Kualitas Pacaran Dengan Kepuasan Pernikahan

Hubungan Kualitas Berpacaran Dengan Kepuasan Pernikahan

Tujuan hidup manusia adalah menjadi bahagia. Kebahagiaan biasa disebut dengan kepuasan hidup, timbul karena tercapainya kebutuhan atau harapan. Menurut Hurlock (1980) kebahagiaan bersifat subjektif dalam arti sesuatu yang membahagiakan seseorang individu belum tentu akan membahagiakan individu yang lain. Perkembangan minat terhadap lawan jenis (heteroseksualitas) untuk membentuk hubungan baru yang lebih matang merupakan tugas perkembangan yang dihadapi pada masa dewasa dini. Ada sikap-sikap tertentu yang diharapakan untuk dimiliki setiap remaja terhadap lawan jenisnya dan terhadap hubungan antara mereka, sikap sering diwarnai hal-hal yang tidak realistis dan sangat romantis dan disertai keinginan yang kuat untuk memperoleh dukungan dari lawan jenis. 

Shaver & Fredman (dalam Hurlock,1980) menyatakan ‘kebahagiaan lebih merupakan bagaimana anda memandang keadaan dan bukan apa keadaan itu..’ Kebahagiaan berasal dari kebun sendiri dan bukannya menginginkan kebun tetangga.  Pada saat sekarang ini, sebagian besar perkawinan mengalami kegagalan dan ketidakbahagiaan. Dapat dilihat perceraian terjadi diantara pasangan-pasangan yang relatif muda masa perkawinannya, hal ini disebabkan karena adanya ketidakpuasan dalam pernikahannya.

Kualitas berpacaran dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan pernikahan, karena dengan kualitas berpacaran dapat dilihat bahwa sejauh mana pasangan tersebut dapat melihat kelebihan dan kelemahan masing-masing dan rasa saling menyadari kekuatan untuk menempuh hidup dan menjalankan bahtera rumah tangga. Dalam hal ini lama berpacaran dapat dilihat, karena tujuan dari pacaran itu sendiri yaitu agar terjadi saling kesesuaian, kecocokan, dan keterpaduan hati, pikiran, kehendak dan keseluruhan hidup dan mengerti segala yang ada pada pasangannya baik dari dalam maupun dari luar. 

Sebagian besar, pernikahan tanpa mengenal lebih dulu pasangannya juga dapat berdampak buruk. Dikarenakan pasangan belum mengenal dan memahami karakter masing-masing individu. Pola pikir yang berbeda dapat menimbulkan masalah atau konflik yang dapat mempengaruhi keutuhan rumah tangga, jika tidak diimbangi dengan adanya landasan saling memahami, pengertian dan rasa saling percaya. Konflik merupakan fenomena umum dalam pernikahan, Burgess (dalam Argyle dan Furnham, 1981) menyatakan bahwa konflik dan perselisihan merupakan hal yang umum terjadi di dalam pernikahan. Hal ini terjadi karena pasangan suami istri merupakan dua pribadi dengan keunikan masing-masing. Dalam hal ini, setiap pasangan dituntut untuk mampu menyelesaikan masalah dengan mempertimbangkan segala kekurangan dan kelebihan yang sebelumnya telah diketahui oleh masing-masing individu, dimana pasangan dapat menangani dan mengatasi perbedaan yang ada yang merupakan hal terpenting pada terciptanya keluarga sakinah mawwadah dan warrahmah.

Kepuasan yang muncul disebabkan karena pasangan memiliki pemahaman tentang kepribadian masing-masing sebelum kejenjang pernikahan. Pemahaman tentang pribadi individu ini, didapat dari proses pacaran karena didalamnya terdapat tahap perkenalan, tahap penjajagan, tahap pendekatan dan tahap kesepakatan.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kualitas berpacaran merupakan salah satu yang mempengaruhi kehidupan berumah tangga khususnya untuk menciptakan kepuasan pernikahan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: