Persepsi Terhadap Perlakuan Orangtua Dengan Self Esteem

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Perlakuan Orangtua Dengan Self Esteem

Orangtua dituntut agar bisa membimbing dan mengarahkan anak dengan baik karena anak mulai mengadakan hubungan langsung dengan lingkungan pertama-tama adalah lingkungan keluarga terutama orangtua. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama-tama bagi anak (Walgito, 1984). Dalam lingkungan keluargalah anak mulai mengadakan persepsi baik mengenai hal-hal di luar dirinya maupun mengenai dirinya sendiri. Dalam keluargalah anak mulai terbentuk self esteemnya. Dari lingkungan keluarga juga anak menyadari self dan non-selfnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lingkungan keluarga, terutama orangtua mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka pembentukan self esteem anak. (Buss,1978; Coopersmith, 1967).
       Dalam kaitannya dengan self esteem, Coopersmith (1967) mengungkapkan bahwa sikap demokratik yang diterapkan orangtua merupakan sikap yang sangat menguntungkan baik dalam segi keberartian, power, ketaatan maupun dalam segi performance. Sebaliknya sikap otoriter dan sikap serba boleh, keduanya merupakan sikap-sikap yang kurang menguntungkan bila dibandingkan dengan sikap demokratik. Sikap otoriter akan memperlemah keberartian, power dan performance. Demikian pula sikap serba boleh akan dapat memperlemah dalam segala segi, baik pada segi keberartian, power, ketaatan serta performance-nya.
      Coopersmith (1968) dalam penelitiannya mengenai hubungan antara sikap orangtua dengan self esteem anak memberikan hasil bahwa anak yang mempunyai self esteem positif terdapat pada anak-anak yang orangtuanya mempunyai sikap yang demokratik terhadap anak. Anak yang self esteemnya positif mempunyai sifat-sifat aktif, ekspresif, suka memberikan pendapat, tidak menolak bila dikritik, mempunyai minat yang tinggi terhadap kejadian-kejadian dalam masyarakat, percaya kepada diri sendiri,mempunyai sikap optimis dalam menghadapi masalah. Sebaliknya anak yang self esteemnya negatif mempunyai sifat-sifat rendah diri, tidak percaya pada diri sendiri, tidak senang bila dikritik, merasa terisolasi, pasif, depresif, pesimistis dalam menghadapi masalah, suka menggantungkan kepada orang lain.
      Dalam penelitian mengenai relasi orangtua-anak dengan self esteem, suatu alat ukur self esteem diberikan kepada anak laki-laki sekolah dasar, dan anak laki-laki itu beserta ibunya diwawancarai tentang relasi keluarga mereka (Coopersmith, 1967 dalam Santrock, 2002). Berdasarkan penilaian (assesments) ini, perilaku-perilaku orangtua berikut diasosiasikan dengan self esteem positif yang dimiliki anak-anak, yaitu:
1.       Ekspresi afeksi
2.       Kepedulian terhadap masalah-masalah anak
3.       Harmoni di dalam rumah (keluarga)
4.       Partisipasi dalam kegiatan-kegiatan bersama keluarga
5.       Kesiapan memberi bantuan yang kompeten dan terorganisasi kepada anak-anak ketika mereka membutuhkannya
6.       Penetapan aturan yang jelas dan adil
7.       Ketaatan terhadap aturan ini
8.       Pemberian kebebasan kepada anak-anak dalam batas-batas yang ditentukan   dengan jelas.
      Demikian pula hasil penelitian Baumrind (1967a dalam Walgito, 1990) menunjukkan hasil bahwa orangtua yang bersikap otoritatif memberikan pengaruh baik dalam pembentukan self esteem anak, bila dibandingkan dengan sikap orangtua yang otoriter dan permisif.
      Para ahli perkembangan sepakat bahwa kualitas hubungan antara orang tua dengan anak akan berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya. Masalah dalam keluarga (misalnya hubungan perkawinan orang tua), perlakuan orangtua dan perilaku anak mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung satu sama lain (Belsky dalam Santrock, 1999). Self esteem termasuk dalam perilaku anak yang disebutkan di atas.
      Menurut Johnson dan Medinus (1974) dalam melihat hubungan anak dengan orangtua umumnya dapat dilihat dari dua arah yang terpisah satu dengan yang lain, yaitu dari segi penerimaan-penolakan (acceptance-rejection) dan otonomi-kontrol (autonomycontrol). Pendapat ini senada dengan yang dikemukakan oleh Hetherington dan Parke (1977) yaitu warmth hostility dan restrictiveness-permissiveness.
Penerimaan-penolakan (acceptance-rejection) berkaitan dengan kehangatan dan penolakan orangtua terhadap anak, ini merupakan aspek hubungan emosional. Penerimaan orangtua terhadap anak ini berarti adanya kehangatan emosi antara orangtua dengan anak. Pada aspek penerimaan ditandai oleh orangtua yang merawat anak dengan perhatian dan kasih sayang terhadap anak. Orangtua sangat memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak, dengan sikap orangtua yang demikian membuat self esteem anak meningkat karena anak merasa kehadirannya dibutuhkan, diterima dan anak juga merasa dirinya dihargai. Anak yang diterima pada umumnya memiliki ciri-ciri dapat bersosialisasi dengan baik, kooperatif, ramah, loyal, mempunyai kestabilan emosi dan ceria. Sebaliknya pada aspek penolakan, antara orangtua dengan anak ada sikap bermusuhan, orangtua terlalu banyak menuntut dan orangtua kurang memperhatikan kesejahteraan anak. Pada aspek ini orangtua sendirilah yang menanamkan sikap permusuhan sehingga menimbulkan munculnya sikap permusuhan pada anak terutama terhadap orang yang lebih lemah dan kecil. Selain sikap permusuhan, aspek ini juga menumbuhkan dendam, perasaan tidak berdaya, frustasi, perilaku gugup dan menurunnya self esteem anak karena anak merasa dirinya ditolak kehadirannya dan merasa bahwa dalam dirinya tidak ada yang berharga.
      Aspek otonomi-kontrol atau restrictiveness-permissiveness mencerminkan hubungan orangtua dengan anak dalam kaitannya dengan pemberian atau penanaman disiplin pada anak. Dalam suasana otonomi atau permisif orangtua memberikab kebebasan pada anak, orangtua tidak atau kurang memberikan kontrol kepada anak. Jika perlakuan permisif tidak berlebihan dapat meningkatkan self esteem anak, karena dengan kebebasan yang diberikan orangtua anak merasa dirinya mempunyai kemampuan untuk mengurus diri sendiri. Dengan demikiam anak merasa dirinya berharga di depan orangtuanya. Perlakuan permisif yang tidak berlebihan ini mengakibatkan anak menjadi cerdik, mandiri, memiliki penyesuaian sosial yang baik, menumbuhkan kepercayaan diri, kreatif dan mempunyai sikap matang. Namun jika perlakuan permisif ini berlebihan maka akan menimbulkan akibat yang buruk pada anak yaitu anak menjadi kurang mempunyai kepercayaan diri, agresif dan menuruti keinginannya sendiri sehingga kurang bisa mengendalikan diri. Sebaliknya pada kontrol/ restrictiveness orangtua sangat ketat memberikan kontrol kepada anak-anaknya, orangtua memberikan pengarahan tertentu dan anak tinggal menurut apa yang telah ditetapkan oleh orangtua, maka anak oleh orangtua dianggap sebagai anak yang membandel, anak yang nakal dan istilah-istilah lain yang menggambarkan bahwa anak tidak tunduk kepada apa yang telah ditetapkan orangtua. 
Bila hal tersebut terjadi, maka jelas sikap orangtua akan tidak begitu kepada anak yang bersangkutan. Sebaliknya bila anak menuruti apa yang telah ditetapkan oleh orangtua kepadanya maka anak dimata orangtua dipandang sebagai anak yang baik, anak yang penurut. Namun, kontrol/ restrictiveness dapat menurunkan self esteem anak karena dengan sikap orangtua yang selalu mengontrol anak dengan ketat tersebut mengakibatkan anak menjadi kurang percaya diri dengan kemampuannya, sehingga apapun perilakunya harus di bawah kontrol orangtuanya. Anak juga merasa dirinya tidak berharga karena setiap perilaku yang tidak sesuai dengan orangtua selalu salah. 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: