Hubungan Persahabatan Dan Kepercayaan Diri Mahasiswa Baru

Hubungan Antara Persahabatan Dengan Kepercayaan Diri Pada Mahasiswa Baru

Orang tidak akan dapat melepaskan diri dalam hubungannya dengan individu lain, karena salah satu sifat manusia adalah sebagai makhluk sosial. Dalam berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, sudah selayaknya seseorang akan menghargai orang lain atau sebaliknya, sesuai dengan apa yang ada dalam diri orang lain itu. Namun demikian di samping menghargai orang lain, seseorang juga perlu menghargai dirinya sendiri (Adisubroto, dkk, 2000). Coopersmith (Adisubroto, dkk, 2000), menghargai diri sendiri merupakan hal yang penting dalam kehidupan seseorang. Walgito (Adisubroto, dkk, 2000) hal tersebut juga merupakan hal yang wajar, karena manusia di samping sebagai makhluk sosial juga merupakan makhluk individual. 


Branden dan Maslow (Adisubroto, dkk, 2000) kepercayaan diri adalah erat kaitannya dengan harga diri. Coopersmith (Adisubroto, dkk, 2000) harga diri erat kaitannya dengan konsep diri. Salah satu kelebihan manusia ialah bahwa manusia dapat melihat tentang keadaan dirinya sendiri. Secord dan Backman (Adisubroto, dkk, 2000) dengan adanya kemampuan penglihatan, perasaan, pemikiran manusia kepada dirinya sendiri, seseorang dapat menyadari siapa dirinya itu, inilah yang dimaksud dengan konsep diri. Buss (Adisubroto, dkk, 2000) juga dapat diartikan sebagai gambaran keadaan diri sendiri yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri. Arndt (Adisubroto, dkk,  2000) konsep diri merupakan konsep seseorang mengenai keseluruhan tentang dirinya sendiri baik mengenai segi kejasmanian maupun mengenai segi psikisnya. Samuel (Adisubroto, dkk, 2000) mengungkapkan bahwa baik harga diri maupun konsep diri tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi terbentuk karena adanya interaksi dengan lingkungannya, khususnya lingkungan sosialnya Upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri remaja didasarkan pada asumsi bahwa kepercayaan diri tidaklah datang begitu saja, tetapi hal tersebut perlu dipelajari atau perlu dibentuk. Kepercayaan diri bukan merupakan sesuatu yang sifatnya bawaan tetapi merupakan sesuatu yang terbentuk dari interaksi. 

Lauster (Purnamaningsih, dkk, 2003) rasa percaya diri bukan merupakan sifat yang diturunkan (bawaan) melainkan diperoleh dari pengalaman hidup, serta dapat diajarkan dan ditanamkan melalui pendidikan, sehingga upaya-upaya tertentu dapat dilakukan guna membentuk dan meningkatkan rasa percaya diri terbentuk dan berkembang melalui proses belajar di dalam interaksi seseorang dengan lingkungannya.

Waterman (Adiyanti dan Martiani, 1991) mengatakan bahwa untuk membentuk kepercayaan diri diperlukan situasi yang memberikan kesempatan untuk berkompetisi. Menurut Markus dan Wurf  (Adiyanti dan Martiani, 1991) seseorang belajar tentang dirinya sendiri melalui interaksi langsung dan komparasi sosial. Dari interaksi langsung dengan orang lain akan diperoleh informasi tentang diri dan dengan melakukan komparasi sosial seorang dapat menilai dirinya sendiri bila dibandingkan dengan orang lain. Dengan cara evaluasi diri ini maka seseorang akan dapat memahami diri sendiri dan akan tahu siapa dirinya yang kemudian akan berkembang menjadi kepercayaan diri.

Hakim (2002), salah satu langkah pertama dan utama dalam membangun rasa percaya diri adalah memahami dan meyakini bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Rasa percaya diri pada setiap orang merupakan salah satu kekuatan jiwa yang sangat menntukan berhasil atau tidaknya orang tersebut dalam mencapai berbagai tujuan hidupnya. 

Walgito (Afiatin dan Martaniah, 1998) untuk membantu individu yang kurang percaya diri dapat dilakukan dengan kebiasaan untuk menanamkan sifat percaya diri. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan suasana atau kondisi demokratis, yaitu individu dilatih berpikir mandiri dan diberi suasana yang aman sehingga individu tidak takut berbuat kesalahan. Dengan adanya suasana demokratis, individu akan dapat melakukan evaluasi diri dan belajar dari pengalaman ( Afiatin dan Martaniah, 1998). Coleman (Afiatin dan Martaniah, 1998) bahwa melalui evaluasi diri, remaja dapat memahami diri sendiri dan akan tahu siapa dirinya yang kemudian akan berkembang menjadi kepercayaan diri. 

Natawidjaya (Afiatin dan Martaniah, 1998) untuk meningkatkan kepercayan diri remaja-remaja membutuhkan pihak lain yang dipercayainya untuk mendorong keberaniannya dalam mengambil keputusan.
Kepercayaan diri berkembang melalui interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan psikologis dan sosiologis yang kondusif akan menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Lingkungan psikologis dan sosiologis yang kondusif adalah lingkungan dengan suasana demokratis, yaitu adanya suasana penuh penerimaan, kepercayaan, rasa aman dan kesempatan untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan. Lingkungan psikologis dan sosiologis yang tidak kondusif adalah lingkungan dengan suasana penuh tuntutan, tidak menghargai pendapat orang lain dan tidak ada kesempatan untuk mengekspresikan ide dan perasaan (Afiatin dan Martaniah, 1998). 

Heider (Purnamaningsih, dkk, 2003) mengatakan bahwa kemampuan seseorang termasuk kemampuan komunikasi, tidak hanya ditentukan oleh masalah fisik dan keterampilan saja, tetapi juga dipengaruhi oleh kepercayaan diri. 
Seseorang yang di dalam kehidupan sehari-harinya selalu menunjukkan penampilan yang penuh percaya diri bisa dikatakan memiliki kesehatan mental secara menyeluruh. Dalam arti, seseorang cukup bisa menguasai diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Kemampuan seseorang untuk menampilkan dirinya dengan penuh percaya diri merupakan cermin dari sejauh mana seseorang sudah memahami dirinya. Pemahaman diri secara objektif akan memungkinkan seseorang bisa melihat kelebihan-kelebihannya yang dapat membuatnya percaya diri untuk bisa berbuat segala sesuatu, sekalipun harus bersaing dengan orang lain. Rasa percaya diri yang kuat dan stabil bisa terbentuk melalui proses perkembangan. Oleh karena itu, kehidupan masa lalu, terutama pendidikan sejak masa kecil di rumah sangat mempengaruhi tingkat rasa percaya diri seseorang. Dengan demikian, jika seseorang memiliki rasa percaya diri yang kuat, dirinya telah melalui kehidupan masa kecil dengan pendidikan keluarga yang baik.

Rasa percaya diri seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan tempatnya berada. Dengan daya penyesuaian diri yang baik, seseorang akan mampu menempatkan diri pada posisi yang sesuai dengan kemampuannya. Di samping itu individu pun akan bisa berinteraksi sosial dengan orang-orang di lingkungan tempat dirinya berada dengan baik (bisa diterima sebagi salah satu anggota masyarakat yang dibutuhkan oleh orang lain). Jika seseorang mampu menempatkan diri, ia akan memiliki rasa percaya diri yang cukup karena tidak dihadapkan pada suatu hal di luar kapasitasnya. Setiap kali seseorang terlibat di dalam interaksi sosial (dalam pergaulannya sehari-hari), dirinya pun melakukan proses belajar untuk memahami diri, orang lain, dan lingkungannya. Dengan belajar, dirinya bisa menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungannya.

Seseorang yang telah berhasil menyesuaikan diri di dalam setiap interaksi sosial yang dilakukannya, biasanya akan berhasil meningkatkan rasa percaya diri, hal ini disebabkan di dalam proses penyesuaian diri, seseorang harus lebih dulu bisa memahami kelebihan dan kelemahannya secara menyeluruh. Selanjutnya, dirinya akan menempatkan diri pada posisi yang sesuai dengan orang lain di lingkungan tempatnya terlibat di dalam suatu interaksi sosial. Seseorang yang sudah berhasil menyesuaiakan diri berarti sudah bisa diterima oleh orang lain dan memiliki arti yang cukup baik di mata orang lain. Hal ini bisa menjadi salah satu jalan bagi setiap orang untuk bisa membangun rasa percaya diri. Kepercayan diri sangat diperlukan dalam proses sosialisasi dan merupakan perkembangan dari self identity (identitas diri). Oleh karenanya kepercayaan diri sangat mnunjang remaja untuk menjawab siapa dirinya (Adiyanti dan Martaniah, 1991).

Dengan persahabatan, seorang remaja akan memperoleh teman untuk bergaul, sehingga akan dapat menembangkan keterampilan sosial, konsep diri, harga diri, dan akan memperoleh dukungan emosional bila menghadapi suatu masalah. Bagwell, Newcomb & Bukowski (Santrock, 2003) berdasarkan penelitian, persahabatan pada masa awal remaja merupakan salah satu alat yang signifikan untuk memprediksi harga diri pada masa dewasa awal.

Persahabatan mengalami perkembangan dari masa anak ke masa remaja dan dewasa. Clarke dan Koch (1983) pada masa remaja persahabatan mulai bersifat lebih mendalam dan dapat meningkatkan kepercayaan diri. Buhrmester & Furman, Papini, dkk (Santrock, 2003) remaja lebih dapat mengungkapkan informasi yang bersifat mendalam dan pribadi kepada teman-teman mereka daripada para anak yang lebih kecil. Furman & Buhrmester (Santrock, 2003), remaja juga menyatakan mereka lebih mengandalkan teman daripada orang tua dalam memenuhi kebutuhan untuk kebersamaan, untuk meyakinkan harga diri, dan keakraban.

Meningkatnya kedekatan dan pentingnya persahabatan memberi tantangan kepada remaja untuk menguasai kemampuan sosial yang lebih baik. Persahabatan pada remaja memberikan cara yang baru untuk berhubungan dengan orang lain yang digambarkan sebagai Pola Keakraban yang Simetris. Buhrmester, Paul & White (Santrock, 2003) semakin besarnya tingkat keakraban pada persahabatan antar remaja menyebabkan remaja dituntut untuk mempelajari sejumlah kemampuan untuk hubungan dekat termasuk mengetahui bagaimana cara untuk membuka diri sendiri dengan tepat, mampu menyediakan dukungan emosi kepada teman, dan menangani ketidaksetujuan agar tidak merusak keakraban dari persahabatan. Buhrmester dkk dan Selman (Santrock, 2003) mengatakan bahwa kemampuan-kemampuan ini membutuhkan kemampuan yang lebih baik dalam pengambilan sudut pandang, empati, dan pemecahan masalah sosial bila dibandingkan dengan kemampuan yang dibutuhkan pada masa kanak-kanak.

Persahabatan merupakan jalinan dua atau lebih pribadi dalam hubungan akrab yang berkelanjutan. Kemampuan untuk membentuk dan membina persahabatan merupakan inti dari eksistensi sosial manusia. Manusia di mana pun berada berusaha mencari teman yang dapat diajak berbagi pikiran, perasaan dan arti dalam hidup mereka. 

Memiliki teman dekat atau sahabat merupakan suatu prestasi sosial yang penting. Seorang sahabat dapat memberikan dukungan emosional. Dalam persahabatan seseorang dapat belajar jujur dalam memandang diri sendiri dan adanya pertukaran informasi di mana di dalamnya terkandung umpan balik bagi individu yang lain. Pengembangan rasa percaya diri dimulai ketika remaja menjalin hubungan yang lebih luas yaitu dengan teman sebaya, pada saat itu remaja mampu membedakan diri dan memberikan penilaian terhadap orang lain dan mendorong timbulnya citra diri. Sullivan (Rakhmat, 2004) menjelaskan bahwa jika individu diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan dirinya, maka individu cenderung bersikap menghormati dan menerima dirinya.

Adanya kesempatan untuk memberikan bantuan kepada orang lain akan menyebabkan individu merasa berarti dan berguna bagi orang lain sehingga menumbuhkan konsep diri yang positif serta harga diri yang tinggi. Selanjutnya hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri remaja (Afiatin dan Martaniah, 1998).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: