Gay Feminin

Waria -Perjalanan Hidup Dan Penyesuaian Diri 
Sebuah Studi Kasus Kualitatif-Eksploratif

Seorang laki-laki yang memiliki orientasi seksual homoseksual, memiliki sikap/bahasa tubuh yang gemulai, baik pembawaannya yang lemah gemulai, maupun suaranya yang kecil.  Sangat feminin, kemayu, ganjen. Sangat memperhatikan penampilan, sebagaimana layaknya perempuan, melakukan perawatan tubuh (memakai bedak, parfum perempuan, body lotion perempuan, dan sebagainya). Tidak selalu menyukai dandan secara mencolok/bermake up (dendong), kadang bisa jika untuk keperluan show, namun tidak merasa nyaman dan ingin segera menghapus dandanan tersebut. Mereka ini sadar bahwa identitas gender mereka laki-laki, dan tidak memiliki masalah dengan tubuh laki-laki mereka ataupun dengan genital mereka. 

Menurut Masters dkk. (1992) penyebab seseorang menjadi gay dapat berasal dari adanya penghargaan atau hukuman atas perilaku seksual yang dialami sejak awal perkembangan. Misalnya bila seseorang mendapatkan pengalaman heteroseksual yang kurang menyenangkan dan justru mendapatkan kenikmatan dengan pengalaman homoseksual maka secara bertahap orientasi seksualnya akan kearah sesama jenis.

Secara teori, homoseksual biasanya ditujukan kepada seseorang yang mempunyai ketertarikan secara seksual terhadap sesama jenis yang berlangsung pada suatu periode waktu yang signifikan. Lain halnya dengan waria yang mengalami perubahan secara drastis, seorang gay tidak akan menunjukkan adanya perubahan yang berarti pada dirinya selain mempunyai rasa tertarik secara seksual kepada sesama jenis.

Tipe-tipe homoseksual berkait dengan sikap dan tingkah laku homoseks. Coleman dkk. (dalam Supratiknya 1995) menggolongkan homoseksualitas dalam tipe-tipe sebagai berikut : 
1. Homoseksual tulen, tipe ini memenuhi gambaran steriotip popular tentang laki-laki yang keperempuan-perempuanan, atau sebaliknya. 
2. Homoseksual malu-malu, yakni kaum laki-laki yang suka mendatangi WC-WC umum atau tempat-tempat mandi uap karena terdorong oleh hasrat homoseksual namun tidak mampu dan tidak berani menjalin hubungan personal yang cukup intim dengan orang lain untuk mempraktikkan homoseksualnnya. 
3. Homoseksual tersembunyi, kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah dan memiliki status sosial yang mereka rasa perlu dilindungi dengan cara menyembunyikan homoseksualitas mereka. 
4. Biseksual, yakni orang yang mempraktekkan baik homoseksual maupun heteroseksual sekaligus. 
5. Homoseksual mapan, sebagian besar kaum homoseksual menerima homoseksualitas mereka, memenuhi aneka peran kemasyarakatan secara bertanggugjawab dan mengikat diri dengan kaum homoseksual setempat.

Beragamnya tipe homoseksualitas dengan kondisinya masing-masing, tidak hanya membuat masyarakat awam rancu antara kondisi yang satu dengan lainnya, bahkan para “pelaku”nya sendiripun terkadang tidak tahu dirinya masuk kedalam tipe yang mana, sehingga tidak jarang diantara mereka ada yang merasa kurang pas dengan “label” yang dikenakan pada dirinya.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: