Konsep Diri Pria Metroseksual

Konsep Diri (Self-Concept) Pria Metroseksual

Konsep Diri atau Self Concept

Rogers menjelaskan bahwa konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi dua yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Konsep diri real yaitu pandangan tentang diri yang sebenarnya dan disebut diri yang organismik yang merupakan dasar realitas psikis dan memiliki prioritas mutlak. Sedangkan konsep diri ideal adalah suatu pandangan tentang diri sendiri sebagaimana diidam-idamkan. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan dua konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati (Schultz, 1991). 

Rogers (Calhoun & Acocella, 1995) juga menambahkan bahwa konsep diri adalah gambaran mental diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang diri, pengharapan bagi diri dan penilaian terhadap diri sendiri. Dimensi pengetahuan adalah segala informasi atau pengetahuan yang individu ketahui tentang dirinya, seperti umur, jenis kelamin, penampilan, dan sebagainya. Dimensi harapan yaitu suatu pandangan tentang kemungkinan menjadi apa individu di masa mendatang atau gambaran tentang diri ideal. Sedang dimensi penilaian, yaitu penilaian individu tentang gambaran siapa dia dan gambaran tentang seharusnya menjadi seperti apa dia. Apabila kenyataan diri individu dan diri ideal berbeda sekali, sangat mungkin individu tersebut akan merasa tidak bahagia dengan dirinya sendiri.   

Metroseksual
Istilah ini pertama kali muncul pada tahun 1994 melalui sebuah artikel yang ditulis oleh penulis Inggris, Mark Simpson. Jika selama ini istilah tomboy untuk wanita yang memiliki sifat kelaki-lakian, maka sekarang muncul istilah baru untuk para pria, khususnya menyerang kota-kota besar yaitu metroseksual, yaitu pria yang memiliki sifat kewanita-wanitaan. Menurutnya, metroseksual adalah mereka yang memiliki uang untuk dibelanjakan dan tinggal di kota metropolis atau sekitarnya, ia mungkin seorang gay, heteroseksual ataupun biseksual, tetapi hal ini sebenarnya tidak penting karena ia menjadikan diri sendiri sebagai preferensi seksualnya. Metroseksual muncul sebagai akibat dari gejala kaum urban. Salah satu alasan mengapa disebut metroseksual adalah karena memang terjadi di kota (metro). Di tengah hangar-bingarnya kota besar, ternyata telah tumbuh sekelompok orang baru yang memiliki cara unik dalam membelanjakan uangnya. Pada umumnya, mereka adalah kalangan pekerja kelas menengah-atas dan termasuk kategori A dalam strata social ekonomi (Kartajaya, dkk. 2004). 

Hermawan Kartajaya, presiden World Marketing Association, dalam bukunya Metroseksual in Venus (2004) mengatakan pria metroseksual adalah profit center yang potensial karena kelompok ini gemar berbelanja dan dapat mempengaruhi ribuan pria yang ingin tampil menawan namun tidak tahu bagaimana caranya. Hasil penelitian yang dilakukan MarkPlus & Co mengungkapkan bahwa pria metroseksual masuk ke dalam kategori proactive consumers atau prosumer, yaitu mereka bangga dengan keahlian pemasarannya dan tertarik kepada hal-hal yang otentik dan cenderung mencoba hal-hal baru sebelum orang lain melakukannya. Mereka juga membantu dalam menciptakan word of mouth dan memiliki kemampuan untuk membuat orang lain tertarik mencoba produk yang digunakannya melalui promosi dari mulut ke mulut.
Pria metroseksual adalah pria yang sangat memperhatikan penampilannya, merawat tubuhnya, well educated, wangi, senang shopping, senang diperhatikan, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat feminim. Tampang-tampang pria yang pada dekade 1980-an hanya bisa dilihat di halaman-halaman iklan majalah, kini ada persis di depan mata, mereka seperti billboards yang berjalan. Wajah-wajah kelimis dengan busana yang dirancang mengikuti lekuk tubuh yang sebelumnya hanya diciptakan untuk keperluan iklan sekarang menjadi gaya kehidupan modern. Pria-pria ini intens mengikuti perkembangan mode, fesyen terkini di majalah-majalah mode pria seperti Maxim, FHM (For Him Magazine), Details, Ralph dan Vitals. Mereka pada umumnya adalah pria yang trendy, dandy, dan paling peduli dengan penampilan. Bahkan mereka rela melakukan apapun untuk tampil sesempurna mungkin, seperti memasang kawat gigi dan operasi plastik untuk memancungkan hidung atau menambal dagunya agar terlihat seksi. American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery mengatakan bahwa dari tahun 2001 ke 2002 operasi mempermanis bibir meningkat 421%. Liposuction (menghilangkan lemak perut), face lift, operasi mempermanis bibir sudah lumrah dilakukan pria. (www.mizanlc.com, November 2004).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: