Hubungan Persepsi Terhadap Dampak Perubahan Otonomi Daerah Dengan Prokrastinasi Kerja

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Dampak Perubahan Di Era Otonomi Daerah Dengan Prokrastinasi Kerja




Pandangan pegawai terhadap otonomi yang menimbulkan kesalahan persepsi atau kesalahan penafsiran tentang hakikat otonomi. Dapat memicu perilaku prokrastinasi pada diri mereka. Hal ini dikarenakan pemikiran bahwa otonomi daerah hanya semata – mata penyerahan kekuasaan dari pusat ke pemerintah daerah. Dan tidak dilihat secara lebih mendalam bahwa adanya otonomi tersebut, memungkinkan pemekaran untuk peningkatan pendapatan daerah.
Mereka yang mengalami disfungsional persepsi, beranggapan bahwa otonomi daerah hanya merupakan pelimpahan tugas dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Dan tidak lebih dari itu. Mereka beranggapan bahwa seharusnya tugas – tugas tersebut merupakan tanggungjawab pemerintah pusat, dan sekarang harus melibatkan mereka untuk menyelesaikannya. Anggapan bahwa otonomi daerah hanya merupakan pelimpahan tugas pemerintah pusat ke daerah, membuat tingkat stress kerja karyawan menjadi bertambah. Dan hal itu dapat memicu perilaku prokrastinasi pada pegawai – pegawainya. Antara lain adanya kecenderungan menunda – nunda pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya, mengerjakan tugas tersebut pada waktu – waktu terakhir, mengerjakan pekerjaan lain yang dianggap lebih menyenangkan, dll. Sebagai contoh, adanya program pembuatan Akte Tanah, dapat meningkatkan pemasukan daerah apabila hal tersebut dikelola dengan baik. Namun yang terjadi tidak demikian. Mereka cenderung mengerjakan proyek tersebut dengan sikap malas – malasan. Hal ini mengakibatkan pekerjaan tidak berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya.
Penelitian yang dilakukan di New York oleh Sapadin (1997) menyebutkan bahwa seseorang yang cenderung memiliki perilaku prokrastinasi cenderung mengetahui bahwa dirinya memiliki perilaku yang tidak baik tersebut. Dengan kata lain mereka mempunyai kesadaran diri yang tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Ervinawati (2001) tentang self esteem dengan prokrastinasi akademik menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara variabel harga diri dan variabel prokastinasi akademik.
Penelitian yang dilakukan oleh Rizvi, prawitasari, dan Prajitno menyebutkan bahwa pusat kendali dan efikasi diri memberikan sumbangan yang efektif terhadap perilaku prokrastinasi. Hasil ini menunjukkan bahwa prokrastinasi mempunyai hubungan yang optimal apabila prediksi dilakukan oleh kedua variabel secara bersama – sama. Penelitian lain yang dilakukan oleh Janssen & Carton (1999) menyebutkan bahwa locus of control dapat mempengaruhi perilaku prokrastinasi seseorang. Mereka yang memiliki locus of control internal cenderung memiliki perilaku prokrastinasi lebih besar daripada mereka yang memiliki locus of control eksternal.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa prokrastinasi adalah perilaku menunda – nunda yang dilakukan secara berulang – ulang dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk diubah. Untuk itu, Peneliti menggunakan sampel penelitian untuk pegawai yang mempunyai masa kerja kerja lebih dari 5 tahun dan kurang dari 25 tahun. Pegawai yang menghadapi masa pensiun cenderung jenuh dan bosan pada aktivitas yang sudah sekian lama ia lakukan, sehingga hal ini membuat mereka cenderung menunda – nunda pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya, pegawai yang masa kerjanya relatif masih baru, diasumsikan kebiasaan pola kerja mereka belum jelas, dengan penjelasan di atas, peneliti merasa perlu memasukan variabel masa kerja sebagai variabel kendali.   

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: