Remaja Gagal Bunuh Diri Dan Orientasi Masa Depannya

Orientasi Masa Depan Pada Remaja Gagal Bunuh Diri

Menurut Calon (dalam Monks, 2002) masa remaja merupakan periode transisi atau peralihan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa. Remaja bila ditinjau dari segi usianya sangat potensial untuk bermasalah. Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi akibat dari perubahan fisik dan kelenjar, sehingga perilaku remaja mudah menyimpang. Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja merupakan ekspresi dari ketidaksanggupan mereka dalam menghadapi apa yang disebut dengan badai dan tekanan. Jansen (dalam Sarwono, 2002) menyatakan bahwa dalam menghadapi badai dan tekanan tersebut remaja dapat mengalami gangguan kejiwaan yang digolongkan kedalam dua golongan yaitu mental stress dan depresi. 

Remaja yang mengalami depresi memiliki ciri-ciri diantaranya : dari segi perasaan yaitu selalu merasa sedih, dari segi kognitif yaitu pesimis, berpandangan negatif pada diri sendiri, dunia dan masa depan, sehingga dapat memunculkan adanya ide untuk bunuh diri, dari segi tingkah laku yaitu cara berpakaian kurang teratur, ekspresi wajah yang murung, bicaranya sedikit dan perlahan serta gerak tubuhnya lamban, dan dari segi fisik yaitu tidak nafsu makan, insomnia, dan sakit di berbagai tubuh atau psikosomatis (Sarwono, 2002). 

Perkembangan sosial remaja dapat dilihat adanya dua macam gerak, yaitu memisahkan diri dari orangtua dan menuju kearah teman-teman sebaya. Dua macam gerak ini bukan merupakan dua hal yang berurutan meskipun yang satu dapat terkait dengan yang lain. Hal itu menyebabkan bahwa gerak yang pertama tanpa adanya gerak yang kedua dapat menyebabkan rasa kesepian. Menurut Ausubel (Monks, 2002) hal ini dalam situasi yang ekstrim dapat menyebabkan usaha-usaha untuk bunuh diri. 

Satu contoh tindakan percobaan bunuh diri dilakukan oleh seorang remaja, sebut saja namanya D. D merasa tidak sanggup menghadapi permasalahan dalam keluarganya, yaitu D merasa tertekan dengan sikap kakaknya yang seenaknya terhadap orangtua sehingga sering menimbulkan pertengkaran di antara mereka. D nekat meminum obat tidur tanpa memperhatikan dosis obat tersebut. Akibatnya D sempat tak sadarkan diri dan di bawa ke rumah sakit. 

Sebuah contoh kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Nazar Ali Julian (13) yang depresi dan mencoba bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perutnya, hal ini dikarenakan orangtuanya bercerai. Nazar ditolong dan dilarikan kerumah sakit. Remaja lain yang mencoba bunuh diri dan dapat diselamatkan adalah Mevi Susanti (15), siswi SMP, nekat menenggak racun serangga. Hal ini terjadi diduga karena ingin menonton tayangan AFI2, ia berebut saluran televisi dengan kakaknya. Untung dia bisa diselamatkan. (www.yahoo.com)

Kasus bunuh diri lain yang juga dilakukan oleh remaja yaitu Linda Utami (15), siswi kelas 2 SMP Negeri 12 Jakarta, tewas gantung diri di kamarnya setelah sebelumnya depresi berat karena tidak tahan diejek teman-temannya karena pernah tidak naik kelas. Ihfan Khairul Fazri, siswa kelas 2 SMP PGRI Setu, Bekasi, mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamarnya. Ia melakukan hal itu karena belum membayar SPP selama lima bulan. (www.google.com) 

Satu contoh kasus lagi yang terjadi di Semarang, Yati (16) ditemukan tewas gantung diri. Di duga karena merasa takut setelah menjatuhkan motor milik majikannya setelah pulang membeli soto. Saat memasukkan motor ke dalam rumah yang jalannya agak menanjak, tiba-tiba sepeda motor terjatuh, sehingga menyebabkan lampu bagian depan pecah, disamping body motor pesok. Yati yang dihantui rasa takut, lalu dengan bersusah payah mengangkat dan memasukkan motor ke dalam rumah.(Kedaulatan Rakyat, 15 Januari 2006)

Beberapa contoh kasus di atas menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan remaja melakukan tindakan bunuh diri. Salah satunya adalah karena adanya perasaan putus asa dalam menghadapi suatu permasalahan. Remaja kurang memiliki pengetahuan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang sedang di hadapi. 

Maraknya kasus bunuh diri yang dilakukan oleh remaja akhir-akhir ini sangat memprihatinkan, karena mereka adalah generasi penerus bangsa, harapan ada di tangan mereka. Tentu saja sangat menyedihkan mengingat usia mereka yang masih belia. Masih banyak harapan dan cita-cita yang dapat mereka raih, masih banyak hal lain yang dapat mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, keluarga dan juga negeri ini di masa yang akan datang. Mungkinkah mereka tidak memiliki pandangan dan harapan, serta orientasi tentang masa depan mereka sehingga mereka nekat melakukan tindakan bunuh diri.

Orientasi masa depan dapat mengurangi efek negatif dari depresi pada remaja, yaitu dapat mengurangi adanya perasaan putus asa, pikiran negatif, dll. Orientasi masa depan sangat bermanfaat sebagai perantara dari hubungan antara faktor resiko dan adanya ide bahkan tindakan bunuh diri pada remaja (Hirsch, 2005).  

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: