Pola Asuh Otoritatif Orangtua Pengaruhi Kemandirian Anak Dalam Memilih Program Studi

Kemandirian Dalam Memilih Program Studi Ditinjau Dari Pola Asuh Otoritatif Orang Tua (Authoritative Parenting Style)

Keluarga merupakan lingkungan kehidupan yang dikenal anak untuk pertama kalinya, dan untuk seterusnya anak banyak belajar di dalam kehidupan keluarga. Karena itu peranan orang tua dianggap paling besar pengaruhnya terhadap terbentuknya kepribadian pada diri anak. Sikap orang tua terutama tercermin pada pola asuhannya, di mana mempunyai sumbangan yang cukup besar dalam perkembangan kepribadian anak. Salah satu perkembangan kepribadian yang penting adalah tuntutan otonomi atau kebebasan atau lebih dikenal dengan kemandirian.
            Kemandirian pada anak berawal dari keluarga yang sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah krusial. Keluarga merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri.
            Kartawijaya dan Kuswanto (1996) mengatakan bahwa kemandirian anak harus dibina sejak anak masih bayi. Jika kemandirian anak diusahakan setelah anak besar, kemandirian itu akan menjadi tidak utuh. Mendidik anak mandiri bukanlah dengan cara meninggalkan anak itu sendiri atau bersama dengan pengasuh lain. Kunci kemandirian anak sebenarnya ada di tangan orang tua. Disiplin yang konsisten dan kehadiran orang tua untuk mendukung dan mendampingi kegiatan anak akan menolong anak untuk mengerjakan segala sesuatu sendiri pada masa yang akan datang. Prinsip-prinsip disiplin yang terus menerus ditanamkan pada anak akan menjadi bagian dalam dirinya. Dengan demikian kemandirian yang dimiliki adalah kemandirian yang utuh.
            Seseorang dengan kemandirian yang utuh akan membuatnya menjadi lebih percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki, tidak ragu dalam mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambilnya. Akan tetapi dalam mengambil suatu keputusan, selalu ada pengaruh dari pihak lain, yang salah satunya adalah orang tua. Tidak jarang terjadi, bahwa keinginan orang tua terhadap jurusan, fakultas bahkan universitas, juga pilihan profesi bagi masa depan, berbeda dengan keinginan, minat dan pilihan anak itu sendiri.
Seperti dikemukakan Thomas Armstrong (Amin, 2003) : “Apabila Anda ingin menjadi seniman, tetapi orang tua Anda menginginkan Anda menjadi ahli hukum, maka pengaruh mereka akan mendorong perkembangan kecerdasan linguistik (bahasa), tetapi mungkin akan menghambat kecerdasan spasial (gambar) Anda.”
            Banyak faktor yang menjadi penyebab orang tua cenderung memaksakan kehendak untuk memilih jurusan, fakultas, atau universitas, antara lain adalah prestise, gengsi, atau pertimbangan-pertimbangan material. Misalnya, seorang anak harus masuk Fakultas Kedokteran dan kelak harus menjadi seorang dokter, karena secara material masa depan seorang dokter sangat menjanjikan, dan berprofesi sebagai dokter akan menaikkan status sosial seseorang. Biasanya orang tua ikut merasa terhormat dan bangga karena status sosial anak. Tentu hal tersebut tidak menjadi masalah jika keinginan orang tua sejalan dengan kemampuan, bakat, dan minat anak. Sebaliknya jika keinginan apalagi keharusan orang tua bertentangan dngan bakat, minat, dan kemampuan anak maka akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak (Amin, 2003).
            Dalam contoh yang disebutkan, remaja mengalami dilema yang sangat  besar antara mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia mengikuti kehendak orangtua maka dari segi ekonomi (biaya sekolah) remaja akan terjamin karena orangtua pasti akan membantu sepenuhnya, sebaliknya jika ia tidak mengikuti kemauan orangtua bisa jadi orangtuanya tidak mau membiayai sekolahnya. Situasi yang demikian ini sering dikenal sebagai keadaan yang ambivalensi dan dalam hal ini akan menimbulkan konflik pada diri sendiri remaja. Oleh karena itu, pemahaman orangtua terhadap kebutuhan psikologis remaja untuk mandiri sangat diperlukan dalam upaya mendapatkan titik tengah penyelesaian konflik-konflik yang dihadapi remaja dalam kelompoknya.
            Dalam penelitian yang dilakukan oleh BKKBN pada tahun 2001 mengenai remaja dan permasalahannya disimpulkan bahwa pola asuh yang tampaknya dapat memberi keseimbangan adalah yang bersifat otoritatif, yaitu memberi kehangatan dan penerimaan, asertif dengan tetap berpegang pada aturan, norma dan nilai-nilai luhur; bersedia mendengar, menjelaskan dan bernegosiasi, serta menghargai otonomi psikologis, dan mendukung anak berpendapat. Orang tua yang otoritatif mengendalikan perilaku anak, tetapi tidak “sense of self”nya. Kehangatan akan menumbuhkan rasa percaya diri, mandiri dan keterampilan sosial. Kendali perilaku membantu remaja mengendalikan dorongan-dorongannya; dan menghargai otonomi psikologis membantu perkembangan tanggung jawab dan kompetensi atau kecakapan.
            Hartini (1999) juga menambahkan peran orang tua bagi anak remajanya sangat besar, terutama adalah dalam membantu remaja menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya dengan baik yaitu dengan mengembangkan komunikasi dua arah yang baik, tidak menggurui tetapi lebih sebagai negosiator, memberikan teladan yang baik, menciptakan lingkungan yang sesuai bagi pengembangan potensi, kemampuan, kemauan, dan cita-cita remaja, serta menjadikan remaja sebagai individu yang mandiri dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya, sehingga akan terbentuk kepribadian yang mantap pada diri remaja.
            Hartanti, dkk (1992) menambahkan lagi bahwa orang tua yang otoritatif akan menghasilkan anak-anak yang penuh rasa tanggung jawab dan penuh percaya diri. Setelah dilakukan penyelidikan Enggawati (Hartanti, 1992) menemukan  bahwa pengendalian yang tegas dari orang tua yang diiringi dengan kehangatan, pada umumnya akan menghasilkan anak-anak yang matang secara sosial dengan rasa tanggung jawab, kepercayaan diri, dan kemandirian yang tinggi.
            Jadi, dari uraian diatas kemandirian anak dalam memiliki program studi mendapat pengaruh yang besar dari orang tua. Pola asuh otoritatif lebih memungkinkan seorang remaja memiliki kemandirian dalam memilih program studi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: