Pola Asuh Adil Gender Dengan Kecerdasan Emosi

Kecerdasan Emosi Di Tinjau Dari Pola Asuh Adil Jender Dan Jenis Kelamin

Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama tempat anak dapat berinteraksi. Keluarga memiliki peran yang sangat penting dan berpengaruh dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian. Hurlock (1998) menyebutkan salah satu dari banyak faktor dalam keluarga yang dominan bagi pengembangan kepribadian anak adalah pengasuhan orangtua.

Kegiatan pengasuhan tidak hanya mencakup bagaimana orangtua memperlakukan anaknya tetapi juga bagaimana orangtua mendidik, membimbing dan melindungi anak untuk mencapai kedewasaan dengan nilai, norma dan kebudayaan masyarakat. Kohn (1971) mengatakan bahwa pengasuhan orangtua merupakan sikap orangtua dalam berinteraksi, memberikan peraturan, hadiah maupun hukuman pada anaknya. Bentuk dan kualitas pengasuhan orangtua sangat berpengaruh terhadap pengembangan emosi dan kepribadian anak. Melalui pengasuhan orangtua yang berkualitas, anak akan mampu mengemban tugas-tugas perkembangan dengan baik sehingga fisik, psikis dan sosialnya dapat berkembang secara optimal.

Salah satu aspek yang bisa dikembangkan adalah pembentukan kecerdasan emosi remaja. Hal ini penting karena remaja memiliki kebutuhan untuk beradaptasi dengan lingkungan sehingga ada penerimaan, dan kemudian timbul pengembangan diri (Djuwarijah, 2000).
Goleman (2003) menyatakan bahwa pola asuh orangtua, terutama bagaimana orangtua dalam mengajarkan emosi kepada anak sangatlah penting, karena ini merupakan salah satu usaha pencegahan awal sebelum banyak terjadi kasus-kasus yang mengindikasikan adanya kemerosotan kecerdasan emosi remaja. Karena keluarga merupakan sekolah emosi pertama bagi anak, maka dari itu peran orang tua dalam memberikan pengajaran emosi adalah penting.

Menurut Shapiro (1997) kecerdasan emosi ini sangat mungkin untuk diajarkan pada anak karena kecerdasan emosi tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan sehingga membuka kesempatan bagi orangtua untuk mengajarkannya. Apa yang dialami dan dipelajari dalam kehidupan sehari-harilah yang lebih menentukan tingkah laku termasuk pola tanggapan emosi. Semua pengalaman emosi di masa kanak-kanak dan remaja membentuk sirkuit emosi penentu kecerdasan emosi (Wihartati, 2001).

Melalui pengalaman-pengalaman emosi dan pembelajaran emosi yang berulang dan tepat yang diterima dari lingkungan sekitarnya khususnya orangtua maka kecerdasan emosi akan berkembang secara optimal (Goleman, 2003). 

Lahirnya pribadi manusia dewasa yang adil jender, mempunyai konsep diri, kontrol diri, motivasi diri dan penyesuaian diri yang baik, tentunya memerlukan proses pembelajaran dan pendidikan sejak dini proses tersebut diperoleh melalui keluarga, dimana peran orangtua dalam pola asuhnya terhadap anak akan membentuk kepribadian anak. (Kawuri, 2001).

Sejak lahir anak mulai dituntut untuk mempunyai sikap dan perilaku yang sesuai dengan jenis kelamin. Terutama orangtua dan budaya menganggap bahwa peran jender di sini mengacu pada harapan-harapan sosial tentang apa yang harus dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh seorang individu sebagai laki-laki dan perempuan (Fakih dalam Mosse, 1996).

Cara orangtua memberikan batasan perilaku secara adil kepada anak perempuan dan anak laki-lakinya akan memungkinkan perkembangan kontrol diri yang baik pada mereka. Anak laki-laki juga diberi aturan yang sama dengan anak perempuan, sehingga anak laki-laki tidak akan mengembangkan sifat agresifnya dan mampu mengontrol dirinya dengan baik. Anak laki-laki juga harus menjaga kehormatannya sama dengan anak perempuan, sehingga mampu mengendalikan perilakunya (Uyun, 2002).

Anak perempuan dan laki-laki sebaiknya diberi kesempatan yang sama dalam mengungkapkan diri, karena biasanya anak perempuan yang asertif akan dikatakan suka ngeyel. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi perkembangan asertivitas yang dapat berpengaruh kepada penyesuaian sosial anak. Anak diberi tugas yang sesuai dengan potensi anak, tidak mendasarkan kepada jenis kelamin. Anak laki-laki sebaiknya juga diberi tanggung jawab dalam mengerjakan tugas rumah tangga, sehingga tidak berkembang menjadi anak yang sulit diatur dan tidak empatik yang merupakan aspek dari kecerdasan emosi. Anak laki-laki sebaiknya juga mengembangkan empati ini dengan belajar memahami orang lain, karena pola asuh bias jender sering menempatkan anak perempuan pada posisi mengalah dan harus lebih memahami orang lain. Kontrol diri, asertivitas, serta empati tersebut akhirnya akan membentuk keterampilan sosial yang memadai (Uyun, 2002).

Memberi nilai yang sejajar bagi anak perempuan maupun laki-laki, sehingga anak perempuan juga mempunyai kepercayaan diri yang sama besar dengan anak laki-laki. Perempuan dengan ciri psikologis seperti laki-laki ambisius, tidak feminim, tidak lagi dianggap sebagai hal yang menyalahi kodrat (Wimbarti, 1999). Hal tersebut memungkinkan anak perempuan mempunyai keberanian untuk berkompetisi, tidak mengalami fear of success ketika dewasa. Dikarenakan ketakutan tersebut menyebabkan perempuan kurang terampil dalam situasi kompetitif yang menuntut pengambilan keputusan secara cepat dan tepat, sedangkan laki-laki lebih terbiasa maka menjadi lebih terampil.

Pembedaan peran jender berdasarkan jenis kelamin tersebut mengakibatkan aspek-aspek kecerdasan emosional berkembang secara berat sebelah pada laki-laki dan perempuan. Misalnya, anak perempuan biasanya lebih empatik dibandingkan anak laki-laki, karena sejak kecil perempuan lebih banyak untuk mempraktekkan beberapa keterampilan antar pribadi dari pada laki-laki, dimana perempuan dibiasakan untuk lebih peka terhadap perasaan dari pada laki-laki (Uyun, 2002).

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh adil jender disini bertujuan untuk menampilkan sisi feminin dan maskulin dari masing-masing individu secara seimbang yang bermanfaat bagi pengembangan kepribadian individu sehingga memungkinkan perkembangan pada aspek-aspek kecerdasan emosi secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: