Pelatihan Manajemen Konflik Memberi Konstribusi Pengambilan Keputusan Mahasiswa

Pengaruh Pelatihan Manajemen Konflik Terhadap Pengambilan Keputusan Pada Mahasiswa

Pengambilan keputusan senantiasa berkaitan dengan sebuah problem atau kesulitan. Melalui suatu keputusan dan penerapannya, orang mengharapkan bahwa akan dicapai suatu pemecahan atas problem atau penyelesaian konflik (Winardi, 1983). Setiap tindakan individu dihadapkan pada beberapa pilihan yang harus dipilih, dan individu tersebut dituntut untuk dapat mengambil keputusan diantara pilihan-pilihan tersebut. Dalam proses pencarian alternatif-alternatif penyelesaian sangat dimungkinkan terjadi pertentangan-pertentangan atau konflik-konflik antar nilai (Syafaruddin dan Anzizhan, 2004).

Pengambilan keputusan diperlukan untuk menyelesaikan suatu masalah. Seiring berjalannya waktu, banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi, dan individu dituntut untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Adaptasi tersebut memungkinkan timbulnya gesekan-gesekan antar nilai baik secara internal mapun eksternal individu. Untuk menghadapi perubahan dan kemajuan, diperlukan jiwa yang dinamis, agar berani menghadapi tantangan dan konflik-konflik demi mencapai suatu kemajuan. Maka mengelola konflik merupakan hal yang penting dalam pengambilan keputusan (Kartono, 1986).

Menurut Kartono (1986) seni mengelola konflik dapat dengan cara sebagai berikut:
a. Membuat standar-standar penilaian.
b. Menemukan masalah-masalah kontroversil dan konflik-konflik.
c. Menganalisa situasi dan mengadakan evaluasi terhadap konflik.
d. Memilih tindakan-tindakan yang tepat untuk melakukan koreksi terhadap penyimpangan dan kesalahan-kesalahan.

Pemahaman terhadap gejala ataupun keadaan yang menyebabkan terjadinya konflik dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh individu untuk menentukan keputusan mana yang akan diambil. Tugas individu dalam menghadapi konflik adalah mengarahkan berbagai macam konflik agar tetap berdampak positif bagi kemajuan diri (Wahyudi, 2006). Penggunaan setiap metode pengendalian konflik akan menimbulkan resiko dan dampak bagi yang bersangkutan. Menurut Hardjana (Wahyudi, 2006) menyatakan, pengelolaan yang ideal adalah tujuan dapat tercapai dan hubungan antar pihak-pihak atau bagian yang terlibat konflik tetap baik. 

Menurut Hendrik (Wahyudi, 2006) setiap pendekatan mempunyai kekhasan masing-masing, dan kemampuan untuk mengenali berbagai metode penyelesaian konflik dapat memberikan dasar yang penting untuk menangani setiap konflik yang muncul. Tidak ada teknik pengendalian konflik yang dapat digunakan dalam segala situasi, karena setiap pendekatan mempunyai kelebihan dan kekurangan (Wahyudi, 2006). Menurut Gibson, J. L. et al (Wahyudi, 2006) memilih resolusi konflik yang cocok tergantung pada faktor-faktor penyebabnya. Menurut Owens (Wahyudi, 2006) penerapan manajemen konflik secara tepat dapat meningkatkan kreativitas, dan produktivitas bagi pihak-pihak yang mengalami.

Manajemen konflik merupakan cara yang dilakukan seseorang dalam menstimulasi konflik, mengurangi konflik dan menyelesaikan konflik yang bertujuan untuk meningkatkan performansi kerja individu dan produktivitas organisasi. Kajian teori tentang manajemen konflik berguna bagi setiap orang dalam merespon setiap konflik yang muncul pada individu atau kelompok yang menjadi tanggung jawabnya. Konflik selalu muncul pada setiap individu dan kelompok dan tidak dapat dihindari, tugas individu adalah mengelola konflik agar tetap produktif. Pengelolaan konflik yang baik didahului dengan identifikasi sumber-sumber konflik dan jenis-jenis konflik, mengetahui proses terjadinya, kalisifikasi konflik berdasarkan keuntungan dan kerugian bagi yang bersangkutan, memilih pendekatan sesuai dengan masalah dan tujuan yang akan dicapai (Wahyudi, 2006). Jadi, dapat dikatakan jika individu mampu memilih gaya manajemen konflik yang sesuai dengan jenis masalah maka hal ini dapat mengarahkan individu menuju pengambilan keputusan yang baik.

Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat, diperlukan berbagai informasi dan data yang diperlukan. Dalam hal ini diperlukan juga kemampuan komunikasi yang baik sehingga informasi dan data yang diperlukan dapat diperoleh secara optimal (Syafaruddin dan Anzizhan, 2004).

Menurut Simon (Syafaruddin dan Anzizhan, 2004), secara natural, manusia memiliki bakat, kemudian kemampuan dan keahlian berkembang melalui penggunaan pikiran untuk memecahkan suatu masalah. Kuncinya adalah keluasan pengetahuan dan pengalaman dalam realitas kehidupan. Salah satu hal yang turut mempengaruhi pengambilan keputusan adalah tersedianya pengetahuan yang memadai atas suatu masalah yang sedang dihadapi.

Menurut Simon (Syafaruddin dan Anzizhan, 2004), salah satu alat untuk memperoleh pengetahuan adalah dengan adanya pelatihan (training). Hal ini semakin memperkuat pentingnya pengambilan keputusan atas suatu masalah melalui pelatihan manajemen konflik.
Dalam pelatihan ini, materi-materi yang diberikan diarahkan pada upaya untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola konflik atau masalah sehingga tercapai keputusan yang tepat. Ada lima materi yang diberikan dalam pelatihan ini yaitu: materi pengenalan konflik, menangani konflik secara konstruktif, mendengar aktif, komunikasi asertif, dan memupuk sikap juara.

Materi pengenalan konflik bertujuan untuk memperluas pengetahuan mahasiswa tentang maksud konflik dan hal-hal yang terkait dengan konflik sehingga mahasiswa dapat mengenali indikasi adanya konflik lebih dini dalam diri mereka. Materi menangani konflik secara konstruktif bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada mahasiswa bagaimana cara mengatasi konflik secara efektif dan metode-metode apa saja yang dapat digunakan sehingga menghasilkan keputusan yang sesuai dengan masalah yang ada. Materi mendengar aktif dan komunikasi asertif bertujuan untuk mengarahkan mahasiswa untuk memiliki kemampuan dalam mendengar secara aktif dan berkomunikasi secara asertif, sehingga dapat mengungkapkan pendapatnya tanpa menyinggung orang lain. 

Selain itu, materi ini bertujuan untuk memudahkan mahasiswa dalam penggalian  informasi dan data yang diperlukan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan (Syafaruddin dan Anzizhan, 2004). Materi memupuk sikap juara bertujuan untuk memberikan pengetahuan bagaimana cara memandang suatu kegagalan atau masalah sebagai suatu hal yang positif, sehingga mahasiswa tidak mudah putus asa apabila menghadapi masalah dan tertantang untuk menghadapi dan menyelesaikannya.

Melalui pemberian materi-materi tersebut, diharapkan mahasiswa dapat mengubah cara pandang mereka terhadap konflik, mengenali apa yang berpotensi menimbulkan konflik bagi mereka, bagaimana cara menghadapi masalah atau konflik, dan bagaimana cara berkomunikasi dan menghargai orang lain sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik tentang diri maupun lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: