Pelatihan Kecerdasan Emosi Mampu Meningkatkan Kontrol Diri Narapidana

Pengaruh Pelatihan Kecerdasan Emosi Untuk Meningkatkan Kontrol Diri Narapidana Kasus Narkoba Di Lapas Kelas IIa Yogyakarta

Emosi seorang penyalahguna narkoba sangat labil dan bisa berubah kapan saja. Satu saat tampaknya baik-baik saja, tetapi di bawah pengaruh narkoba semenit kemudian berubah menjadi orang yang seperti kesetanan, mengamuk, melempar barang-barang, dan bahkan memukuli siapapun yang ada di dekatnya. Hal ini sangat umum terjadi di keluarga seorang alkoholik atau penyalahguna. Mereka tidak segan-segan memukul istri atau anak-anak bahkan orangtua mereka sendiri. Karena melakukan semua tindakan kekerasan itu di bawah pengaruh narkoba, maka terkadang penyalahguna tidak ingat apa yang telah dilakukannya, dalam hal ini sesuai fakta di lapangan yang diperoleh, karena lingkungan terdekat para narapidana kasus narkoba tersebut adalah Lapas dimana kemungkinan untuk terjadinya perkelahian atau jenis kekerasan lainnya sangat besar, dan sangat sering.

Kekerasan yang dilakukan oleh penyalahguna narkoba tersebut mengindikasikan adanya ketidakcerdasan emosional yang mengakibatkan ketidakstabilan kontrol diri seorang penyalahguna, dimana seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa kecerdasan emosional seseorang diantaranya adalah mengenali dan memahami perasaan-perasaannya dan perasaan-perasaan orang lain, yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan (Alder, 2001), mengenali arti emosi dan hubungan antar emosi, dan alasan serta pemecahan masalahnya. Kecerdasan emosi termasuk didalamnya adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan emosi, memilah-milah antara emosi dengan perasaan-perasaan yang berhubungan, mengerti maksud dari emosi-emosi tersebut dan mengaturnya (Ciarrochi dkk, 2001), dan berhubungan erat dengan kontrol diri yang merupakan kemampuan untuk menetapkan keputusan mengenai bagaimana dan kapan harus mengekspresikan emosi, dan bagaimana harus merespon (http://www.zerotothree.org/tips/SELFCONT.HTM). 

Hal ini didukung dengan pendapat bahwa kecerdasan emosional mencakup kontrol diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati), untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin (Secapramana, 1999). 

Didukung pula oleh penelitian yang dilakukan oleh Agustien (2005)  mengenai pengaruh pelatihan kecerdasan emosi terhadap peningkatan kepercayaan diri siswa sekolah dasar, penelitian yang dilakukan dengan metode pretest-postest control group design menunjukkan bahwa pelatihan kecerdasan emosi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepercayaan diri siswa sekolah dasar. Begitu juga dengan penelitian Utami (2005), diketahui bahwa pelatihan kecerdasan emosi berpengaruh terhadap kecerdasan emosi pada anak.

Adiksi terhadap narkoba membuat seseorang kehilangan kendali terhadap emosinya. Seorang penyalahguna acapkali bertindak secara impulsif, mengikuti dorongan emosi apapun yang muncul dalam dirinya. Perubahan yang muncul ini bukan perubahan ringan, karena pecandu dan penyalahguna adalah orang-orang yang memiliki perasaan dan emosi yang sangat mendalam. Para pecandu seringkali diselimuti oleh perasaan bersalah, perasaan tidak berguna, dan depresi mendalam yang seringkali membuatnya berpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Di bawah pengaruh narkoba, seorang penyalahguna dapat merasa senang dan nyaman, tanpa harus merasakan perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan, tetapi perasaan-perasaan ini tidak hilang begitu saja, melainkan ‘terkubur hidup-hidup’ di dalam dirinya. Dan saat si penyalahguna berhenti menggunakan narkoba, perasaan-perasaan yang selama ini ‘mati’ atau ‘terkubur’ dalam dirinya kembali bangkit, dan di saat-saat seperti inilah penyalahguna membutuhkan suatu program pemulihan, untuk membantunya menghadapi dan mengatasi perasaan-perasaan sulit itu.

Penelitian Olviana (2005) sekali lagi mampu menunjukkan bahwa pelatihan kecerdasan emosi dapat meningkatkan perkembangan moral, sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan kecerdasan emosi dapat mempengaruhi variabel-variabel lain mengenai kepribadian seseorang, begitu juga halnya dengan penelitian ini bahwasannya pelatihan kecerdasan emosi akan mempengaruhi peningkatan kemampuan kontrol diri seseorang.

Pelatihan untuk menyatakan perasaan negatif (marah, frustrasi, kecewa, depresi, cemas) menjadi amat penting. Pelampiasan yang tidak tepat justru menambah intensitas, bukan mengurangi. Cara berpikir menentukan cara merasa, oleh karenanya berpikir positif sangatlah diperlukan (Secapramana, 1999).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: