Self Efficacy Berhubungan Dengan Perilaku Produktif Tuna Daksa

Hubungan Antara Self Efficacy Dengan Perilaku Produktif Pada Penyandang Tuna Daksa


Selama ini, penyandang cacat khususnya penyandang tuna daksa mengalami perlakuan diskriminatif dari masyarakat. Mereka beranggapan penyandang tuna daksa adalah orang-orang yang hanya dapat berpangku tangan. Keadaan tersebut membuat mereka untuk menjadi mandiri menjadi lebih berat. Selain keadaan psikologis mereka juga masih harus menyiasati keadaan akibat-akibat yang ditimbulkan dari kecacatan yang ada di dalam dirinya.
Seseorang dikatakan mengalami tuna daksa apabila menderita kekurangan yang sifatnya menetap pada alat gerak (tulang dan otot). Kecacatan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak, menggunakan lengan dan kakinya secara efektif serta bernafas secara bebas (Hardman, dalam Damayanti dan Rostiana, 2003).
Menurut Koentjoro (2000), bahwa pada dasarnya penderita tuna daksa umumnya memiliki rasa rasa percaya diri yang rendah dan hal itu semakin membuat adanya hambatan-hambatan interpersonal. Ditambahkan oleh Hill dan Monks (dalam Wrastari dan Handadari, 2003), bahwa penyimpangan-penyimpangan pada seseorang akan menimbulkan masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya. Oleh karena itu pada penyandang tuna daksa, dengan ketidaksempurnaan bagian tubuhnya akan menghambat perkembangan kepribadian yang sehat. Pendapat lain mengemukakan bahwa akibat dari kecacatan yang dialami, penyandang tuna daksa seringkali mengalami masalah, baik dari segi emosi, sosial, dan pekerjaan (Damayanti dan Rostiana, 2003). Sehingga dalam bekerja penyandang tuna daksa banyak yang mengalami ketidakyakinan, ketidakpercayaan diri, tergantung akan orang lain, dan menjadi tidak produktif.
Damayanti dan Rostiana (2003) mengatakan bahwa, salah satu faktor yang dipandang turut berperan dalam diri penyandang tuna daksa adalah self efficacy. Self efficacy merupakan faktor kunci untuk melihat bagaimana seseorang berupaya mengatasi atau menghadapi keadaan di atas. Individu dengan self efficacy yang tinggi akan terlihat optimis, percaya diri, dan berpandangan positif. Sebaliknya individu dengan self efficacy yang rendah akan terlihat pesimis, tidak percaya diri, dan dipenuhi perasaan khawatir. Dengan self efficacy yang tinggi, individu akan termotivasi untuk terus berusaha mengatasi masalah yang dihadapi.
Keyakinan penyandang tuna daksa terhadap kemampuan yang dimilikinya akan meningkatkan kemampuannya dalam bekerja. Dengan meningkatnya kemampuan akan dapat membuat penyandang tuna daksa untuk berbuat lebih baik dalam bekerja maupun pada kehidupan yang lain.
Self efficacy pada penyandang tuna daksa dapat ditingkatkan. Menurut Apriadi (2001), bahwa ada hubungan antara sikap terhadap program pelayanan rehabilitasi dan penyesuaian diri pada self efficacy remaja penyandang tuna daksa. Sehingga dengan pemberian pelatihan sebelum bekerja dapat meningkatkan self efficacy penyandang tuna daksa dalam bekerja.  Ditambahkan oleh Sumiatun (2002), bahwa kemampuan penyandang tuna daksa yang bekerja dapat ditingkatkan melalui program pelatihan, pendidikan, dan pengembangan.
Menurut Bandura (dalam Kharis, 2001), individu yang memiliki self efficacy umumnya lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan, tidak mudah menyerah, dan memiliki kepercayaan yang lebih tinggi untuk mengejar tantangan. Sedangkan menurut Muryanto (2004) dalam penelitiannya tentang efikasi diri dalam persaingan memperoleh pekerjaan pada alumni Universitas Islam Indonesia meyatakan bahwa keberhasilan dan efikasi diri juga memiliki keterkaitan yang timbal balik, artinya keberhasilan yang dicapai individu dalam setiap aktivitas ataupun tugas akan meningkatkan keyakinan terhadap kemampuan diri individu dalam melakukan aktivitas atau tugas tersebut sehingga tujuannya tercapai. Begitu pula sebaliknya, keyakinan terhadap kemampuan diri untuk melakukan aktivitas ataupun tugas untuk mencapai tujuan juga akan mempengaruhi individu untuk mencapai keberhasilan. Berdasarkan penelitian ini didapat bahwa self efficacy mempengaruhi keberhasilan individu dalam bekerja.
Menurut Bandura (1986), faktor yang dapat meningkatkan self efficacy antara lain: pengalaman keberhasilan atau prestasi, pengalaman orang lain, persuasi verbal, dan kondisi fisiologis dan perasaan. Ditambahkan oleh Suhariadi (2002), bahwa perilaku produktif efisien terbentuk dari semangat akan kepuasan dalam bekerja. Semangat akan kepuasan dalam bekerja ini ditunjang oleh keterlibatan dalam pekerjaan yang digeluti. Semakin orang terlibat dalam pekerjaan yang digeluti maka semakin orang akan berperilaku produktif. Untuk dapat membuat seseorang menjadi semakin terlibat akan pekerjaannya maka salah satunya dibutuhkan keyakinan yang kuat akan kemampuan yang dimiliki seseorang. Dengan demikian penyandang tuna daksa yang mempunyai self efficacy yang baik akan dapat meningkatkan perilaku produktif dalam bekerja dan dalam berbagai bidang kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: