Pelatihan Kecerdasan Emosi Mampu Meningkatkan Perkembangan Moral Anak SD

Pengaruh Pelatihan Kecerdasan Emosi Terhadap Peningkatan 
Perkembangan Moral Anak SD

Mengamati perilaku dari kehidupan anak–anak pada tahun–tahun terakhir iini, justru membuat risau masyarakat dan para pengamat sosial. Banyak peristiwa menyimpang yang dilakukan oleh anak. Pelanggaran umum dimasa kanak–kanak tidak bisa dianggap sebagai masalah yang sepele, tetapi merupakan masalah yang serius. Pelanggaran tersebut antara lain mencakup berbohong, berbuat curang, mencuri, merusak dan membolos, dan ini merupakan tanda bahaya dari penyesuaian pribadi dan sosial buruk pada anak, karena apabila dibiarkan akan bertambah kompleks dan berbahaya pada saat remaja bahkan dewasa (Hurlock, 1978). 

Misalnya dalam hal berbohong, walaupun berbohong sering dapat dimaklumi dari segi perkembangan anak, ini dapat menjadi masalah bila berbohong menjadi kebiasaan atau berbohong dalam hal yang penting bagi kesejahteraan mereka. Berbohong mengikis kedekatan dan keakraban, berbohong menumbuhkan benih ketidakpercayaan, karena perbuatan ini mengkhianati kepercayaan orang lain. Berbohong membuat pihak yang menjadi korban merasa disepelekan. Hampir tidak mungkin kita tinggal bersama orang lain yang sering berbohong. Penelitian terhadap anak-anak yang sering berbohong menunjukkan bahwa mereka juga sering terlibat dalam bentuk-bentuk perilaku antisosial, termasuk menipu, mencuri dan aksi kekerasan. Ini antara lain akibat kenyataan bahwa anak-anak yang berbohong biasanya berteman dengan anak-anak lain yang tidak jujur dan mereka mengembangkan kelompok sebaya yang percaya bahwa berbohong kepada orang di luar kalangan diperbolehkan (Shapiro, 1997).

Selain itu, Alhadza (2000) dalam penelitiannya menemukan bahwa koruptor-koruptor besar, penipu-penipu ulung dan penjahat kerah putih yang marak disorot saat ini adalah penyontek-penyontek berat ketika mereka masih berada di bangku sekolah, atau sebaliknya mereka yang terbiasa menyontek di sekolah, memiliki potensi untuk menjadi koruptor, penipu ulung dan penjahat kerah putih dalam masyarakat nanti.    

Uraian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak tersebut memiliki perkembangan moral yang rendah dan kurang mampunya anak berempati terhadap orang lain dan lingkungan, hal ini memperlihatkan bahwa kecerdasan emosi anak rendah, maka perlunya dilakukan berbagai tindakan dalam rangka meningkatkan kecerdasan emosi pada anak. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan kepada anak. Pelatihan ini disebut pelatihan kecerdasan emosi. Pelatihan kecerdasan emosi ini dapat meningkatkan kemampuan anak serta membantu anak dalam menghadapi tantangan, rintangan serta hambatan. Pada akhirnya dapat meningkatkan perkembangan moral anak. 

Suharsono (2001) menambahkan bahwa kecerdasan emosi tidak hanya berfungsi untuk mengendalikan diri tetapi juga mencerminkan kemampuan dalam “mengelola” ide, konsep, karya atau produk. Selanjutnya, Suharsono (2001) menjelaskan keuntungan bila seseorang memiliki kecerdasan emosi secara memadai. Pertama, kecerdasan emosi mampu menjadi alat untuk pengendalian diri sehingga seseorang tidak terjerumus kedalam tindakan-tindakan bodoh, yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Kedua, kecerdasan emosi bisa diimplementasikan sebagai cara yang sangat baik untuk memasarkan atau membesarkan ide, konsep atau bahkan sebuah produk. Ketiga, kecerdasan emosi adalah modal penting bagi seseorang untuk mengimbangkan bakat kepemimpinan dalam bidang apapun juga.        

Ada beberapa penelitian-penelitian terdahulu yang dilakukan di luar negeri, yang membuktikan bahwa dengan diberikannya pelatihan keterampilan emosi dan sosial dapat meningkatkan perkembangan moral pada anak. Salah satu dari penelitian tersebut adalah Child Development Project  yang dilakukan oleh Scaps (Goleman, 1996) pada sekolah Taman Kanak-Kanak hingga kelas enam di California yang hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak sekolah tersebut lebih bersifat sosial dan suka menolong, lebih memahami orang lain, lebih tenggang rasa dan penuh perhatian, serta lebih terampil dalam menyelesaikan konflik. Penulis berpendapat bahwa pelatihan kecerdasan emosi dapat diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan perkembangan moral anak.      

Adapun materi-materi pelatihan kecerdasan emosi yang dapat mengembangkan emosi anak adalah: Kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.  
Kesadaran diri dapat membuat anak mengenali perasaan yang sedang ia rasakan, anak mampu memahami penyebab perasaan yang timbul, anak juga menyadari keterkaitan antara perasaan mereka dan yang mereka pikirkan, perbuat dan katakan, sehingga dengan keterampilan tersebut anak mampu mengenali perbedaan perasaan dan tindakan. Tingginya kesadaran diri anak maka anak akan lebih mampu menekan tindakan yang negatif dan anak lebih berperilaku secara moral (Goleman, 1999). 

Penelitian yang berkaitan dengan pemberian materi kesadaran diri adalah The Improving Social Awareness-Social Problem solving project oleh Ellias yang dilakukan pada sekolah-sekolah New Jersey mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga kelas enam. Menurut penilaian para guru, penilaian rekan-rekan sebaya, dan catatan-catatan sekolah, dibandingkan dengan murid-murid yang tidak mengikuti program menunjukkan hasil anak lebih peka terhadap perasaan orang lain, anak lebih peduli pada keadaan sosial sekitarnya dan meningkatnya kendali diri, kesadaran sosial, pembuatan keputusan sosial di dalam dan di luar sekolah, berkurangnya sifat antisosial, perilaku tak pantas dalam lingkup sosial, anak lebih memahami akibat-akibat dari tindak tanduk mereka sendiri dan anak mempunyai harga diri lebih tinggi (Goleman, 1996). 
Pengaturan diri dapat membuat anak mempunyai kemampuan untuk mengatur dirinya kearah yang positif, anak dapat mengelola emosinya dengan baik, anak mampu mengendalikan perilakunya, mempunyai kehati-hatian dalam bertindak atau berperilaku dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi atas apa yang dilakukannya. Anak dapat selalu berfikir jernih dalam menghadapi tekanan, sehingga dapat meminimalkan perilaku tidak bermoral (Goleman, 1999). Penelitian yang terkait dengan materi pengendalian diri adalah Paths oleh Greenberg yang dilakukan pada sekolah-sekolah di Seattle, kelas satu hingga kelas lima. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan keterampilan kognitif sosial anak menjadi lebih baik, pengendalian diri anak lebih baik, adanya proses berfikir pada diri anak sebelum melakukan tindakan, adanya perbaikan emosi, pemahaman dan pengenalan pada anak (Goleman, 1996). 

Motivasi dapat membuat anak memiliki dorongan untuk berprestasi, mempunyai ketekunan dalam melakukan sesuatu, anak juga gigih dalam memperjuangkan tujuan yang akan dicapai dan siap apabila mengalami kegagalan (Goleman, 1999). 

Empati dapat membuat anak memilki kemampuan untuk memahami orang lain, mampu mengerti perasaan dan pikiran orang lain (Goleman, 1999). Anak dengan mengerti, dapat memahami perasaan dan pikiran orang lain atau disebut juga kemampuan berempati atau empati yang tinggi, maka anak akan merasa cemas dan rasa bersalah apabila anak tersebut melakukan kesalahan atau melanggar peraturan yang berlaku (Berk, 1994). Anak yang mempunyai kemampuan empati kuat cenderung terlibat dalam perbuatan yag lebih prososial, misalnya menolong orang lain dan kesediaan berbagi. Anak-anak yang bersikap empati lebih disukai oleh teman-temannya dan lebih berhasil di sekolah. Anak-anak yang bersikap empati juga memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menjalin hubungan yang akrab dengan orangtua, guru dan teman-temannya (Shapiro, 1997).  

Keterampilan sosial dapat membuat anak memiliki kemampuan untuk dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara tepat dengan orang lain, dengan teman sebaya, mampu beradaptasi dengan lingkungan, serta memiliki kemampuan untuk menjalin kerjasama dengan orang lain (Goleman, 1999). Penelitian yang berkaitan dengan keterampilan sosial adalah Yale-New Haven Social Competence Promotion Program oleh Weissberg, yang dilakukan di sekolah-sekolah negeri New Haven, kelas lima hingga kelas delapan. Hasil dari penelitian tersebut antara lain membaiknya keterampilan dalam menyelesaikan masalah, tingkah laku menjadi lebih baik, meningkatnya keterlibatan dengan rekan-rekan sebaya, meningkatkan keterampilan dalam menghadapi masalah, berkurangnya perilaku kasar serta meningkatnya keterampilan dalam menyelesaikan konflik (Goleman, 1996). 

Dengan diberikannya materi-materi tersebut diatas, anak mampu berperilaku moral karena bertambahnya kemampuan-kemampuan emosional pada anak. Adanya kesadaran diri, anak akan mampu mengenali emosinya, mengenal dirinya sendiri, menyadari apa yang ia lakukan sehingga anak menyadari apa yang dilakukannya benar-benar sesuai dengan aturan yang berlaku. Adanya pengaturan diri, membuat anak mampu untuk mengontrol perilakunya, mengontrol emosinya, mampu memecahkan masalah, mampu bersikap jujur sehingga dapat mendukung perkembangan moral anak. Adanya motivasi yang baik dapat membuat anak menjadi optimis, berfikir positif dan memacu anak untuk berperilaku moral. Empati akan membuat anak peka terhadap perasaan orang lain, peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya sehingga anak tidak akan seenaknya untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya. Sedangkan keterampilan sosial, anak mampu berinteraksi secara tepat dengan orang lain atau dalam kelompok sehingga anak mampu menyesuaikan perilakunya sesuai dengan aturan yang berlaku dalam kelompok atau masyarakat.
Di bawah ini ada beberapa artikel yang mungkin anda butuhkan :
  • MEMBINA KECERDASAN EMOSI DAN INTELEK SEBELUM USIA ENAM TAHUN … – MEMBINA KECERDASAN EMOSI DAN INTELEK SEBELUM USIA ENAM TAHUN. Posted on Mei 6, 2010 by petugasisma. Mengimbau kembali kehidupan ibu bapa dan nenek moyang kita dahulu kita akan dapati seringkali anak lelaki diajar dengan ilmu …
  • anggreini: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual … – Kecerdasan Emosi merupakan penentu utama seseorang dalam keberhasilan dan kesuksesan dalam bidang apapun baik dalam berbisnis maupun sosial. Banyak orang yang cerdas secara Intelektual tapi tak berhasil bahkan terpuruk dalam persaingan …
  • Pengaruh Musik Terhadap Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Emosi … – Musik dan Kecerdasan Emosi. Sternberg dan Salovery (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi diri, yang merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi …
  • Kecerdasan Emosi dan Spiritual – Ciri umum orang yang cerdas intelektual dan emosionalnya yaitu orang itu bisa sukses dalam kehidupan, sukses dalam pekerjaan, mampu bekerjasama dengan orang lain, mampu mengendalikan emosi, mampu mencari harta yang banyak dan berlimpah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: