Jenis Musik Tertentu Membuat Pembaca Di Perpustakaan Menjadi Betah Membaca Dan Berlama-lama

Pengaruh Jenis Musik Terhadap Lama Berkunjung Di Perpustakaan Dengan Minat Membaca Sebagai Variabel Moderator

Manfaat membaca akan terbentuk dengan sendirinya bila ada minat membaca. Membaca dapat menambah pengetahuan, mengembangkan intelektualitas, mengembangkan konsep diri sekaligus menjadi suatu bentuk kesenangan. Semakin tinggi minat baca maka semakin baik kualitas individu. Menurut Leonhardt (Erryanti, 2001), minat baca tinggi mengembangkan kepandaian berbahasa dan wawasan luas yang dimiliki individu; selain itu mengembangkan kemampuan konsentrasi pada informasi lisan sehingga lebih dapat mengikuti dan menikmati diskusi dibandingkan individu dengan minat baca rendah. Individu dengan minat baca tinggi lebih dapat membawakan humor dan perspektif dalam masalahnya, sehingga mampu mengatasi masalah pribadinya dengan baik, dan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk meraih kehidupan yang sukses.

Mulyati (2004) menyatakan, minat dapat membangkitkan gairah seseorang yang menyebabkan orang itu menggunakan waktu, uang, serta energi untuk kesukaannya terhadap objek tersebut. Namun, tinggi rendahnya minat seseorang terhadap bacaan belum tentu dapat menggerakkan seseorang menjadi rutin dan berminat untuk mengunjungi perpustakaan. Kebanyakan dari kasus yang ditemui sehari-hari, tidak sedikit mahasiswa yang gemar membaca tapi jarang mengunjungi perpustakaan di kampusnya. Mereka lebih suka menjadi anggota perpustakaan atau taman baca di luar kampus dibandingkan menjadi anggota perpustakaan di kampus sendiri.

Perpustakaan merupakan pusat layanan informasi untuk program pendidikan, pengajaran, penelitian dan wadah dikumpulkannya buku-buku sebagai sumber ilmu, namun jarang dikunjungi oleh mahasiswa. Seperti yang dikutip Supriyoko dari  pendapat Kepala Perpustakaan Nasional, Dady P. Rachmanata, dalam kegiatan Hari Aksara Nasional (HAN) 2004 ketika menyampaikan informasi mengenai rendahnya pengunjung perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia. (www.pikiran-rakyat.com. 25 Maret 2006). Ada  banyak faktor yang menyebabkan mahasiswa jarang berkunjung ke perpustakaan. Selain adanya pengaruh tinggi rendahnya minat baca, faktor keadaan fisik dan ambient (pembentuk suasana) perpustakaan juga mempengaruhi kesediaan mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan. Umumnya seseorang malas ke perpustakaan karena terbentuknya citra negatif terhadap perpustakaan. Perpustakaan dipandang sebagai suatu ruangan kaku, sepi dan membosankan (www.pikiran-rakyat.com. 22 Juni 2006).

Kondisi lingkungan yang baik membuat seseorang merasa betah. Perpustakaan yang atmosfernya nyaman dapat membawa seseorang untuk tinggal lebih lama dan menghabiskan waktu lebih banyak untuk membaca. Djachrab (www.pikiran-rakyat.com. 22 Juni 2006) mengatakan, suasana santai dan menyenangkan membuat seseorang senang dan menghabiskan waktu lebih lama di perpustakaan. Jika lebih lama di perpustakaan, seseorang akan lebih mengenal perpustakaan. Perpustakaan tidak lagi diasumsikan sebagai tempat yang menjemukan tapi sebaliknya, perpustakaan akan dianggap sebagai tempat yang menyenangkan. Tempat yang menyenangkan, dalam hal ini khususnya perpustakaan, dengan sendirinya akan membuat aktivitas membaca menjadi lebih menyenangkan.

Khusus bagi perilaku lama berkunjung, unsur afektif memegang peran penting yang menentukan banyak sedikitnya waktu yang digunakan di sebuah tempat. Afektif adalah sikap yang melibatkan rasa senang tidak senang serta perasaan emosional lain sebagai akibat dari proses evaluatif yang dilakukan. Perasaan berpengaruh kuat terhadap perilaku seseorang (Nursalam, 1996). Demikian halnya pendapat peneliti lain, Donovan dan Rossiter, Sherman dan Smith (Engel, dkk., 1994) bahwa komponen afektif (perasaan) berperan penting dalam mempengaruhi jumlah waktu dan uang yang digunakan, terutama saat berbelanja. Pendapat tersebut terbukti pada penelitian yang berjudul “The Effect of Music in a Retail Setting on Real and Perceived Shopping Times”. Disebutkan dalam hasil penelitian tersebut bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat emosional dengan lama berkunjung selama berada di toko dan telah dibuktikan oleh penelitian Sherman dan Smith, 1987; Dawson, Bloch dan Ridgway, 1990; Kellaris dan Kent 1993; serta Yalch dan Spangenberg, 1993 (us.badm.washington.edu/yalch/Research/ atmosphe. htm. 9 Februari 2006). Musik mampu menjadi alat untuk membentuk perilaku melalui respon afektif dari suasana hati. Suasana hati dapat diciptakan atau dapat dimanipulasi dengan menggunakan musik, seperti yang dinyatakan Haliman dan Rosyid (2000).

Secara psikologis, musik berhubungan dengan berbagai fungsi psikis manusia seperti persepsi, abstraksi, dan berbagai fungsi psikologis lainnya. Pengaruh musik pada manusia tergantung dari jenis musik dan konteks yang ada saat orang mendengarkan musik (Rachmawati, 2005).  Menurut Abler, musik memiliki semua karakter penting dari sistem kimia, genetika, dan bahasa manusia. Sloboda secara tegas mengatakan bahwa perasaan manusia terikat dengan bentuk musik karena terdapat konsistensi dalam respon musik yang secara relatif memberikan lingkungan yang sama. Psikologi dan musik saling berhubungan karena Psikologi tertarik untuk menginterpretasi perilaku manusia dan musik sebagai bagian dari seni merupakan bentuk perilaku manusia yang unik dan memiliki pengaruh yang kuat (Djohan, 2005).

Musik memiliki tiga bagian penting yang berpengaruh pada seseorang, yakni beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, dan harmoni mempengaruhi ruh. Misalnya saja beat dalam musik dangdut atau pun rock membuat pendengarnya bergerak spontan. Ritme mempengaruhi jiwa, misalnya jika seseorang yang cemas mendengarkan musik beritme teratur maka perasaannya akan menjadi tenang. Sedangkan harmoni mempengaruhi ruh misalnya saat menonton film horor dimana musik pengiringnya dapat membuat seseorang merasa takut karena suasana yang tercipta dari musik (Suseno, 2005).

Sebuah penelitian neurologis oleh Kaufmann dan Frisina (1992), memperlihatkan bahwa separuh dari otak manusia memiliki tugas untuk memproses berbagai aspek pengalaman musik. Artinya, musik telah menjadi bagian dalam diri manusia dan mempunyai potensi yang cukup besar untuk mempengaruhi perilaku manusia. Penelitian oleh Lewis, dkk. (1995) mengungkap bahwa musik dengan kategori positif menghasilkan peningkatan suasana hati yang positif demikian pula musik yang sedih menghasilkan peningkatan suasana hati negatif. Kesimpulannya, sebuah musik cenderung menimbulkan suasana hati yang sama dalam diri pendengarnya. 

Suasana hati yang disebabkan oleh musik dapat merubah perhatian, persepsi, dan memori serta mempengaruhi keputusan seseorang terhadap kondisi mental dan emosionalnya. Cara berpikir dan berperilaku diwarnai oleh musik yang tampaknya secara langsung dan tidak disadari mengakses ke lapisan bawah sadar otak manusia (Djohan, 2005). Musik bisa menciptakan sikap positif terhadap suatu objek (Rachmawati, 2005), mengubah mood sesuai dengan musik yang diputar dan menciptakan suasana yang merangsang pikiran dalam belajar (www.depdiknas. go.id/Jurnal/17 Februari 2006). Seperti yang ditulis oleh Astuti (2001), rasa bosan dapat dikurangi dengan mendengarkan musik. Musik menstimulasi sistem-sistem tubuh dan mengasah kewaspadaan sehingga rasa bosan dan mengantuk berkurang. Tomatis (Astuti, 2001) menyatakan bahwa musik dapat berfungsi seperti listrik yang memberi energi pada otak, memberikan simulasi pada otak sehingga kebosanan menurun.

Suasana positif yang terbentuk oleh musik menciptakan suasana yang merangsang pikiran dalam belajar, memberikan simulasi pada otak sehingga kebosanan pengunjung menurun, menciptakan sikap positif terhadap perpustakaan sehingga minat meningkat. Minat dapat membangkitkan gairah seseorang sehingga mau menggunakan waktu, uang, serta energi untuk kesukaannya terhadap objek tersebut (Mulyati, 2004). Minat dapat dipengaruhi oleh keberadaan musik. Tahun 1996, North dan Hargreaves meneliti tentang pengaruh musik pada atmosfer sebuah kafetaria. Hasil penelitian menunjukkan minat konsumen terhadap kantin bertambah sesuai dengan minat mereka terhadap musik yang dimainkan saat itu (Wilson, 2003). Jika pemutaran musik dapat menahan pengunjung lebih lama di perpustakaan, berarti musik memberikan simulasi pada otak sehingga kebosanan menurun, tercipta sikap positif terhadap perpustakaan dan minat meningkat.

Mengadaptasi jurnal yang ditulis oleh Shields (2005), stimulus dari lingkungan merupakan pengaruh utama pada respon emosional seseorang. Respon emosional menghasilkan perilaku approach (menerima/mendekat) atau avoidance (menolak) dan mempengaruhi waktu yang digunakan seseorang. Menurut Roboson (Shields, 2005) atmosfer ruangan yang terbentuk dari dekorasi, pencahayaan, musik dan warna dapat menghasilkan perilaku approach (menerima) atau avoidance (menolak). Jika teori stimulus ini dipasangkan pada konteks perpustakaan, maka yang disebut sebagai perilaku approach adalah kesedian untuk tetap berada di lingkungan perpustakaan, mengeksplorasi lingkungan, dan berkomunikasi dengan individu lain. Sedangkan perilaku avoidance meliputi keinginan untuk meninggalkan perpustakaan, tidak berespon aktif pada lingkungan, dan menolak untuk berkomunikasi dengan individu lainnya. Perilaku tersebut merupakan perkiraan respon yang muncul setelah pemutaran musik dan dapat mempengaruhi jumlah waktu yang digunakan konsumen di sebuah perpustakaan menurut teori approach dan avoidance yang ditulis oleh Shields (2005).

Roewijoko (Rahmawati, 2005) menjelaskan bahwa gelombang suara musik yang dihantarkan ke otak berupa energi listrik melalui jaringan syaraf yang akan membangkitkan gelombang otak yang dibedakan atas frekuensi alpha, beta, tetha, dan delta. Gelombang alpha membangkitkan relaksasi, dimana otak menerima banyak informasi baru. Gelombang beta terkait dengan aktivitas mental. Gelombang theta dikaitkan dengan situasi stres dan upaya kreatif, sedangkan gelombang delta dihubungkan dengan situasi mengantuk. Siegel (Arini, 2006) mengatakan bahwa musik klasik menghasilkan gelombang alpha sehingga lebih banyak pengaruhnya dalam relaksasi. 

Musik klasik telah sering dijadikan pembanding dengan jenis musik lainnya dalam berbagai penelitian eksperimental. Selain memunculkan pengaruh relaksasi, dampak yang diciptakan musik klasik pada penelitian-penelitian terdahulu tentang lama berkunjung atau time spent, membuktikan musik klasik sebagai jenis musik yang dapat menahan konsumen paling lama di suatu tempat (di antara jenis musik lain seperti pop, jazz, easy listening dan keadaaan tanpa musik). Hasil analisis membuktikan bahwa musik klasik membuat konsumen, khususnya di restoran British Inggris saat itu, menghabiskan waktu dan uang lebih banyak dibandingkan dengan jenis musik lainnya (yaitu pop, jazz, easy listening dan keadaaan tanpa musik). Kondisi tanpa musik menempati urutan terakhir. 

Ada tiga alasan yang dapat menjelaskan mengapa musik klasik sangat efektif mempengaruhi perilaku subjek pada penelitian tersebut. Tiga hal yang dapat menjelaskan hal ini yaitu, pertama; musik klasik bersinergi dengan aspek lain atmosfer di restoran dan sinergi ini memunculkan perilaku subjek menghabiskan waktu lebih lama. Kedua, musik klasik mudah diterima oleh subjek yang diteliti dan beberapa bentuk dari efek transfer dalam menyukai musik ini menambah waktu yang dihabiskan di restoran. Mungkin ini sebagai efek gelombang alpha yang dihasilkan musik klasik. Terakhir, musik klasik menaikkan atmosfer pemasaran dalam hal peningkatan pembelian oleh konsumen (North, dkk., 2003). Sedangkan untuk musik nasyid memang belum banyak diteliti namun diketahui dari penelitian Suseno (2005) terhadap subjek berusia 17-26 tahun tentang pengalaman mendengar musik nasyid menghasilkan jawaban yang beragam. Secara umum subjek merasa tenang, damai dan termotivasi untuk mensyukuri nikmat dari pencipta. Kedua jenis musik, klasik dan nasyid, memiliki efek relaksasi, sehingga diharapkan muncul kesan yang sama (relaksasi) pada subjek di perpustakaan.

Perbedaan kedua musik ini, musik klasik berasal dari Barat, dan nasyid, terutama dalam hal ini Raihan, berasal dari Timur tepatnya dari Malaysia. Perbedaan pengaruhnya pada diri seseorang belum dapat dipaparkan secara jelas saat ini karena belum ada penelitian yang benar-benar membandingkan pengaruh kedua jenis musik ini terhadap seseorang. Hal yang diketahui bahwa kedua jenis musik ini memberi efek relaksasi pada pendengarnya, dan khusus untuk musik nasyid selain relaksasi, pendengarnya akan termotivasi untuk mensyukuri nikmat dari pencipta, sesuai hasil penelitian Suseno (2005).

Penelitian-penelitan sebelumnya tentang pengaruh musik telah dilakukan di beberapa lokasi yang berhubungan dengan pemasaran barang atau produk seperti restoran, pertokoan dan lokasi lain seperti laboratorium. Penelitian ini mencoba untuk membuktikan dapatkah hal yang sama terjadi di perpustakaan. Penggunaan musik diharapkan menciptakan atmosfer yang lebih baik di perpustakaan, musik dan minat saling bersinergi, sehingga tanpa sadar pengunjung menggunakan waktunya lebih lama di perpustakaan dibandingkan dengan saat tidak ada musik di perpustakaan.

Penelitian ini mengukur level minat membaca subjek sebagai variabel moderator untuk meningkatkan validitas penelitian. Variabel moderator adalah variabel bebas bukan utama yang juga diamati oleh peneliti untuk menentukan sejauh mana efeknya ikut mempengaruhi hubungan antara variabel bebas utama dan variabel tergantung (Azwar, 2005). Pengukuran level minat membaca digunakan untuk mengetahui apakah lamanya subjek berada di perpustakaan benar-benar sebagai efek dari pemutaran musik atau karena tinggi rendahnya level minat baca atau karena ada interaksi antara kedua variabel, jenis perlakuan dan minat membaca.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: