Studi Kasus Preman Jawa Barat

Studi Kasus Pada Preman Di Kawasan Industri Karawang- Jawa Barat

Definisi preman sesungguhnya belum banyak dikemukakan oleh para ahli, bahkan Rahmawati (2002) menyatakan bahwa definisi tersebut tidak didapati dalam kitab undang-undang hukum Indonesia meski kategorinya telah disepadankan dengan kategori penjahat. Definisi preman cenderung samar dan tidak jelas, pada masyarakat definisi ini lebih dikenal dengan orang yang berkelakuan buruk dan tidak diterima secara nilai moral. Lebih lanjut diterangkan preman adalah kelompok masyarakat kriminal, mereka berada dan tumbuh di dalam masyarakat karena rasa takut yang diciptakan dari penampilan secara fisik juga dari kebiasaan-kebiasaan mereka menggantungkan kesehariannya pada tindakan-tindakan negatif seperti percaloan, pemerasan, pemaksaan dan pencurian yang berlangsung secara cepat dan spontan.

Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan pengertian preman sebagai kata dasar dari premanisme. Kata dasar preman itu sendiri memiliki dua arti, arti pertama berasal dari kata “partikelir” yang berarti bukan milik pemerintah, bukan untuk umum, melainkan swasta seperti orang (orang sipil bukan militer) atau mobil (mobil pribadi bukan mobil dinas), arti kedua berasal dari kalimat “kicak” yang berarti sebutan untuk orang jahat (penodong, perampok, pemeras dan sejenisnya). Definisi pertama sebagai tanpa ikatan atau kebebasan sedangkan definisi kedua sebagai kejahatan dan atau kriminal. 

Sebutan preman agaknya merupakan bantuan dari bahasa Belanda dan Inggris (www.suaramerdeka.com/03.03.05 dan http://www.dki.go.id/03.03.05). Dalam bahasa Belanda berasal dari dua suku kata yakni Vrije Man dengan kata dasar Vrij yang berarti bebas, merdeka, libur, kosong, swasta, tanpa bayar, porno. Kedua kata Vrije berarti orang yang bebas (bukan budak) sedangkan Man diartikan sebagai orang, orang lelaki, awak kapal, suami, prajurit jantan (Rahajoekoesoemah, 1995). Sedang dalam bahasa Inggris yaitu Free Man, Free yang berarti leluasa, bebas, dan memerdekakan lalu Man itu sendiri berarti orang, orang laki-laki (Wojowasito dan Wasito, 1991). 

Kusumo (www.bisnis.com/03.03.05) menuturkan bahwa premanisme dengan kata dasar preman dalam sejarah Indonesia berawal pada zaman penjajahan Belanda dan pada mulanya tidak berkonotasi negatif. Pada perkembangannya premanisme kemudian berkonotasi negatif karena cenderung menunjukkan sikap-sikap yang berlawanan, mengabaikan dan melanggar peraturan yang berlaku. 

Sejalan dengan gambaran Santoso (www.suaramerdeka.com/03.03.05) preman dimasa lalu adalah preman (vrije man) pelindung masyarakat dari tindakan sewenang-wenang kaki tangan penjajah. Vrije man juga sering muncul sebagai pembela para buruh kontrak asal Jawa, China, India yang disiksa para centeng. Setiap warga yang mendapat kesulitan dari suruhan belanda atau tukang kebun (centeng), sering mendapat perlindungan dari para vrije man. Nasution (tokoh preman Medan) menandaskan bahwa perbuatan mencuri, merampok dan jenis lain kejahatan, haram bagi preman. Banyak cara terhormat untuk menghidupi diri, yang penting preman bukan bandit. 

Tobing (www.suaramerdeka.com/03.03.05) premanisme sebetulnya universal, sehingga tampak di tataran lebih tinggi hanya kadarnya berbeda dan unsur kriminalnya tidak transparan. Pada tataran lebih tinggi bukan untuk bertahan hidup dan beresiko secara fisik saja, melainkan beresiko secara mental dan untuk selamanya hidup, seperti para koruptor dan manipulator. Penelitian kali ini pada tataran preman yang bertahan hidup, yang memiliki resiko secara fisik. Pada tataran ini nyata terlihat, memiliki kejelasan definisi secara istilah, dan subjek sangat transparan terlihat ditengah-tengah masyarakat. 

Berdasarkan uraian definisi di atas jelas menggambarkan bahwa preman sebagai pelaku dan premanisme sebagai perilaku, individu yang tidak terikat atau lebih tepatnya mereka melakukan segala sesuatu semaunya sendiri. Penelitian ini akan mengkaji preman di kawasan industri, diluar labelisasi masyarakat atau pihak lain yang telah diberikan dan diketahui. Memperoleh gambaran aktivitas dan cara penghayatan terhadap aktivitasnya, apa sebab menjadi preman.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: