Pelatihan Kognitif Perilaku Dengan Penyuluhan Perilaku Merokok Mampu Mengendalikan Perilaku Merokok

Pengaruh Pelatihan Kognitif Perilaku Dan Penyuluhan Tentang 
Perilaku Merokok Untuk Mengendalikan Perilaku Merokok

Dewasa ini merokok merupakan gaya hidup yang banyak dipilih dengan berbagai alasan. Merokok dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan perasaan relaks, alasan pergaulan, kompensasi psikis untuk menghilangkan stres, lebih bisa berkonsentrasi, sampai pada taraf adiksi artinya dalam keseharian individu sudah sangat tergantung dengan rokok. Merokok sangat merugikan perokok itu sendiri dan juga orang-rang yang tidak merokok. Menurut penelitian Aliza (2003) interaksi antara perokok aktif dengan perokok pasif ini biasanya terjadi ditempat-tempat umum. Dalam konteks ini, pemahaman terhadap kondisi atau keadaan orang lain sangat dibutuhkan oleh perokok terutama pada saat mereka berada ditempat umum. Hasil penelitian diperoleh ada hubungan negatif antara empati dengan perilaku merokok di tempat umum. 

Oskamp (Smet, 1994) menjelaskan bahwa tidak perlu diragukan bahwa perilaku merokok itu mengandung resiko untuk kesehatan. resiko kematian bertambah sehubungan dengan banyaknya merokok dan umur awal merokok lebih dini. Bonollo, dkk (2000) menambahkan merokok merupakan faktor resiko utama dari penyakit kardiovaskular. Lebih lanjut, menurut Perry (Smet,1994) Jika dimulai sejak masa remaja, merokok itu berhubungan baik dengan tingkat maupun parahnya atheroscleosis.

Efendi (2004) Fenomena perilaku yang tampak mencolok dalam kehidupan anak ketika memasuki fase remaja (pubertas) adalah munculnya salah satu gejala perilaku negatif  (kebiasaan merokok).  Perilaku merokok di kalangan remaja hingga kini masih menjadi masalah endemik.  Berdasarkan bukti empiris, secara kuantitatif dari penelitian terdahulu diketahui bahwa  angka prevalensi perokok di kalangan remaja (setaraf siswa sekolah lanjutan dan menengah) dari tahun ke tahun  terus  meningkat. Bahkan data terkini menunjukkan sudah sampai pada tahap yang sangat memprihatinkan. Dampak pengiring lain yang sangat mengkhawatirkan adalah keberadaan perilaku merokok  bisa menjadi pintu masuk pertama (first step) terhadap perilaku negatif lainnya, seperti : minum alkohol, penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau narkoba, perilaku agresif  dan destruktif. 

Perry, dkk (Smet, 1994) menjelaskan bahwa merokok pertama-tama mulai pada masa remaja dan percobaan itu maju berkembang menjadi penggunaan secara tetap dalam kurun waktu beberapa tahun awal. Lagipula diketahui bahwa makin muda seseorang mulai merokok, makin banyak ia merokok jika menginjak dewasa. Levental, dkk (Smet, 1994) menerangkan tentang merokok tahap awal itu dilakukan dengan teman-teman, seorang anggota keluarga bukan orang tua, tetapi secara mengejutkan bagian besar juga dengan orang tua. Tekanan dari teman sebaya merupakan variabel terpenting. Pengaruh keluarga merupakan faktor penentu kedua yang paling penting. 

Hurlock (1980) menjelaskan merokok seringkali dimulai di sekolah menengah pertama, bahkan sebelumnya. Pada anak duduk di sekolah menengah atas, merokok merupakan kegiatan yang meluas dalam berbagai kegiatan sosial dan juga di daerah-daerah terlarang, seperti di halaman sekolah. Remaja merasa dirinya harus lebih banyak menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok sebaya daripada norma-norma orang dewasa atau penguasa lembaga bila memang ingin diidentifikasikan dengan kelompok sebaya dan tidak mau lagi dianggap anak-anak melainkan hampir dewasa. Karena remaja lebih banyak berada diluar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagi kelompok, maka dapatlah dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya pada pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar daripada pengaruh keluarga. Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum alkohol, obat-obat terlarang atau rokok, maka remaja cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan perasaan mereka sendiri akibatnya.

Perilaku merokok remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan teman, keluarga. Atkinson (1999) menjelaskan bahwa perilaku manusia dalam perspektif teori belajar sosial (social learning theory) terkait erat dengan lingkungan dan situasional. Dalam pandangan belajar sosial, perilaku manusia  merupakan hasil dari interaksi terus-menerus antara variabel individu dengan lingkungannya, selanjutnya, perilaku tersebut membentuk lingkungan. Jadi manusia dan lingkungan berada dalam dimensi saling mempengaruhi secara timbal-balik.

Soekamto (Efendi, 2004) menerangkan tentang pandangan kognitif beranggapan bahwa dalam otak organisme, khususnya manusia, memiliki fungsi  kognitif  yang akan mengelola informasi yang berasal dari lingkungannya.  Di dalamnya termasuk berbagai pengalaman yang diperoleh organisme. Oleh karena itu, semua perilaku atau tindakan manusia ditentukan oleh persepsi dan pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuannya. Bisa juga sebagian besar tindakan individu ditentukan oleh bagaimana individu dalam membentuk dunianya. Berbagai pikiran yang dimiliki individu akan menentukan bagaimana perasaan dan reaksinya.

Persepsi dan pemahaman diperoleh manusia dari lingkungan. Dalam konteks merokok, remaja memperoleh informasi tentang rokok dari lingkungan teman sebaya, keluarga, iklan dan lain sebagainya. Persepsi dan pemahaman tentang merokok tersebut dijadikan acuan untuk merokok secara berkelanjutan. Dari berbagai sisi rokok memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan, sosial, ekonomi. Untuk itu dibutuhkan tritmen untuk bisa mengendalikan perilaku merokok pada remaja. 

Fiore (Bonollo, dkk, 2000) menambahkan bahwa The Agency for Health Care Policy and Research (AHCPR) merekomendasikan bahwa setiap perokok untuk mendapatkankan tritmen berhenti merokok. Penelitian yang dilakukan Bonollo, dkk (2000) memberikan kesimpulan dan rekomendasi untuk memberikan tritmen berhenti merokok yaitu : perokok harus termotivasi untuk melakukan tritmen secara intensif yang mempunyai pengaruh besar terhadap tritmen berhenti merokok.

Ada bermacam-macam bentuk relaksasi, antara lain relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera dan relaksasi melalui hipnose dan meditasi. Burn; Beech, dkk (Atamimi, dkk, 2003) menerangkan bahwa penelitian menunjukkan bahwa perilaku tertentu dapat lebih sering terjadi selama periode stres, misalnya naiknya jumlah rokok yang diisap, konsumsi alkohol, pemakaian obat-obatan dan makan yang berlebih-lebihan. Hal ini dapat dikurangi dengan melakukan relaksasi seperti pada penelitian Sutherland, Amit, Golden dan Rosenberger; walker dkk (Atamimi, dkk, 2003) telah membuktikan bahwa relaksasi dapat membantu mengurangi merokok. Atamimi, dkk (2003) menjelaskan dalam latihan relaksasi otot individu diminta untuk menegangkan otot dengan ketegangan tertentu dan kemudian diminta mengendorkannya. Sebelum dikendorkan, penting dirasakan ketegangan tersebut, sehingga individu dapat membedakan antara otot yang tegang dan yang lemas. 

Materi-materi yang diberikan dari pelatihan kognitif perilaku dalam penelitian ini yaitu : perilaku merokok terhadap kesehatan, berbagi pengalaman dengan individu yang sudah berhenti merokok, distorsi kognitif, relaksasi otot. Materi perilaku merokok terhadap kesehatan bertujuan untuk memberikan informasi kepada siswa tentang perspektif kesehatan tentang rokok sampai pada cara-cara berhenti merokok. Berbagi pengalaman dengan individu yang sudah berhenti merokok diharapkan siswa agar siswa mendapatkan pengalaman positif dari indivu yang sudah berhenti merokok dengan harapan lebih memotivasi siswa untuk mengendalikan perilaku merokok. Distorsi kognitif pada intinya siswa mampu memodofikasi fungsi pikir, rasa dan bertindak pada setiap kejadian yang dialami dalam hidup. Relaksasi otot diberikan pada siswa untuk memberikan sensai relaks dengan tujuan efek relaks ini bisa terus dilakukan sebagai pengganti efek relaks dari merokok, artinya siswa bisa relaks tanpa merokok.

Pemberian materi-materi tersebut diharapkan siswa mampu mengubah pemikiran dan pemahaman yang keliru tentang merokok, memotivasi siwa untuk mengendalikan perilaku merokonya, memodifikasi fungsi pikir, rasa dan bertindak, dan memberikan keterampilan baru sebagai pengganti merokok untuk mendapatkan sensasi rileks, sehingga siswa mampu hidup lebih sehat tanpa merokok dan terus berprestasi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: