Perilaku konsumtif Dilihat Dari Kolektivitas Dan Konformitas Mahasiswa

Perilaku Konsumtif Ditinjau Dari Konformitas Dan Kolektivitas Pada Mahasiswa

Menurut Swasta dan Handoko (2000), perilaku membeli seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor kebudayaan yang berkaitan dengan nilai budaya kolektif (kolektivitas) dan faktor kelompok sosial yang berkaitan dengan sikap konformis. Nilai  merupakan disposisi yang lebih luas dan sifatnya mendasar sebagai bagian dari ciri kepribadian. Nilai berakar lebih dalam dan karenanya lebih stabil dibandingkan sikap individu karena sikap bersifat evaluatif, (Azwar, 1988).

Hofstede (Riyono,1996) mengungkapkan bahwa  dalam budaya kolektif terdapat nilai-nilai hemat, harmoni, pemerataan dan rendah hati. Ini berarti masyarakat kolektif tidak suka boros atau berperilaku konsumtif. Hal ini juga sesuai dengan nilai harmoni yang dijunjung tinggi sehingga segala sesuatu yang mengancam keharmonisan tersebut cenderung dihindari. Keharmonisan ditunjukkan dengan kesederhanaan, pemerataan dan sikap rendah hati pada masyarakat kolektif. Sebagai masyarakat kolektif semestinya remaja menjaga keharmonisan tersebut dengan tidak melakukan perilaku yang menyimpang dari kelompok seperti berlebihan dalam mengkonsumsi barang atau jasa karena kesenjangan akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam kelompok mereka. 

Kelompok memiliki pengaruh yang langsung atau tidak langsung terhadap sikap seseorang termasuk perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh tuntutan kelompoknya, sehingga apapun yang dituntut oleh norma kelompoknya akan sedapat mungkin dituruti walaupun bertentangan dengan keinginan individu. Menurut Kotler (1997) kelompok akan mempengaruhi tiga hal dalam diri seseorang yaitu menghadapkan seseorang pada perilaku dan gaya hidup, mempengaruhi perilaku dan konsep pribadi, serta menciptakan tekanan untuk mematuhi pilihan atau merk suatu produk. 

Hal tersebut membuat individu yang awalnya tidak mengkonsumsi suatu produk menjadi menggunakan produk tersebut karena pengaruh orang lain. Herdiyanta (Hidayanti 2000) secara lebih jelas mengemukakan bahwa di dalam lingkungan pergaulan, ada paham tak tertulis yang menjabarkan kesamaan identitas, seperti itu baju, sepatu, aksesoris, dll. Mahasiswa/i yang tidak mengikuti paham tersebut tidak akan diterima dilingkungannya. Hal itulah yang menyebabkan mahasiswa/i sangat kompromi dengan kelompoknya, bukan saja karena karakteristik remaja (mahasiswa/i) yang labil dan mudah dipengaruhi, tetapi juga karena tekanan atau tuntutan yang kuat dari kelompoknya.

Dikaitkan dengan perilaku mahasiswa/i yang konformis terhadap kelompoknya menurut Reisman (Riyono, 1991) menyatakan bahwa “conformity is a necessity”. Meskipun begitu Reisman juga menambahkan bahwa konformitas bukanlah keharusan (“not a duty”) karena jika demikian (jika kompromi merupakan keharusan) maka konformitas dianggap menghambat perkembangan individu.

Dari keterangan diatas maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara perilaku konsumtif  mahasiswa/i dengan konformitas dan kolektivitas dimana ketika mahasiswa/i sebagai masyarakat kolektif menganut nilai budaya kolektif maka mahasiswa/i akan mengikuti pola hidup sederhana namun ketika mahasiswa/i mengatasnamakan demi kepentingan kelompok dan mengikuti keinginan kelompok (konformis)  maka mahasiswa/i akan meleburkan nilai pola hidup sederhana dengan berperilaku konsumtif seperti yang dituntut oleh kelompoknya. 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: