Persepsi Penerimaan Orangtua Dan Identitas Diri Terhadap Agresivitas Remaja

Hubungan Antara Persepsi Penerimaan Orangtua Dan Identitas Diri Dengan Agresivitas Pada Remaja

Gibson, Ivancevich, dan Donnelly (Lestari, 1995)) mengemukakan bahwa persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Kesan yang diterima sangat tergantung pada pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui proses berfikir dan belajar serta faktor-faktor yang ada dalam diri individu. Sikap terbentuk melalui persepsi dan persepsi berpengaruh terhadap sikap seseorang. Hasil persepsi sosial dipengaruhi oleh stimulus yang di persepsi lingkungan khususnya lingkungan sosial, dan keadaan perseptor. Penerimaan orangtua terhadap remaja dan sikap remaja terhadap orangtuanya terbentuk melalui persepsi dan berlangsung secara interaksional. Sikap dan perilaku remaja akan mempengaruhi sikap orangtua terhadap remaja dan sebaliknya sikap dan perilaku orangtua akan berpengaruh terhadap terbentuknya sikap remaja terhadap orangtuanya.

Menurut Hurlock (1996) sikap orangtua mempengaruhi cara mereka memperlakukan anak, dan perlakuan mereka terhadap anak akan mempengaruhi sikap anak terhadap mereka dan perilaku mereka. Sikap orangtua tidak hanya mempunyai pengaruh kuat dalam keluarga tetapi juga pada sikap dan perilaku anak. Orangtua yang menerima anaknya biasanya akan memberikan perhatian dan kasih sayang yang besar pada anak, memperhatikan perkembangan kemampuan dan minat anak dan anak yang diterima umumnya dapat bersosialisasi dengan baik, kooperatif, ramah, loyal, secara emosional stabil dan gembira. 

Orangtua yang menerima anaknya cenderung mempunyai  sikap yang dapat memberikan kebebasan dan keamanan psikologis serta mendorong rasa percaya diri pada anak, sehingga anak tidak akan merasa ragu-ragu untuk menyatakan pendapatnya, rasa ingin tahunya, menghargai kemampuan dirinya dan berani mengambil resiko. Remaja yang merasa dirinya diterima oleh orangtuanya, maka akan merasa aman dan nyaman sehingga cenderung berperilaku positif. Sebaliknya remaja yang mempunyai persepsi negatif terhadap sikap orangtuanya, maka akan merasa tidak diperhatikan, tidak disukai dan tidak dihargai, sehingga remaja akan mencari perhatian dalam bentuk perilaku agresif. 

Erikson (Junir, 1985) mengatakan bahwa proses identitas diri terjadi pada suatu tahap perkembangan yaitu tahap sense of identity yang merupakan tahap perpindahan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa yang disebut masa remaja, dimana individu sudah mulai berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya, yaitu situasi dimana ia dituntut oleh lingkungan untuk dapat bertingkah laku dan bersikap dewasa. Masalah yang dihadapi adalah masalah kesiapan untuk menghadapi tuntutan-tuntutan dari lingkungan untuk dapat bertingkah laku dan bersikap secara dewasa.

Menurut Erikson (Atkinson, 1994) bahwa tugas perkembangan utama remaja adalah membentuk suatu identitas, untuk mencari jawaban atas pertanyaan “siapa saya?” dan “kemana saya akan menuju?” Erikson menggunakan istilah krisis identitas untuk menyebut proses penentuan diri yang aktif. Kata krisis, menurut Erikson mungkin kurang menguntungkan karena ia percaya bahwa masa remaja harus menjadi periode “eksperimentasi peran” dimana remaja dapat mengeksplorasi perilaku, minat dan ideologi alternatif. Banyak keyakinan, peran, dan cara perilaku mungkin “dicoba,” dimodifikasi, atau dibuang sebagai upaya membentuk konsep diri yang terintegrasi. Idealnya, krisis identitas harus dipecahkan pada awal atau pertengahan usia dua puluhan sehingga individu dapat terus maju menghadapi tugas kehidupan selanjutnya. 

Selanjutnya jika proses ini berhasil, individu dikatakan mencapai suatu identitas, seperti memiliki komitmen terhadap identitas seksual, arah pekerjaan, dan pandangan ideologis. Sampai krisis identitas terpecahkan, individu tidak memiliki sense of self atau standar internal yang konsisten untuk menilai kegunaan dirinya di bidang-bidang kehidupan yang utama dan Erikson menamakan ketidakberhasilan ini sebagai kebingungan identitas (identity confussion).

Remaja yang identitas dirinya belum terbentuk atau identitas dirinya rendah, akan mengalami kebingungan terhadap dirinya sendiri, ia belum mengetahui arah dan tujuan hidupnya dan  belum bisa bertanggung jawab terhadap harapan-harapannya. Remaja masih cenderung mengikuti teman sebayanya (peer group), Selain itu karena masa remaja merupakan suatu periode storm and stress, yaitu suatu periode yang penuh dengan tekanan dan goncangan, maka mau tidak mau mereka harus melaluinya sebagai proses perkembangannya dari masa kanak-kanak ke masa dewasa menuju kematangan (Junir, 1985). Kepribadian yang belum matang inilah menyebabkan mereka berperilaku negatif atau agresif. Remaja yang identitas dirinya sudah terbentuk akan dapat menyesuaikan dirinya dalam masyarakat, sehingga akan terbentuk suatu kepribadian yang matang. 

Remaja yang identitas dirinya sudah terbentuk akan dapat menyesuaikan dirinya dalam masyarakat dengan perilaku yang positif, tetapi walaupun identitas diri remaja sudah terbentuk apabila remaja merasa tidak diterima atau merasa dirinya ditolak oleh orangtuanya maka remaja akan mencari perhatian melalui perilaku yang negatif.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: