Sikap Demokratis Berhubungan Dengan Kecenderungan Perilaku Agresif Remaja

Hubungan Antara Sikap Demokratis Dengan Kecenderungan Perilaku Agresif Pada Remaja


Masa depan Bangsa Indonesia akan sangat tergantung pada kualitas anak atau remaja yang sekarang ini sedang berjuang menuntut ilmu di jenjang sekolah, terutama remaja yang sudah duduk di tingkat SMU. Terlebih lagi dengan bangsa kita yang menganut sistem demokratis seharusnya sejak dini perlu ditanamkan suatu sikap demokratis. Dimana menurut Kausyar dkk (1999) sikap demokratis merupakan kecenderungan individu untuk merespon situasi-situasi sosial berdasarkan nilai-nilai demokratis seperti keterbukaan, keseimbangan, penghargaan terhadap hak dan kewajiban, tidak adanya penekanan dan pemaksaan, tidak berprasangka buruk, bertanggung jawab, permusyawaratan, kekeluargaan, kesadaran, toleransi, serta nilai persatuan dan kesatuan.
Apabila sikap demokratis tersebut dapat dilakukan oleh siapapun akan tercipta suatu individu yang sangat bertanggung jawab serta dapat mengaktualisasikan diri dengan baik, sesuai dengan pendapat Maslow (Koeswara, 1988) bahwa orang yang mempunyai self actualized memiliki karakter demokratis pada perilakunya  dalam menghadapi atau menyelesaikan suatu masalah.
Tetapi kebanyakan pada saat remaja mereka bertingkah laku sesuai kehendak hatinya sendiri, tidak memiliki kemampuan untuk menganalisa dan bersikap kritis terhadap segala macam realita hidup yang mereka hadapi. Remaja kehilangan logika dan penalaran yang obyektif dalam melihat permasalahan yang ada. Remaja sering melakukan adegan ejekan lalu ada balasan mengejek dan pada akhirnya bila salah satu tidak dapat menahan amarahnya maka mulai berupaya menyerang lawannya (As’ad, 2004).
      Remaja selalu menyalurkan emosi-emosinya, kekesalannya, kegembiraan, maupun keinginannya dengan meledak ledak sulit untuk dikendalikan. Emosi yang paling banyak ditampilkan remaja adalah marah, cemburu, iri, ingin tahu, dan gembira. Remaja akan menjadi marah apabila mereka merasakan kekecewaan, sakit fisik, penghinaan, ancaman, merasa dipermainkan, dikritik, diajari, apabila dirinya dan temannya diperlakukan secara tidak baik, dihukum oleh guru, orang tua ataupun orang lain, apabila haknya dirasakan ditolak, bila segala sesuatunya tidak berjalan semestinya, tidak mencapai apa yang seharusnya mereka capai, terganggu setiap kali sedang sibuk atau milik pribadinya diabaikan oleh orang tua sehingga sering perilaku yang ditunjukkan dalam menyalurkan emosinya adalah dengan ada perasaan ingin menyerang, memukul, melempar atau bahkan menghancurkan objek yang dipersepsi sebagai penyebab marahnya. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah kecenderungan berperilaku agresif dengan melakukan perkelahian, tawuran, mencuri, memfitnah, membolos, merampok, dan lain-lain.
Selanjutnya dengan adanya sikap demokratis diharapkan remaja akan memiliki sikap yang nasionalisme, bertanggung jawab, tidak berprasangka, saling menghargai bila terjadi perbedaan pendapat, tidak langsung memukul, mengkomunikasikan terlebih dahulu bila terjadi masalah sehingga tidak terjadi kecenderungan untuk berperilaku agresif seperti perkelahian yang berwujud tawuran, merampok, memfitnah, mencuri dan sebagainya. Tentunya dengan memiliki sikap demokratis dapat membuat seseorang berpikir panjang dalam melakukan tindakan yang melanggar norma sehingga kecenderungan untuk berperilaku agresif sedikit demi sedikit dapat dikikis dan dihilangkan dan mengurangi tindakan kekerasan yang merugikan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: