Hubungan Perilaku Prososial Dengan Kebermaknaan Hidup Remaja

Hubungan Antara Perilaku Prososial Dengan Kebermaknaan Hidup Pada Remaja

Pada perkembangan kepribadian, remaja sebenarnya berada dalam tempat yang tidak jelas. Remaja sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya (Monks, dkk, 1991). 

Adanya masa transisi atau peralihan pada remaja, serta perubahan yang terus menerus baik lingkungan sosial maupun fisik, dapat mengakibatkan remaja sulit untuk menyesuaikan diri sehingga remaja mengalami berbagai konflik baik di dalam diri sendiri, lingkungan, keluarga, teman maupun lingkungan sosialnya. Selanjutnya akan muncul perasaan bingung, tidak menentu, putus asa, cemas, teralienasi, depresi, kacau, mudah terombang-ambing dan tidak mempunyai pegangan. Akibatnya remaja tidak tahu pasti masa depannya, mengalami keraguan dan akhirnya frustrasi dan tidak percaya diri. Hal tersebut termanifestasi dalam bentuk-bentuk kenakalan remaja seperti minum-minuman beralkohol, penyalahgunaan narkotika, mencuri, memperkosa bahkan sampai kriminal serius (Schultz,1991).

Contoh-contoh perilaku remaja di atas dikarenakan dalam perkembangan sosialnya remaja dihubungkan dengan adanya dua macam gerak, yaitu memisahkan diri dari orang tua dan yang lain adalah menuju ke arah teman-teman sebaya. Ausubel (Monks, dkk, 1991) menyebutkan adanya gerakan yang saling mempengaruhi karena apabila gerak yang pertama tanpa adanya gerak yang kedua dapat menyebabkan rasa kesepian. Hal ini kadang-kadang dijumpai dalam masa remaja dan dalam keadaan yang ekstrim hal ini dapat menyebabkan usaha-usaha untuk bunuh diri yang akhirnya menjadikan kehidupan remaja menjadi tidak bermakna.

Bastaman (1995) menjelaskan bahwa makna hidup adalah hal-hal yang oleh seseorang dipandang penting, dirasakan berharga, dan diyakini, sebagai suatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidupnya. Salah satu bentuk dari permasalahan yang dihadapi manusia, yang menyangkut kemanusiaan atau humanistika adalah permasalahan makna hidup. Bastaman (1995) juga menambahkan bahwa orang yang menghayati hidupnya menunjukkan kehidupan yang penuh gairah, optimis, hidupnya terarah, bertujuan, luwes dalam bergaul dengan tetap menjaga identitas diri dan apabila dihadapkan pada suatu penderitaan, maka individu tersebut akan tabah dan menyadari bahwa hikmah selalu ada dibalik penderitaan. Sebaliknya orang yang mengalami kekosongan makna hidup atau kehampaan eksistensial tidak akan memiliki rasa harga diri yang kokoh, sehingga membuatnya tidak tahan akan penderitaan. 

Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup, salah satunya adalah encounter. Encounter menurut Bastaman (1995) adalah hubungan yang mendalam antara pribadi yang satu dengan yang lain dilandasi dengan penghayatan, keakraban, saling menolong serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lainnya. 

Pada perilaku prososial, individu juga saling memahami dan berempati terhadap individu lain dalam lingkungan sosialnya yang sedang dalam kesulitan sehingga dengan kemampuan untuk memberikan bantuan kepada orang lain, individu akan merasakan bahwa dirinya lebih bermakna. Hal ini karena perilaku prososial juga merupakan salah satu bentuk aktulisasi diri yang positif karena dengan memberikan bantuan kepada orang lain yang dalam kesulitan akan mendorong timbulnya perasaan yang menyenangkan dan kepuasan pada diri individu yang menolong. Hal ini akan menyebabkan individu untuk lebih berempati  terhadap hal-hal yang menyangkut hubungan individu dengan individu lain, individu dengan kelompok, dan individu dengan Pencipta Nya. 

Perilaku prososial mendorong seseorang ikut berempati terhadap penderitaan korban sehingga dapat mengambil hikmah atas apa yang terjadi di sekitarnya. Pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran yang berharga dalam menjalani hidupnya, individu akan merasa memiliki tujuan hidup yang jelas dan terarah sesuai dengan ajaran agamanya. Agama adalah landasan terpenting bagi individu dalam berperilaku, juga sebagai pedoman hal yang baik dan hal yang buruk. Agama  merupakan makna hidup yang bersifat objektif, karena cenderung bersifat spiritual, pasti, memerlukan keimanan dan tidak berubah-ubah. Dengan mengamalkan nilai-nilai keagamaan individu akan merasa hidupnya lebih bermakna.

Hal lain yang mendasari remaja harus berinteraksi dengan lingkungannya dan salah satunya dengan perilaku prososial adalah sesuai dengan pernyataan Erikson (Monks, dkk, 1991) yang menyatakan bahwa pada masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan jati dirinya atau sebagai proses mencari identitas dirinya. 

Remaja yang tidak memiliki kepribadian yang sehat mampu menimbulkan sikap yang tidak optimis, menghindar dari lingkungan sosialnya dan akan berdampak pada sikap negatif terhadap perilaku prososial. Akhirnya menjadikan remaja kurang bertanggung jawab terhadap keadaan dilingkungannya dan dalam mengarahkan hidupnya, merasa bosan, tidak ada inisiatif, merasa tidak berguna, penuh keputusasaan, merasa lingkungan membatasi gerak-geriknya, kurang optimis. Apabila remaja sudah mengalami hal tersebut, maka ada indikasi bahwa remaja yang bersangkutan kurang bermakna dalam hidupnya.

Koeswara (1992) menjelaskan bahwa untuk menemukan makna hidup harus menunjukkan tindakan komitmen yang muncul dari dalam pusat kepribadiannya, sebagai usaha yang berakar pada keberadaan totalnya. Oleh sebab itu mengubah perilaku sosial yang negatif menjadi perilaku sosial yang positif merupakan aset berharga untuk dikembangkan seluas-luasnya agar remaja lebih bermakna dalam hidupnya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja yang memiliki perilaku prososial yang tinggi dapat menunjukkan tindakan yang komitmen dan bertanggung jawab terhadap lingkungan disekitarnya, yang tercermin pada perilaku saling membantu, keterlibatan dengan diri orang lain, kerjasama, persahabatan, menolong, memperhatikan orang lain dan kedermawanan sehingga remaja akan lebih dapat menghargai hidupnya dan lebih mampu memaknai hidupnya. Sebaliknya remaja yang memiliki perilaku prososial yang rendah akan menunjukkan perilaku yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungannya dan lebih sering melakukan perilaku-perilaku sosial yang negatif dan merugikan orang lain, sehingga perilaku-perilaku yang negatif itulah yang menjadikan hidupnya menjadi tidak bermakna. 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: