Kualitas Perkawinan Dengan Tata Cara Adat Merariq

Kualitas Perkawinan Individu Yang Menikah Dengan Adat Merariq Di Pulau Lombok

Kebahagiaan merupakan persoalan yang tidak mudah. Hal ini disebabkan karena kebahagiaan adalah bersifat relatif dan subjektif. Subjektif oleh karena kebahagiaan bagi seseorang belum tentu berlaku bagi orang lain (Walgito, 1984). Dengan demikian maka lalu timbul pertanyaan bagaimana perkawinan yang bahagia itu? walaupun kebahagiaan itu bersifat subjektif dan relatif, tetapi ada patokan umum yang dapat digunakan untuk menyatakan perkawinan itu adalah perkawinan yang bahagia atau welfare. Perkawinan merupakan perkawinan yang bahagia bila dalam perkawinan itu tidak terjadi kegoncangan-kegoncangan atau pertengkaran-pertengkaran, sehingga perkawinan itu bisa berjalan dengan smooth tanpa goncangan-goncangan yang berarti (Walgito, 1984).

Pasangan suami istri yang menginginkan kebahagiaan dalam kehidupan perkawinan harus memiliki kualitas perkawinan yang baik, karena dengan kualitas perkawinan yang baik akan mengarahkan kepada  kehidupan perkawinan  yang harmonis, bahagia dan langgeng sesuai dengan tujuan dasar perkawinan dan Undang-Undang Perkawinan  No. 1 tahun 1974. Oleh karena itu kualitas perkawinan yang baik sangatlah penting dalam kehidupan perkawinan sepasang suami istri. Shehan (2003) mengatakan perkawinan yang berkualitas dan sukses adalah perkawinan yang di dalamnya terdapat cinta dan kasih sayang, bisa memperoleh anak-anak yang sehat dan bahagia, kebersamaan yang erat, menimbulkan ketentraman emosi, hubungan seksual yang memuaskan, ketertarikan dan aktifitas yang sama dengan pasangan, kebebasan untuk berkembang secara personal, ketercukupan secara ekonomi, kesamaan nilai dan keyakinan, serta penerimaan dari lingkungan. Sebaliknya, kualitas perkawinan yang buruk dapat membawa kepada ketidakbahagiaan, ketidakharmonisan perasaan tertekan dan lebih parah lagi pada perpisahan serta perceraian.

Perceraian merupakan racun dalam sebuah perkawinan yang mengindikasikan kualitas perkawinan yang buruk dan tidak terpenuhinya kebutuhan serta kebahagiaan yang diinginkan dalam perkawinan tersebut. Majalah FORUM (Apriyani, 2004)  memberitakan bahwa Yayasan Keluarga Sehat Sejahtera Indonesia (YKSSI) pernah melakukan survei yang menunjukkan bahwa sebanyak 1.913 kepala keluarga di Kecamatan Sakra dan Pringgabaya, serta di Kabupaten Lombok Tengah pernah mengalami kawin cerai. Bahkan survei yang dilakukan bersama Plan Internasional di Lombok Tengah menemukan seorang perempuan pernah mengalami kawin cerai hingga 40 kali. 

Berdasarkan data yang telah disebutkan diatas tampak bahwa tingkat perceraian di Pulau Lombok sangat tinggi. Padahal  perceraian adalah manifestasi dari ketidakstabilan perkawinan (Lewis dan Spanier dalam Shehan, 2003). Stabilitas perkawinan adalah salah satu istilah yang jelas terkait dengan kualitas perkawinan yang merujuk pada apakah pasangan tinggal bersama atau tidak dan juga merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam mengukur kualitas perkawinan sebagaimana yang dikemukakan oleh Shehan (2003).

Penelitian lain yang terkait dengan tingginya tingkat perceraian di Pulau Lombok dilakukan oleh Tim pusat kependudukan dan kebijakan UGM, bekerja sama dengan Kantor Menteri Negara Kependudukan/Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, menganalisis tingkat, pola dan determinan usia kawin wanita dan pria. Penelitian ini dilakukan di tiga provinsi yaitu Sulsel, NTB dan Jawa Barat. Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata usia kawin di ketiga daerah penelitian ini tidak menyimpang jauh dari perhitungan dengan menggunakan sensus penduduk 1990, NTB merupakan provinsi dengan angka rata-rata usia perkawinan pertama paling rendah. Berdasarkan segi sosial budaya, usia kawin paling rendah di NTB kemungkinan berkaitan erat dengan budaya Kawin Lari (selarian) yang masih dilakukan oleh Suku Sasak sampai saat ini (Apriyani, 2004).  

Selain itu Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Agama (Depag) NTB memiliki data mengkhawatirkan, yaitu dari 62.757 siswa sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah negeri-swasta peserta Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2003/2004 di NTB, hanya 60.264 siswa yang benar-benar mengikuti ujian pada hari pelaksanaan. Sisanya, 2.493 siswa (umumnya siswi) gagal mengikuti ujian dengan alasan klasik: diterima bekerja sebagai tenaga kerja migran atau merariq menjelang hari “H” ujian. (Kompas. 7 Februari 2006).

Merariq adalah salah satu cara pernikahan dalam adat Suku Sasak. Memaling atau merariq yang merupakan jalan terakhir jika proses lain gagal dilaksanakan itu justru dalam faktanya sering didahulukan. Apalagi, masih ada para orangtua di banyak desa yang lebih suka putrinya “dicuri” karena proses belakoq (melamar) dianggap kurang etis. Beberapa sumber mengatakan mereka menempuh cara merariq karena lebih mudah atau takut jikalau lamaran mereka ditolak orang tua si gadis (Kompas,  7 Februari 2006).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: