Cara Mengatasi Masalah Yang Menimpa Orang Tua Penderita Leukimia

Strategi Pengatasan Masalah Pada Orang Tua Pasien Leukemia

Orangtua merasa sedih, bingung, marah, cemas, tak percaya, menyalahkan diri sendiri atau pasangan, serta melakukan pengingkaran saat mendengar anaknya menderita leukemia. Masalah yang dihadapi anak penderita leukemia adalah kemampuan inteligensi, perilaku emosi dan sosial yang terganggu, sedangkan pada orangtua mereka akan mencemaskan masalah seperti beban finansial yang besar, perawatan yang harus dijalani, diagnosis yang ditegakkan, lama pengobatan dan efek sampingnya serta hospitalisasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sepion (2004) reaksi yang sering muncul pada orangtua anak pasien leukemia adalah :

1. Isolasi secara fisik maupun emosi 
Perasaan terisolasi fisik berhubungan dengan isolasi anak terhadap orang tua yang bertujuan untuk mencegah kemungkinan infeksi. Meskipun orangtua memahami dan menghargai alasan dilakukan isolasi, tetapi perasaan tersebut mengandung arti bahwa orangtua dan anak sangat kesepian. Isolasi secara emosi disebabkan karena orangtua merasa bahwa orang-orang di lingkungannya tidak selalu tahu bagaimana cara berinteraksi dengannya.
2. Bingung tentang bagaimana menghadapi reaksi orang lain tentang kondisinya saat ini.
3. Merasa berbeda dengan orang lain.
4. Perasaan selalu teringat dengan kejadian yang telah lalu, yaitu saat anaknya pertama kali terdiagnosis kanker, orangtua sulit melupakan pengalaman tersebut.

Keene (2002) menambahkan bahwa saat anak menjalani treatment pengobatan, orangtua cenderung mengalami perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :
1. Ketidakjujuran (dishonesty)
Perilaku tidak jujur muncul pada awal anak terdiagnosis. Orangtua bersikap tidak jujur pada anak tentang kondisi sebenarnya dengan maksud untuk melindungi anak dari berita buruk, tetapi sikap seperti ini dapat menimbulkan rasa takut dan terasing pada anak, orang tua harus menceritakan keadaan sesungguhnya pada anak dengan cara-cara yang sesuai dengan tingkat perkembangan.
2. Kehilangan kesabaran (losing temper excessively)
Orangtua menjadi mudah marah terhadap orang-orang sekitar, terutama terhadap pasangan, anak bahkan terhadap orang lain. 
3. Aplikasi yang tak seimbang terhadap peraturan rumah tangga (Unequal application of household rules)
Orangtua cenderung memperlakukan tidak adil antara anak yang sakit dengan saudaranya. Sejak awal, saudara kandung anak yang sakit harus diberitahu bahwa saat sakit diperbolehkan untuk tidak mengerjakan tugas rumah, tetapi bila sudah sehat maka rutinitas berjalan kembali seperti sebelumnya.
4. Overprotective terhadap anak sakit
Sikap seperti ini harus dihindari, karena pembatasan yang berlebihan terhadap anak akan mengkontribusi munculnya perasaan tertekan pada anak.

Orangtua pasien leukemia menghadapi berbagai masalah yang kompleks. Menurut Lazarus (Taylor, 1995) cara untuk mengatasi berbagai permasalahan kehidupan adalah dengan jalan mengatur berbagai sumber stress berdasarkan potensi yang dimilikinya, artinya individu akan memilih kemampuannya yang tepat dalam menghadapi permasalahan yang menekannya. Perilaku tersebut biasa dinamakan perilaku pengatasan masalah (coping). Strategi pengatasan masalah (coping) yang efektif akan menghasilkan keadaan yang adaptif, sebaliknya strategi pengatasan masalah (coping) yang tidak efektif akan menciptakan keadaan yang maladaptif.

Strategi pengatasan masalah (coping) merupakan usaha yang akan terbentuk secara bertahap dan berangsur-angsur dalam diri seseorang. Demikian juga strategi pengatasan masalah (coping) yang dilakukan pada orangtua pasien leukemia dalam menghadapi kondisi anaknya. Proses pembentukan strategi pengatasan masalah (coping) mereka terjadi secara bertahap, perilaku pengatasan masalah (coping) akan muncul saat prosedur medis, saat berada didalam ruang perawatan maupun saat berhubungan dengan sesama orangtua penderita lain, anggota keluarga dan masyarakat.
Mc Cubbin dkk (1983) mengelompokkan pola perilaku pengatasan masalah (coping) ibu pasien leukemia menjadi tiga, yaitu : 1) mempertahankan integritas keluarga, kooperasi dan optimisme; 2) mempertahankan dukungan sosial, harga diri dan stabilitas psikologis; 3) memahami situasi medis melalui komunikasi dan konsultasi dengan orang lain.

Banyaknya stressor yang dihadapi orangtua pasien leukemia akan mempengaruhi peran dan kemampuan orangtua dalam perawatan dan pengobatan anak. Dalam mengahadapi berbagai permasalahan yang ada, orangtua pasien leukemia perlu meningkatkan  ketrampilan pengatasan masalah (coping) sebagai bentuk kompensasi atas masalah yang dihadapinya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: