Konflik Moral Anak Pasangan Beda Agama

Konflik Moral Pada Anak Pasangan Beda Agama

      Pernikahan beda agama adalah pernikahan yang sangat rentan konflik. Agama yang menjadi dasar bagi setiap individu sebagai falsafah hidup atau solusi setiap masalah. Setiap agama memiliki nilai-nilai dan aturan yang berbeda-beda walaupun secara universal, setiap agama itu baik. Agama menjelaskan manusia cara memandang dunia seharusnya berjalan. Selain itu, agama juga memberikan aturan dan norma yang menjelaskan tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, hal ini berkaitan dengan pahala dan dosa. Norma ini disebut landis sebagai sebuah kontrol sosial (Kusuma, 2006). Agama juga mengatur tentang beberapa peristiwa penting dalam kehidupan manusia, misalnya kelahiran, pubertas, perkawinan dan kematian. Ajaran setiap agama itu baik namun tetap saja perbedaan-perbedaan nilai-nilai yang ada secara spesifik berbeda. Seperti mengenai hukum halal-haram dalam islam, sedangkan pada agama lain mungkin tidak ada hukum tersebut.

      Setiap manusia mempunyai nilai sesuai dengan keyakinan atau pilihannya. Atas dasar itulah manusia bertingkah laku dan berbuat yang diarahkan untuk mencapai tujuan hidup sesuai dengan keyakinan yang ada pada dirinya dan itu tercakup dalam agama. Dan dalam sebuah keluarga berbeda agama, memiliki tata aturan tersendiri dalam setiap agama, walaupun kebebasan untuk menikahi siapapun adalah “hak.” Tetapi, dalam sebuah masyarakat yang beragama akan menganggap hal tersebut sebagai sebuah penyimpangan dalam hukum dan agama. Seperti halnya dalam suatu budaya, misalnya membatasi cara wanita berpakaian, kebebasan bergerak, mendapatkan pendidikan dan pergaulan publik, akan dianggap “tidak masuk akal” oleh masyarakat modren atau barat. Kebebasan untuk memakai dan melakukan apapun yang diinginkan tanpa adanya batasan dianggap sebagai hak wanita. Tetapi, kebebasan para wanita barat dalam berpakaian dianggap “tidak masuk akal” oleh beberapa budaya muslim tradisional, yang menganggap bahwa cara wanita berpakaian mencerminkan moral yang benar. Kesimpulannya, dua kelompok tersebut memiliki konsep nilai moral yang saling bertentangan.  

      Begitupun dalam sebuah pernikahan yang dibangun dalam dua agama yang berbeda, perbedaan dalam konsep, aturan, nilai-nilai dan pengamalannya. Ketika pasangan memilki keyakinan agama yang berbeda, mereka dapat mengalami misscomunication, kesalah pahaman, rasa marah dan bahkan rasa bersalah. Banyak pasangan berbeda agama menemukan diri mereka secara emosional mengalami perdebatan terutama dalam suatu doktrin agama dan bagaimana cara membesarkan anak mereka. Tidak hanya itu namun pasangan berbeda agama juga menghadapi tantangan dimana saat mereka untuk menangani peristiwa dalam hidup seperti kelahiran, kematian dan perayaan hari raya           (http://www.foreverfamilies.net/xml/articles/interfaithmarriage.aspx30/01/07).  

      Sebuah pernikahan, tidaklah lepas dari kehadiran seorang anak diantara mereka. Anak merupakan hal terindah yang dimiliki  dalam sebuah keluarga, tak terbantahkan pentingnya sebuah pendidikan yang baik adalah hal utama yang diberikan pada anak oleh orangtua, begitupan dalam penanaman nilai-nilai agama, mengingat begitu pentingnya agama sebagai dasar moral bagi seorang anak. Namun bagaimana bila anak dalam sebuah keluarga yang memilki orangtua berbeda agama, pendidikan agama seperti apa yang akan diberikan orangtua dalam keluarga, bagaimana orangtua mengenalkan pebedaan yang ada, dan hal-hal tersebut tentunya baik atas dasar kompromi orangtua atau mungkin semua akan berjalan tanpa ada komitmen apapun sebelumnya dari orangtua. Apapun keadaan yang telah dikompromi atau belum terkompromi oleh orangtua, belum tentu nantinya akan dapat diterima oleh anak. Disini bagaimanapun anak mengalami suatu situasi yang mau tidak mau harus dia hadapi dan  dia terima. 

      Pada awalnya saat masih kecil, anak akan hanya mengalami kebinggungan-kebinggungan dalam tata cara ibadah, namun dengan perkembangannya anak akan tumbuh dewasa dan menjadi seorang remaja, disini dampak dalam perbedaan agama akan sangat mempengaruhi anak dalam situasi-situasi yang ada. Pada tahap ini mereka diliputi kebimbangan akan jati dirinya, dalam rangka mencari identitas ini, kaum remaja berkewajiban merumuskan nilai-nilai idealnya, kemudian mengintegrasikan nilai-nilai tersebut pada filsafat kehidupannya untuk melakukan suatu pilihan-pilihan penting yang menentukan masa depannya (Arto, 1990 dalam Waruwu 2003).

     Disini komponen religi pun turut serta berada dalam krisis. Kaum remaja berupaya menemukan berbagai potensi yang ada dalam dirinya dan mencoba mencapai suatu integrasi baru dengan mengolah seluruh keberadaannya hingga kini, termasuk juga keyakinan-keyakinan religiusnya (Milanesi & Aletti, 1973 dalam Waruwu, 2003). Anak akan mempertanyakan kembali akan keyakinan-keyakinan yang ia terima dalam keluarga. Dan situasi yang dalam hal ini perbedaan agama, anak  akan mengalami konflik dalam dirinya berkaitan  dengan nilai-nilai yang berbeda. Konflik moral disini sangat berhubungan dengan situasi-situasi dalam sebuah keluarga beda agama bersama dengan faktor emosional (McConnell, 1996 dalam http://plato.stanford.edu/entries/moral-dilemmas/05/10/06). Situasi-situasi yang dihadapi anak, baik saat anak ingin meningkatkan keyakinan dengan lebih baik namun akan terbentrok dengan keyakinan salah satu orangtua, dan faktor emosional seperti munculnya rasa takut, rasa bersalah atau rasa “tidak enak” untuk menjaga perasaan salah satu orangtua yang berbeda keyakinan, akan memberikan anak pilihan-pilihan yang masing-masing memilki resiko baik dan buruk bagi dirinya.

     Dalam berbagai kasus, agama telah menjadi sebuah budaya bagi pengikutnya, budaya ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap aturan moral. Karena sistem arti dan cara berpikir yang berbeda dari satu budaya ke budaya yang lain, masyarakat dari budaya lain biasanya mengembangkan ide yang berbeda tentang moralitas dan cara terbaik untuk menjalani hidup. Seringkali mereka memiliki konsep berbeda tentang otoritas moral, kebenaran, dan nilai komunitas. Perbedaan agama semacam ini akan menjadi semakin bermasalah jika kurangnya toleransi dalam dua kelompok agama dalam keluarga, karena memiliki penilaian yang sangat berbeda tentang apa itu pantas dan apa itu benar. Hal inilah yang akan memacu suatu konflik moral dalam perbedaan agama yang ada di keluarga, anak mau tidak mau dihadapkan pada situasi yang ada dan juga adanya tanggung jawab moral dirinya untuk mencapai nilai atau keyakinan yang ia miliki.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: