Kompetensi Interpersonal Serta Kepercayaan Diri Remaja Berorganisasi

Kompetensi Interpersonal Dan Kepercayaan Diri Pada Remaja Berorganisasi Dan Tidak Berorganisasi

Pendidikan merupakan suatu upaya yang berkaitan dengan pengembangan dan pembinaan kepribadian manusia. Pengembangan kepribadian adalah suatu yang kompleks dan menyangkut banyak faktor, baik faktor keluarga, sekolah, maupun masyarakat (Pudjosuwarno, 1994). 

Salah satu faktor yang menyangkut pengembangan kepribadian diatas yaitu sekolah.  Sekolah merupakan lembaga sosial yang kedua setelah keluarga. Kehidupan di sekolah meliputi hubungan siswa dengan guru, siswa dengan siswa, bahan pengajaran, alat-alat pengajaran dan fasilitas lainnya, yang kesemuanya itu sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian siswa (Pudjosuwarno, 1994).

Di dalam sebuah sekolah terdapat beberapa organisasi yang dapat diikuti oleh siswa-siswanya. Organisasi-organisasi sekolah ini memberikan manfaat bagi perkembangan kepribadian remaja yang mengikutinya, karena didalam organisasi remaja yang terlibat dalam kepengurusan organisasi, diberi tanggung jawab. Kebanyakan organisasi bekerja dengan bermacam-macam standar etis tertentu. Ini berarti bahwa organisasi harus hidup sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh organisasi maupun standar masyarakat di mana organisasi berada. Standar ini memberikan organisasi suatu tanggung jawab yang harus dilakukan oleh anggota organisasi (Muhammad, 2002). Dalam tim, para anggota berbagi tanggung jawab. 

Tanggung jawab ini didelegasikan oleh organisasi untuk memberdayakan anggota dalam fungsi perencanaan, pengordinasian, dan pengendalian secara berkesinambungan sehingga akan memperbaiki seluruh proses kerja. Jika rasa berdaya dan tanggung jawab terkandung dalam suatu tim kerja, akan diperoleh banyak manfaat, diantaranya: peningkatan kecakapan dalam menjalankan proses pekerjaan, pengalaman yang beraneka ragam, tumbuhnya kesadaran akan peran penting kerja tim, makin efektifnya organisasi, peringanan pekerjaan atasan, dan peningkatan kerja sama di antara anggota tim (Yulianie, dkk., 2003). 

Selain itu, menurut Setiono (2002), Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya diri, dan mampu bertanggung jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Jati diri-positif menyebabkan remaja tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungannya. 

Selain adanya tanggung jawab yang diberikan kepada pengurus organisasi,  organisasi juga dapat berfungsi sebagai proses interaksi. Interaksi yang terjadi bukan hanya antara satu individu dengan individu lainnya, tetapi juga antara satuan kerja yang satu dengan satuan kerja lainnya dalam organisasi dan interaksi antara organisasi dengan lingkungan. 
Interaksi-interaksi diatas terjadi karena dalam kehidupan organisasionalnya baik pada tingkat individual, tingkat satuan kerja, dan tingkat organisasional, tidak ada satu tugas apapun yang dapat diselesaikan hanya oleh satu orang tanpa berinteraksi dengan orang lain. Hal ini juga karena tidak ada satuan kerja yang dapat menyelesaikan tuganya dengan baik apabila tidak berinteraksi dengan orang lain dan tidak akan ada satu organisasi yang dapat mencapai tujuan dan berbagai sasarannya tanpa memperdulikan pentingnya interaksi dengan lingkungannya, terutama dengan pihak-pihak yang merupakan bagian dari stakeholders bagi organisasi yang bersangkutan (Siagian, 1989).
Menurut Andayani dan Afiatin (1996), kepercayaan diri terbentuk melalui proses belajar individu dalam interaksinya dengan lingkungannnya. Dalam interaksi tersebut individu mendapat umpan balik yang dapat berupa reward dan punishment. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut individu akan mendapat gambaran tentang siapa dirinya, yang disebut konsep diri. Konsep diri akan mempengaruhi kepercayaan diri individu. 

Remaja yang berorganisasi mempunyai kesempatan untuk melakukan suatu interaksi yang telah dikemukakan diatas, sedangkan remaja yang tidak berorganisasi tidak mempunyai kewajiban untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan oleh organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Hal ini dikarenakan di dalam organisasi ada suatu sistem kerja sama terstruktur dari sekelompok orang untuk mencapai tujuan organisasi. Teori sistem memandang organisasi sebagai hubungan bermacam-macam komponen yang saling tergantung satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan organisasi (Muhammad, 2002). Sedangkan terstruktur artinya adanya aturan-aturan, undang-undang, dan hierarki hubungan dalam organisasi. Struktur menjadikan organisasi membakukan prosedur kerja dan mengkhususkan tugas yang berhubungan dengan proses produksi (Muhammad, 2002). 

Status sebagai pengurus organisasi atau anggota organisasi membuat siswa mempunyai kesempatan untuk berinteraksi atau berkerja sama dengan individu yang ada di dalam organisasi maupun dengan lingkungan dimana organisasi tersebut berada. Dalam interaksi ini akan terjadi suatu proses belajar. Menurut Rakhmat (1985), bila individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi, maka akan terjadi (1) proses belajar yang meliputi aspek kognitif dan afektif, (2) proses penyampaian dan penerimaan lambing-lambang atau komunikasi, dan (3) mekanisme penyesuaian diri seperti sosialisasi, permainan peranan, identifikasi, proyeksi, agresi, dan sebagainya. 

Kepercayaan diri sebagai salah satu aspek kepribadian, terbentuk dalam interaksi dengan lingkungannya. Sikap lingkungan terhadap diri seseorang akan berpengaruh terhadap cara individu bersikap terhadap dirinya. Apabila lingkungan menerima keadaan diri individu, dan menyenanginya, maka individu tersebut akan menerima dan menyayangi dirinya. Hal ini berarti apabila lingkungan memberi kepercayaan kepada diri seseorang, maka orang tersebut akan mempunyai kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Anak yang diberikan kepercayaan akan bersikap positif terhadap dirinya. Anak akan menghargai atas kepercayaan yang diberikan terhadap dirinya. Hal ini akan membantu perkembangan kepercayaan diri anak (Walgito, 2000).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: