Self Efficacy Akademik Berhubungan Dengan Pengambilan Keputusan Pemilihan Jurusan Siswa SMU

Hubungan Antara Self Efficacy Akademik Siswa Dengan Pengambilan Keputusan Untuk Memilih Jurusan Pada Siswa Smu


Di dalam menjalani hidup setiap individu harus dapat bersaing dengan individu yang lain, meskipun mereka mahluk sosial yang tidak mungkin lepas dari bantuan orang lain tetapi mereka tetap sebagai individu yang akan merasa tidak puas jika belum mencapai apa yang diinginkannya dan kadang jika harus menjatuhkan lawannya, mereka pun akan melakukannya. Di dalam hidup ini dibutuhkan keberanian untuk menentukan jalan hidup tanpa harus berpikir bahwa nantinya proses yang dilalui akan terasa sulit. Jika itu tanpa dibarengi dengan kepercayaan diri, maka nantinya mereka tidak akan berani untuk memutuskan meneruskan hidup. Setiap individu memiliki kepercayaan diri yang berbeda-beda tergantung dari pengalaman yang mereka alami sebelumnya. Mereka yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan terlihat dari sikap mereka yang tegas dalam menentukan segala sesuatu, sebaliknya mereka yang kepercayaan dirinya rendah akan terlihat lebih suka menutup diri dan menolak adanya perubahan.
            Kepercayaan diri berarti pula menyakini pada apa yang mereka miliki di dalam dirinya, salah satunya kenyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan yang patut diperlihatkan pada orang lain dari diri mereka. Dalam hal ini kenyakinan yang berhubungan dengan kemampuan dalam melaksanakan tugas atau tindakan untuk mencapai suatu hasil tertentu atau yang disebut dengan self efficacy (Bandura, 1986). Dijelaskan bahwa individu yang memiliki self efficacy tinggi, maka ia akan mengalami keberhasilan dalam melakukan suatu tindakan karena kembali lagi pada kenyakinan pada dirinya bahwa ia mampu melakukan hal tersebut. Berbeda dengan mereka yang tidak memiliki self efficacy yang tinggi, diartikan mereka sama saja berhadapan dengan kegagalan karena yang ada dalam pikiran mereka hanyalah tentang perasaan gagal (Kreitner dan Kinicki, 2003). Dengan begitu self efficacy memegang peranan penting dalam mendukung kepercayaan diri seseorang seperti diungkapkan oleh Myers (1999).
            Berikutnya ketika individu dihadapkan pada kenyataan untuk menentukan suatu pilihan, di sini akan terjadi apa yang dimaksud dengan pengambilan keputusan. Manusia diciptakan untuk menghadapi hidup yang di dalamnya terdapat berbagai macam pilihan yang telah menanti. Setiap individu diharuskan untuk menentukan apa yang menjadi keputusannya, karena dari suatu keputusan akan menjadi penentu bagi penentuan keputusan berikutnya. Sama seperti yang diutarakan oleh Syamsi (2000) yang mengatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu di antara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Seperti penelitian yang dilakukan oleh Pennington dan Hastie (1986) yang meneliti peraturan tentang penyampaian bukti dalam proses keputusan juri-juri pengadilan. Sebagai hipotesis, bahwa bukti pemeriksaan pengadilan digambarkan dalam bentuk cerita. Lebih jauh lagi, perbedaan antara juri-juri dalam gambaran kognitif dari bukti berkorelasi dengan keputusan mereka, meskipun aspek yang lain dari proses keputusan (gambaran kategori bukti, aplikasi dari standar instruksi prosedur bukti) tidak. Kemudian disimpulkan bahwa teori-teori memadai dari pengambilan keputusan harus menekankan pada aspek kognitif dari hasil, seperti gambaran dari bukti.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Keinan (1987) untuk membuktikan pendapat bahwa orang yang mengalami stres tidak mampu untuk mengambil keputusan adalah salah. Dari penelitiannya diketahui bahwa antara orang yang mengalami stres dengan orang yang tidak mengalami stres ketika dihadapkan pada situasi untuk mengambil keputusan, pada mereka yang terbuka untuk stres, baik yang terkontrol maupun yang tidak terkontrol menunjukkan signifikan yang kuat, cenderung untuk mengajukan solusi sebelum mempertimbangkan semua alternatif yang ada dan mengamati alternatif dengan model nonsistematik, daripada yang dilakukan oleh partisipan yang tidak terbuka untuk stres. Sebagai tambahan, pola dari pengamatan alternatif yang ditemukan berkorelasi dengan kebenaran dari solusi untuk memutuskan masalah. Dari penelitian di atas diketahui bahwa pada orang yang mengalami stres lebih sensitif ketika menghadapai suatu masalah, dan mereka ternyata dapat mengambil keputusan dengan baik.
Dari penelitian ini, diketahui bahwa ketika individu diharuskan untuk mengambil keputusan mereka harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini self efficacy, bahwa apa yang diputuskannya nanti merupakan keputusan final yang merupakan keputusan paling tepat diantara alternatif keputusan lainnya. Kadang orang menjadi tidak yakin dengan apa yang akan diputuskannya dikarenakan di dalam dirinya tidak ada kenyakinan bahwa ia mampu untuk menentukan keputusan yang akan diambil, namun keadaannya akan berbeda jika ia memiliki kenyakinan yang tinggi akan kemampuan yang dimilikinya, maka segala keputusan akan dengan mudah diambil tanpa harus meniru keputusan yang diambil oleh orang lain. Ini sesuai dengan pernyataan berikut bahwa perasaan optimis dalam kenyakinan kita akan memberikan hasil (Myers, 1999). Menurut penelitian yang dilakukan Gecas, 1989; Maddux, in press, Scheir dan Carver, 1992 (Myers, 1999) menyatakan bahwa orang dengan perasaan yang kuat tentang self efficacy akan lebih gigih, dan tingkat kecemasan serta depresinya rendah. Mereka juga hidup lebih sehat, lebih terfokus untuk terus hidup, dan lebih sukses secara akademik. Dari penelitian diketahui juga bahwa self efficacy yang kuat berkorelasi dengan keberhasilan, pengendalian, mengatasi masalah, dan hilangnya keraguan.
            Dalam kaitannya dengan penelitian ini, lebih menitikberatkan pada hubungan antara kenyakinan akan kemampuan akademis yang dimiliki dalam menentukan pilihan pada jurusan di SMU. Seorang siswa akan lebih merasa yakin untuk memilih suatu jurusan karena ia mampu dalam memahami pelajaran yang berhubungan dengan jurusan tersebut, bahwa banyaknya kesulitan yang dihadapi oleh siswa di sekolah bukan karena ketidakmampuan mereka untuk melakukan dengan berhasil baik tetapi karena ketidakmampuan mereka akan keyakinan bahwa mereka dapat melakukan dengan berhasil baik. Mereka telah belajar untuk melihat diri mereka seperti tidak mampu untuk menangani tugas akademik atau dengan memandang tugas sebagai penyimpangan akan pemahaman pada dunia mereka (Pajares, 2002). 
     Siswa kadang merasa tidak yakin dengan pilihan yang akan dibuat, dengan mengikuti kata teman, orangtua, atau guru yang bersangkutan. Kadang mereka memilih jurusan karena image dari jurusan tersebut, mereka takut dibilang sebagai anak buangan atau anak bodoh oleh lingkungannya dikarenakan pilihannya terhadap suatu jurusan yang sebenarnya mampu ia jalani (Daryanto dan Munawaroh, Kedaulatan Rakyat, 20 April 2004). 
    Sehubungan dengan itu serangkaian penelitian telah dilakukan, seperti penelitian Tuckman dan Sexton, 1990 ( Feldman, 1998); Locke dan Latham, 1990; serta McIntire dan Levine, 1991 (Spector, 1996) yang membuktikan bahwa siswa dengan self efficacy yang tinggi akan melakukan dengan baik setiap aktivitas di sekolah, sebenarnya dilakukan dengan lebih baik di luar dugaan mereka, dan dievaluasi oleh mereka secara positif. Ini membuktikan bahwa siswa dengan self efficacy yang tinggi dapat berprestasi dengan baik. Dan diharapkan para siswa dalam memilih jurusan akan melakukan hal yang sama, bahwa ia yakin dengan kemampuannya. 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: