuat mahasiswa akan mempersepsi tugas akhir sebagai beban atau sumber masalah dalam menyelesaikan studi. Fenomena ini dapat berimplikasi pada munculnya macam-macam reaksi mahasiswa terhadap tugas akhir seperti cemas, sulit berkonsentrasi, menghindar, atau bahkan meningkatkan permasalahan psikologis yang lain misalnya frustrasi atau menunda mengerjakan tugas (prokrastinasi).
Masalah-masalah yang muncul selama proses mengerjakan tugas akhir merupakan konsekuensi yang harus dihadapi oleh mahasiswa. Stress dan tekanan emosi yang menyertai masalah karena mengerjakan tugas akhir mau tidak mau harus dipecahkan mahasiswa dengan strategi tertentu. Tingkat stress yang tinggi akibat ketidakmampuan mengerjakan tugas akhir memungkinkan mahasiswa menggunakan bentuk pengatasan masalah (coping) yang tidak efektif. Salah satu bentuk strategi coping yang dianggap relatif efektif untuk menghadapi masalah tugas akhir adalah proactive coping. Proactive coping merupakan pilihan terbaik untuk mengatasi masalah tugas akhir karena proactive coping bertujuan mengatasi masalah secara langsung dimana individu melakukan tindakan untuk menghilangkan atau mengubah sumber-sumber stress hingga dirinya benar-benar terbebas dari masalah, sekaligus juga menghindarkan munculnya masalah lain. Adapun penggunaan strategi  coping menghindar (avoidance coping) akan mengakibatkan lebih meningkatnya gejala-gejala kecemasan, karena problemnya sendiri belum selesai diatasi atau mungkin semakin memburuk. Di sisi lain, situasi stress tugas akhir bukanlah suatu situasi yang mutlak tidak dapat diubah karena mahasiswa masih dapat melakukan suatu tindakan yang konstruktif untuk mengatasi masalahnya.
Idealnya mahasiswa menggunakan proactive coping sebagai usaha mengatasi apapun masalah tugas akhirnya, karena masalah yang dihadapi relatif lebih cepat diselesaikan dan stress yang menyertai tidak menjadi berkepanjangan. Namun demikian seringkali dijumpai mahasiswa yang enggan mengatasi masalahnya dengan menggunakan proactive coping. Hal ini mungkin disebabkan oleh kecenderungan individu yang menilai adanya kesulitan dalam menggunakan coping  yang sesuai dengan tingkat stressnya atau karena tingkat stress yang tinggi mengakibatkan individu kurang memiliki self control yang kuat untuk menghadapi sumber masalahnya (Folkman, dalam Holahan & Moos, 1987). Self control yang paling kuat adalah bersumber dari penilaian kognitif pribadi individu (Lazarus dalam Holahan & Moos, 1987/). Peran penilaian kognitif dalam hal ini adalah menuntun individu menilai seberapa besar tingkat ancaman dari suatu situasi stress dan potensi keberhasilan individu mengatasi stress tersebut.
Salah satu bentuk penilaian kognitif yang mempunyai fungsi kontrol terhadap sumber-sumber stress individu adalah penilaian self efficacy, yakni keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan pada tingkatan tertentu hingga mencapai hasil yang diinginkan. Peran penilaian self efficacy dalam hal ini adalah mempengaruhi perilaku dan kognisi individu dalam mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan tetentu, termasuk pula perilaku dan usaha individu ketika menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan tugas hingga mencapai hasil yang diinginkan. Bandura dkk (1988) menjelaskan bahwa peran self efficacy sebagai mekanisme kognitif memunculkan fungsi control individu dalam bereaksi terhadap stress. Individu yang yakin dengan kemampuannya mengontrol stress secara efektif cenderung tidak gelisah. Sebaliknya jika individu tidak yakin akan fungsi kontrolnya menghadapi situasi yang tidak menyenangkan cenderung akan mengalami stress. Hal ini berarti bahwa self efficacy berpengaruh pada emosi individu, yang berimplikasi pula pada kemampuannya menghadapi stresor.
Self efficacy akan ikut menentukan jenis perilaku pengatasan (coping skill), yaitu seberapa keras usaha yang dilakukan individu untuk mengatasi persoalan atau menyelesaikan tugas, serta berapa lama individu mampu bertahan terhadap hambatan yang tidak diinginkan. Setiap individu sebenarnya memiliki kecenderungan untuk menghindari situasi yang menurutnya sulit atau tidak dapat dihadapi. Namun demikian pada individu yang memiliki self efficacy tinggi akan melakukan cara pengatasan masalah yang aktif dan juga jarang menggunakan cara menghindar bila dibandingkan dengan individu yang memiliki self efficacy rendah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa self efficacy yang dimiliki individu mempunyai pengaruh dalam menentukan tindakan pengatasan masalah yang aktif untuk menghadapi stressor. Dalam hal ini self efficacy yang tinggi bukan dengan sendirinya menghilangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, tetapi self efficacy yang tinggi mendorong individu berusaha lebih keras untuk mengatasi semua semua kesulitan tugas.
Self efficacy yang dimaksud dalam penelitian ini adalah self efficacy pada mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir, yaitu sejauh mana keyakinan mahasiswa untuk mengestimasi kemampuannya mengerjakan tugas akhir dimana mahasiswa dapat saja menilai dirinya mempunyai kemampuan yang rendah dalam mengerjakan tugas akhir padahal sebenarnya kemampuan yang dimiliki tinggi. Individu yang memiliki self efficacy tinggi terhadap tugas akhir menunjukkan usaha yang tinggi ketika berhadapan dengan tugas yang menantang dan tetap gigih serta mampu mengontrol stress dan kecemasan ketika tujuan tidak tercapai daripada individu yang memiliki self efficacy rendah pada kemampuan yang setara.
Berdasarkan uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa individu akan menggunakan cara pengatasan masalah yang mengarah langsung pada pemecahan masalah atau tidak, salah satunya dipengaruhi oleh keyakinannya terhadap kemampuannya mengerjakan tugas termasuk menghadapi masalah-masalah yang menyertai. Jika individu yakin memiliki kemampuan untuk mengerjakan tugas dengan berhasil termasuk memecahkan masalah yang menyertai, maka akan cenderung menggunakan bentuk coping yang berorientasi pada masalah. Sedangkan bila individu yakin bahwa dirinya tidak cukup mampu mengerjakan tugas, termasuk mengatasi masalah yang menyertai, maka akan cenderung tidak menggunakan bentuk coping yang langsung mengarah pada pengatasan masalah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: