Pemahaman Kesetaraan Gender Terhadap Kecenderungan Melakukan Kekerasan Terhadap Perempuan

Sikap Terhadap Kesetaraan Gender Pada Laki-Laki Dan Kecenderungan Melakukan Kekerasan Terhadap Perempuan

Telah dijelaskan pada bab tedahulu bahwa sikap kesetaraan gender berkaitan dengan terjadinya perbedaan-perbedaan pandangan terhadap perempuan,   laki-laki masih menganggap perempuan adalah sosok makhluk yang dipandang dan ditempatkan di bawah laki-laki. Sikap terhadap perempuan mempunyai pengaruh besar dalam menilai dan memandang perempuan, terutama dalam masalah yang mengangkat ketidakadilan gender yang mengarah kepada kekerasan yang banyak dialami oleh perempuan. yang merupakan bagian dari budaya.

Jika kita melihat kembali kepada dua teori besar yaitu teori nurture dan nature, memang secara biologis laki-laki dan perempuan berbeda dan perbedaan itu akan membawa perbedaan pada sifat-sifat yang lain. Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan inilah yang juga merupakan salah satu faktor terjadinya sikap objektifitas yaitu bagaimana memandang obyektifitas terhadap suatu peran jenis yang berlawanan dengan stereotype-stereotype yang dapat merugikan jenis kelamin tertentu baik laik-laki maupun perempuan. Sikap yang tidak obyektif ini terjadi dan sering dialami oleh perempuan, kaum laki-laki masih menganggap bahwa perempuan itu seorang yang pesolek, penggoda, jika seorang perempuan tampak agresif dianggap perempuan yang murahan, akibatnya terjadi pelecehan seksual, begitu juga dengan perkosaan maka yang  akan disalahkan adalah perempuan. Darisini kita bisa melihat bahwa telah terjadi kekerasan baik fisik maupun kekerasan seksual dan sikap diskriminasi terhadap perempuan. 

Persamaan kesempatan bagi kaum perempuan juga sangat jelas dalam kehidupan sehari-hari, pemberian kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam berbagi bidang hidup sangat rendah. Seperti yang katakan oleh Mosse (1996) bahwa budaya patriarki sangat berperan dan melekat dalam masyarakat kita. Persamaan kesempatan  antara laki-laki dan perempuan masih minim. Sikap yang mengarah kepada diskriminasi baik dalam pendidikan yang menganggap perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi nantinya juga akan mengurus anak dan kembali dapur, dalam dunia kerja karena seorang perempuan maka upah kerja yang diterima lebih rendah dari laki-laki, suami yang melarang istri untuk bekerja diluar, hal seperti ini tidak memberi kesempatan kaum perempuan untuk maju dan berkembang.

Begitu juga pada kesejajaran posisi antara laki-laki dan perempuan juga masih melekat jelas adanya budaya patriarki yang anut dan sikap diskrimasi kaum laki-laki yang menganggap bahwa laki-laki lebih pintar dari perempuan, laki-laki lebih pantas menjadi seorang pemimpin, laki-laki yang berkuasa terhadap perempuan merasa bebas memperlakukan perempuan, dan lain-lain.

Kebebasan untuk saling menghargai dan kemandirian seseorang pun masih rendah sehingga membeda-bedakan jenis kelamin misalnya suami yang terlalu mengatur, melarang perempuan untuk mempunyai penghasilan sendiri, tidak memberi kebebasan untuk mengambil keputusan. membersihkan rumah, memasak, mencuci, mengasuh anak. Apakah laki-laki juga tidak berhak  atau tidak pantas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti yang dilakukan oleh perempuan. Jelas sekali terjadi ketidakseimbangan beban kerja antara laki-laki dan perempuan.

Kebebasan bagi kaum perempuan dimata laki-laki pun tampak minim, laki-laki kurang mengargai kebebasan dan kemandirian kaum perempuan. Apakah karena adanya perbedaan gender itu bahwa perempuan tidak berhak untuk memperoleh kebebasan seperti yang dimiliki oleh kaum laki-laki.  Dalam kehidupan nyata banyak para perempuan yang telah menikah dilarang oleh suaminya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Padahal, perempuan juga berhak untuk mendapatkan kebebasan baik untuk bekerja, mengambil keputusan dan lain sebagainya.

Perlindungan perempuan terhadap kekerasan sekarang ini pun sangat minim, kekerasan yang terjadi pada perempuan kerap terjadi dan mengalami banyak hambatan dalam penyelesaiannya. Kasus-kasus kekerasan baik secara fisik maupun psikologis seperti perkosaan yang dialami oleh perempun sering menggantung atau tidak selesai, ini terjadi karena cara pandang atau penilaian laki-laki yang kurang obyektif dan sikap diskrimiasi terhadap perempuan.

Keseimbangan beban  kerja antar laki-laki dan perempuan yang jelas sekali dalam kehidupan nyata perempuan lebih banyak menanggung beban kerja yang berat. Secara alami memang perempuan memiliki sikap keibuan , sifat seperti ini sangat cocok untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, tetapi kadangkala laki-laki sering mengganggap bahwa perempuan memang pantas melakukan semua beban kerja tersebut.  

 Dari uraian diatas nampak jelas terjadinya ketidakseimbangan dan ketidakadilan pada sikap terhadap kesetaraan gender, sehingga menimbulkan perilaku atau tindakan kekerasan terhadap perempuan. Laki-laki melihat perilaku kekerasan atau penganiayaan terhadap perempuan sebagai suatu yang normal dan dapat diterima, baik ia memaksa seorang perempuan misalnya untuk melakukan hubungan seksual ketika perempuan tidak mau, laki-laki memanipulasi seorang perempuan ke suatu posisi dimana perempuan merasa tidak mampu untuk mengatakan tidak atau menggunakan kekuatannya, maka yang terjadi sebagian besar laki-laki tidak melihat sebagai masalah dan keburukan yang akan ditimbulkan.

Seperti pendapat Rita (2002) bahwa faktor utama yang saling berkaitan dan memberi sumbangan terjadinya kekerasan terhadap perempuan adalah budaya patriarki yang begitu kuat dan mengakar ditengah-tengah masyarakat dan menempatkan kaum laki-laki sebagai mahluk superior, sementara perempuan sebagai mahluk inferior, sehingga keyakinan  ini dibenarkan bahwa laki-laki  menguasai dan mengontrol perempuan.

 Bila saja individu dapat memandang sikap terhadap kesetaraan gender dengan positif, maka individu tersebut akan mempunyai respon yang baik dan akan muncul pola sikap seimbang dan adil antara laki-laki dan perempuan sehingga perilaku yang mengarah pada tindakan kekerasan dapat dihindari. Begitu juga sebaliknya jika sikap terhadap kesetaraan gender negatif, maka individu akan mengarah kepada respon yang tidak baik dan dapat memunculkan perilaku yang mengarah pada tindak kekerasan.
Sayangnya dalam hal ini kesetaraan gender telah bergeser dan menimbulkan ketidakdilan gender yang disebabkan oleh berbagai faktor yang akhirnya mengarah pada tindakan dan perilaku-perilaku kekerasan yang banyak dialami oleh perempuan.    



Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: