Pelatihan Ketrampilan Sosial Mempengaruhi Efektivitas Komunikasi Interpersonal Remaja

Pengaruh Pelatihan Keterampilan Sosial Terhadap Efektivitas Komunikasi Interpersonal 
Pada Remaja

Masa remaja masa dimana seseorang mulai mengembangkan dan memperluas kehidupan sosialnya. Pada masa remaja ini juga seseorang mulai mencari dan menemukan identitas dirinya, sehingga sangat penting bagi remaja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar penerimaan dan penilaian dari orang-orang disekitarnya   terhadap remaja yang bersangkutan lebih bernilai postif. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Giblin (2002) bahwa ketidakmampuan berkomunikasi secara baik dengan orang lain sangat berpengaruh terhadap penerimaaan dan penilaian terhadap seseorang. 

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang efektif, dan mempelajari bagaimana berkomunikasi yang efektif sama seperti belajar bagaimana tatacara makan dengan sendok dan garpu, yaitu melalui pengamatan terhadap orang lain, melalui petunjuk-petunjuk, melalui latihan atau coba-coba, dan sebagainya (De Vito, 1997). Salah satu latihan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi interpersonal pada remaja adalah dengan melatih keterampilan sosial yang dimiliki, karena keterampilan sosial mempengaruhi efektivitas komunikasi pada remaja seperti yang diungkapkan Michelson (Ramdhani, 1994) yang mengemukakan bahwa pelatihan keterampilan sosial dirancang untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan keterampilan sosial individu. Lebih tegas lagi pengaruh keterampilan sosial mempengaruhi efektivitas komunikasi remaja dikemukakan oleh Sasongko (2001) yang meyatakan bahwa salah satu gejala yang teramati akibat erosi nilai-nilai dan keterampilan sosial di kalangan remaja adalah kurangnya efektivitas dalam berkomunikasi. 

Pelatihan keterampilan sosial bertujuan untuk mengajarkan kepada individu-individu yang tidak terampil menjadi terampil dalam berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekitarnya, karena individu-individu yang terampil dalam berinteraksi tidak mengalami kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain, berkomunikasi secara efektif dengan orang lain, terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan, dan dapat mengakhiri pembicaraan tanpa mengecewakan atau menyakiti orang lain (Ramdhani dalam Subandi, 2002). 

Uraian di atas menjelaskan bahwa sebenarnya pelatihan keterampilan sosial mengajarkan bagaimana cara berkomunikasi yang baik agar hubungan atau interaksi dengan orang lain bisa berjalan dengan baik. Karena pada umunya pelatihan keterampilan sosial mengajarkan cara-cara memberikan pujian, mengemukakan keluhan atau ketidaksetujuan terhadap sesuatu hal, menolak permintaan orang lain, keterampilan bertukar pengalaman, cara-cara menuntut hak pribadi, memberikan saran kepada orang lain, tekhnik pemecahan masalah atau konflik, cara-cara berhubungan atau bekerjasama dengan orang lain yang berlainan jenis kelamin maupuan orang yang lebih tua dan lebih tinggi statusnya, dan beberapa tingkah laku lainnya (Michelson dalam Ramdhani, 1993). Shapiro (1999) juga mengemukakan bahwa bentuk-bentuk keterampilan sosial antara lain meliputi : keterampilan bercakap-cakap baik nerbal maupun non verbal, keterampilan melontarkan humor, keterampilan untuk berteman dan menjalin persahabatan, keterampilan bergaul dalam kelompok, dan keterampilan bertata krama. 

Pelatihan keterampilan sosial yang diberikan pada masa remaja diharapkan bisa membantu remaja melawati tahap-tahap selanjutnya dengan lebih baik, dan lebih bisa mengungkapkan diri dengan lebih baik melalui komunikasi dengan lingkungan sosialnya, serta diharapkan dengan memiliki keterampilan mengirim sebuah informasi dan menerima informasi yang diperoleh melalui pelatihan keterampilan sosial remaja lebih bisa diterima dalam mengungkapkan sebuah pendapat atau kritikan terhadap orang lain, serta  membuatnya dipandang sebagai sosok yang menyenangkan dalam lingkungan sosialnya.

Uraian di atas memberi gambaran bahwa proses yang terjadi dalam pelatihan keterampilan sosial tidak akan pernah lepas dari kegiatan komunikasi interpersonal baik secara verbal maupun non verbal, sehingga penulis menyimpulkan bahwa dengan memberi pelatihan keterampilan sosial pada remaja, secara otomatis sebenarnya remaja telah memdapat pembelajaran bagaimana berkomunikasi yang baik dan efektif, karena pada dasarnya hubungan sosial yang harmonis dengan lingkungan sekitar yang dicapai dari keterampilan remaja bersosialisai  didasari oleh sebuah komunikasi yang baik.

Adapun materi-materi pelatihan keterampilan sosial yang dapat meningkatkian efektivitas komunikasi interpersonal remaja adalah : mengenal diri sendiri, toleransi, komunikasi verbal non verbal, menyatakan pendapat, menyatakan penolakan, menjalin dan memperbaiki hubungan. 

Semua orang ingin mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik, karena semua orang ingin mengendalikan pikiran dan perilakunya dengan penuh kesadaran (De vito, 1997), tidak terkecuali remaja. Mencoba mengenali diri sendiri membuat remaja sadar dengan perasaan yang mereka miliki, sadar dengan apa yang mereka pikirkan, serta memahamai penyebab timbulnya perasaan tersebut. Supratiknya (1995) menyatakan bahwa orang yang mengenali dan memahami perasaan-perasaannya, maka biasanya mereka pun akan lebih mudah menerima informasi dan perasaan yang sama yang ditunjukkan oleh orang lain.   Mengenal diri sendiri melalui pengenalan terhadap pikiran dan perasaan yang dimiliki melalui dialog dengan diri sendiri, juga dapat dilakukan dengan menerima dan mendengarkan setiap umpan balik yang diberikan seseorang terhadap individu yang bersangkutan (De vito, 1997). Sehingga, ketika remaja belajar untuk mengenal dirinya dengan lebih baik, mereka juga sebenarnya belajar untuk mendengarkan dan menerima informasi tentang diri mereka dari orang lain. 

Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda satu dengan yang lainnya terhadap suatu hal. Toleransi dapat membuat remaja lebih menghargai perbedaan yang mereka miliki dengan orang lain. Supratiknya (1995) menyatakan bahwa kemampuan memahami sudut pandang orang lain memang sangat penting agar dapat berkomunikasi secara efektif. Toleransi juga membuat remaja lebih bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan pada dirinya dan juga yang ada pada orang lain. Saling mengkomunikasikan penerimaan akan melahirkan perasaan aman secara psikologis dalam berkomunikasi (Supratiknya, 1995), disamping itu sikap toleransi dalam komunikasi menumbuhkan keterbukan dan kesan empati yang mendalam (Giblin, 2002). Remaja yang memiliki sikap toleransi terhadap dirinya dan orang lain diharapkan menjadi individu yang lebih terbuka pada setiap keadaan dan situasi, karena keterbukaan merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya komunikasi yang efektif. 

Kemampuan remaja dalam berkomunikasi secara verbal dan non verbal sangat membantu untuk memudahkan penyampaian informasi yang akan diberikan, juga memudahkan untuk menanggapi dan mengerti informasi yang diterima. Kemampuan berkomunikasi secara verbal dan non verbal sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berkomunikasi, seperti yang diungkapkan oleh Liliweri (1997) bahwa komunikasi interpersonal dikatakan sukses apabila komunikator dan komunikan berpartisipasi melalui pengiriman pesan verbal maupun non verbal, karena komunikasi melalui pesan-pesan verbal dan non verbal bisa menunjukkan seberapa jauh hubungan komunikator dengan komunikan, karena perilaku verbal dan non verbal mengandung substansi pesan yang mampu menghasilkan suatu suasana kedekatan antara komunikator dengan komunikan (Liliweri, 1997). 

Menyatakan pendapat baik yang bersifat konfirmasi terhadap suatu pernyataan, memberi pujian, dan menyatakan perasaan serta yang lainnya dengan cara yang tepat membuat remaja menjadi lebih mudah diterima oleh semua lingkungan sosialnya (Ramdhani,1994). Penting bagi remaja memiliki keterampilan untuk menyatakan pendapat yang mereka miliki dengan cara yang tepat, karena memberi dan menerima pendapat, pernyataan, dan umpan balik menuntut sebuah keberanian, keterampilan, pengertian dan juga pengharagaan terhadap diri sendiri dan orang lain (Johnson dalam Supratiknya, 1997). 

Penolakan merupakan bagian dari komunikasi yang paling sering menimbulkan masalah. Pada dasarnya menolak permintaan orang lain adalah kewajaran, tapi menjadi tidak wajar ketika penolakan yan dilakukan mengakibatkan kualitas hubungan dengan orang lain menjadi buruk (De Vito, 1997). Melakukan penolakan dalam sebuah komunikasi memerlukan keterampilan tersendiri, seperti penggunaan bahasa, suara dan gerak tubuh (De Vito, 1997). Remaja sangat membutuhkan informasi tentang bagaimana cara menolak dengan tepat karena umumnya penolakan dilakukan oleh remaja cenderung bersifat anarkis dan keras (Michleson dalam Ramdhani, 1994), padahal keterampilan seseorang dalam menolak permintaan orang lain sangat berpengaruh terhadap respon yang akan diterima olehnya (De Vito, 1997). Diharapakan dengan memiliki keberanian dan keterampilan menolak dengan cara yang tepat membuat mereka tetap bisa diterima dan dihargai oleh orang-orang disekitarnya. 

Kemampuan remaja dalam menjalin hubungan yang baik akan meningkatkan kualitas komunikasi yang akan mereka lakukan, karena seperti yang diungkapan oleh Hardjana (2003) bahwa kualitas hubungan dengan orang lain akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan komunikasi yang akan dilakukan dengan orang lain. Komunikasi yang efektif akan terwujud bila pertemuan dalam komunikasi itu merupakan suasana yang menyenangkan bagi individu yang berkomunikasi (Rakhmat, 2002). Kondisi yang nyaman dalam berkomunikasi dapat terlaksana jika individu-individu yang berkomunikasi tidak terlibat dalam masalah yang berlarut-larut (De Vito, 1997). Sehingga penting bagi remaja memiliki kemampuan untuk memperbaiki hubungan agar setiap masalah yang mereka hadapi dengan orang lain dapat cepat terselesaikan, dan  komunikasipun akan berjalan dengan lancar dan efktif. 

Dengan diberikannya materi-materi tersebut di atas, remaja lebih efektif dalam berkomunikasi karena bertambahnya keterampilan-keterampilan sosial yang dapat menunjang efektivitas komunikasi interpersonal. Adanya proses pengenalan terhadap diri sendiri manjadikan remaja lebih terbuka terhadap infomasi dari orang lain terhadap diri mereka. Toleransi membuat remaja lebih menghargai orang-orang yang mereka ajak berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi secara verbal dan non verbal membuat komunikasi yang dilakukan oleh remaja lebih mudah dterima dan difahami oleh lingkungan sekitarnya. Adanya kemampuan menyatakan pendapat dan penolakan dengan baik membuat remaja lebih bisa terlibat dalam sebuah komunikasi yang lebih hidup. Kemampuan remaja dalam menjalin dan memperbaiki hubungan dengan orang lain akan menempatakan mereka pada situasi komunikasi yang nyaman dan menyenangkan. 

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa materi-materi yang diberikan dalam pelatihan keterampilan sosial mampu meningkatkan efektivitas komunikasi ineterpersonal pada remaja, karena materi-materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut semuanya melibatkan interaksi dan komunikasi dengan orang lain secara langsung, sehingga pelatihan ini juga merupakan ajang untuk belajar meningkatkan efektivitas komunikasi interpersonal terhadap lingkungan masyarakat dalam kelompok yang lebih kecil.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: