Kualitas Komunikasi Dengan Intensi Perselingkuhan

Hubungan Kualitas Komunikasi Dengan Intensi Perselingkuhan

Perkawinan adalah salah satu kata yang memiliki esensi luar biasa, power yang dimunculkannya begitu sempurna, sayangnya power ini kadang-kadang kurang bisa ditangkap oleh pihak-pihak yang akan menjalani masa indah, baik itu pria maupun wanita seringkali terjebak oleh pemikiran mereka sendiri tanpa melihat realita yang ada.

Bernard & Huckins (dalam Nusya, 2003) mengemukakan bahwa manusia memasuki pernikahan karena mengharapkan untuk mencintai dan dicintai, untuk mendapatkan semua kebutuhannya, biologis dan fisiologis, untuk mendapatkan kebahagiaan dan mendapat kepuasan, rasa aman dan dihargai.

Perkawinan juga merupakan ikatan lahir bathin antara pria dengan wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa. (Piet Go, 1990) Pria dan wanita yang telah saling mengikatkan diri tersebut tidak dapat lepas dari tanggung jawab, antara lain tanggung jawab terhadap rumah tangga, nafkah keluarga, merawat anak, mengurus pasangan hidup serta hubungan sosial dengan tetangga dan masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa idealnya perkawinan dilaksanakan oleh dua orang berlainan jenis untuk mendapatkan pemenuhan atas kebutuhan-kebutuhan psikologis, kebutuhan seksual, dan kebutuhan material. Kebutuhan dari sisi psikologis adalah cinta, rasa aman, pengakuan dan persahabatan. Lebih dari itu perkawinan juga merupakan pemenuhan tugas perkembangan yang menjadi tuntutan atau harapan sosio cultural di mana individu berada (Hurlock, 1980).

Namun dalam realitanya, banyak penderitaan, kekecewaan, dan keputusasaan yang dirasakan suami atau istri akibat perkawinan tersebut, dan salah satunya adalah perselingkuhan. Perselingkuhan yang terjadi tersebut dapat pula karena kurangnya komunikasi dalam keluarga, kurangnya keterbukaan, rasa kepercayaan antar suami dan istri sehingga intensi atau niatan untuk melakukan perselingkuhan tersebut benar-benar terjadi.

Uraian di atas ingin diketahui kualitas komunikasi dan intensi perselingkuhan. Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa antara kualitas komunikasi memiliki hubungan dengan intensi perselingkuhan.

Dukungan social dalam rumah tangga dapat terjalin dengan baik apabila suami maupun istri mengkomunikasikan perasaan serta tanggapan terhadap pendapat dan sikap dari pasangannya. Laswell dan Laswell (1982) menjabarkan unsur-unsur pokok kualitas komunikasi, yaitu adanya keterbukaan, kejujuran, kepercayaan, empati dan kesediaan untuk mendengarkan. Jika suami dan istri mampu mencapai tingkat kualitas komunikasi yang tinggi, maka mereka dapat saling mengkomunikasikan berbagai masalah perbedaan, keinginan, dan harapan sehingga menimbulkan pengertian dan kepuasan bagi masing-masing pihak.

Hubungan komunikasi yang baik dan berkualitas akan membantu meningkatkan hubungan serta membantu menjernihkan suatu permasalahan, sedangkan komunikasi yang buruk akan mengganggu hubungan tersebut dan cenderung mengarah pada konflik yang berkelanjutan dan mengakibatkan intensi perselingkuhan itu dapat terjadi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: