Hubungan Perilaku Prososial Dan Kebermaknaan Hidup Kaum Mahasiswa

Hubungan Antara Perilaku Prososial Dengan Kebermaknaan Hidup Pada Mahasiswa

Tak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa lepas dari manusia lainnya. Individu membutuhkan individu lain dalam hidupnya, dan kondisi ini dimulai sejak individu lahir ke dunia, di mana individu membutuhkan orang tuanya untuk dapat bertahan hidup. Melalui interaksinya dengan individu lain, semua kapasitas yang dimiliki individu dapat berkembang, karena dibutuhkan banyak keterampilan untuk dapat menjalin hubungan dengan individu lain. 

Pendapat Adler (2004) memperkuat pernyataan di atas, bahwa bila perilaku ini dilakukan terus menerus maka akan semakin meningkatkan kemampuan interpersonal individu, selain itu juga akan menyebabkan individu tersebut merasa dirinya sebagai bagian masyarakat, dan hal ini akan menyebabkan individu siap memberikan kontribusi bagi mereka (Adler, 2004).
Semakin sering individu melakukan perilaku prososial tentunya akan memberikan pengaruh terhadap kehidupannya, termasuk dapat diraihnya kebermaknaan hidup. Hal ini dikuatkan dengan pendapat Frankl (2004), bahwa kebermaknaan hidup individu dapat diraih melalui interaksinya dengan individu lain, hal ini dikarenakan dengan berinteraksi dengan individu lain, individu tidak terlalu fokus pada dirinya sendiri. Dalam kaitannya dengan teori kebermaknaan hidup, Frankl (Schultz, 1991) mengungkapkan bahwa dorongan utama dalam kehidupan bukanlah mencari jati diri melainkan mencari arti hidup, dan dalam beberapa hal menyangkut pula “melupakan” diri sendiri. Individu yang sehat secara psikologis telah bergerak keluar atau melampaui pemfokusan pada diri sendiri. Menjadi manusia seutuhnya berarti mengadakan hubungan dengan seseorang atau sesuatu di luar dirinya. 

Secara teoritis, perilaku prososial adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk memberikan kesejahteraan secara fisik maupun psikologis kepada individu lain, tanpa memberikan keuntungan langsung bahkan terkadang mengandung resiko bagi penolong. Berdasarkan pengertian tersebut, perilaku prososial tidak hanya berarti perilaku berinteraksi dengan individu lain saja, namun juga terkandung di dalamnya pengertian bertindak positif yaitu menerapkan hal-hal positif pada perilaku atau tindakan nyata sehari-hari yang bila dilakukan terus menerus dan menjadi kebiasaan, akan dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan pribadi dan kehidupan sosial individu. Selain itu, dampak yang didapat dari perilaku prososial yakni perasaan berharga karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain dapat menumbuhkan pemahaman individu atas dirinya sendiri, bahwa dirinya memiliki kelebihan dan potensi, dan setelah individu dapat memahami dirinya sendiri maka timbullah nilai-nilai pribadi sebagai akibat dari penghayatan individu atas perilaku prososial yang dilakukannya. Begitupula dengan faktor ibadah, di mana individu meyakini bahwa agama menganjurkan setiap individu dapat menolong individu lain yang membutuhkan, dan perilaku prososial ini diyakini pula sebagai salah satu bentuk ibadah yang dapat mendekatkan dirinya pada Tuhan. 

Adapun dampak positif dari perilaku prososial pada individu adalah dapat meningkatkan perasaan berharga atau bermanfaat di dalam diri individu, meningkatkan suasana hati yang baik serta memberikan kepuasan diri. Sebuah penelitian membuktikan bahwa perilaku prososial juga mampu mengarahkan individu untuk memiliki aktivitas atau kegiatan yang positif pula. Perilaku prososial ini menjadi pengontrol bagi individu untuk tidak melakukan hal-hal negatif yang tidak berguna dan bahkan merugikan dirinya sendiri (Myers, 2005).  
Menolong orang lain yang membutuhkan, dari segi psikologis, dapat meningkatkan harga diri individu. Selain itu menolong juga dapat menimbulkan efek senang bagi si penolong, bahkan menolong individu lain menjadi salah satu metode yang digunakan psikiater terhadap pasiennya yang mengalami depresi (Covey, 2001). Hal ini didukung pula oleh Sahakian (Bastaman, 1996) bahwa kebahagiaan tidak mungkin dapat diraih tanpa melakukan perbuatan-perbuatan penting dan bermanfaat. Kebahagiaan memang bukan merupakan komponen dalam kebermaknaan hidup namun kebahagiaan merupakan dampak atau efek dari telah terpenuhinya kebermaknaan hidup seseorang.

Secara garis besar, perilaku prososial memiliki hubungan dengan kebermaknaan hidup. Lima faktor yang dapat mempengaruhi individu untuk meraih kebermaknaan hidupnya, yaitu pemahaman diri, bertindak positif, hubungan yang akrab, penghayatan nilai dan ibadah, ternyata terangkum dalam perilaku prososial. Selain itu dampak yang didapat dari perilaku prososial yaitu hidup menjadi lebih bermakna, lebih berharga dan lebih bahagia akan membuat individu merasa hidupnya telah bermakna. 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: